KUR BRI Menjaga Roda Usaha Helm Hendra Tetap Berputar

Perjalanan Hendra bersama BRI sebenarnya sudah dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 07:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Matahari siang menyengat kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Klakson motor, mobil, hingga truk bersahutan memecah hiruk pikuk lalu lintas di jalan utama arah Jonggol. Di kanan jalan, sebuah toko helm berdiri samping rumah makan Padang.

Di dalam toko, etalase dipenuhi aneka helm berwarna-warni. Hendra Africo (43) berdiri melayani pelanggan yang datang. Beberapa pengunjung berkeliling lebih dulu, mengamati model dan warna yang terpajang di rak-rak. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, seorang pelanggan akhirnya menjatuhkan pilihannya pada helm berwarna cokelat yang tergantung di bagian depan toko.

Usaha yang dijalankan Hendra tak lepas dari dukungan pembiayaan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), dia memperoleh tambahan modal untuk memperkuat stok barang dagangan sekaligus menunjang operasional usaha.

Perjalanan Hendra bersama BRI sebenarnya sudah dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada 2011, dia pertama kali mengajukan pinjaman sebesar Rp 50 juta. Setelah pinjaman tersebut lunas, dia sempat beralih ke bank lain untuk memenuhi kebutuhan pembelian rumah.

Namun, pada 2024, Hendra kembali mempercayakan kebutuhan modal usahanya kepada BRI. Dia kembali memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp 50 juta dengan tenor tiga tahun.

Sebagian besar dana pinjaman tersebut digunakan untuk menambah stok helm dan perlengkapan berkendara yang dijual di tokonya. Selain itu, sebagian dana juga dimanfaatkan untuk membeli satu unit sepeda motor guna menunjang aktivitas usaha sehari-hari.

“Sebagian besar (pinjaman KUR BRI) untuk nambah stok dagangan,” kata Hendra saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya, Selasa (16/6/2026).

Tambahan modal itu membuat Hendra memiliki ruang lebih besar untuk menyediakan pilihan produk yang beragam bagi pelanggan.

Pinjaman KUR BRI juga membantu Hendra menjaga usahanya tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih. Namun, Hendra mengakui tantangan berusaha saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Dahulu hasil penjualan bisa langsung diputar kembali untuk membeli stok baru, kini keuntungan yang diperoleh sering kali habis untuk menutup berbagai kebutuhan operasional.

“Kalau sekarang makin susah. Kadang jual satu helm, hasilnya habis buat biaya. Belum tentu bisa langsung belanja barang lagi,” ujarnya.

Bisa Sekolahkan Anak Meski Omzet Turun

Menurut Hendra, masa sebelum pandemi Covid-19 menjadi periode terbaik bagi usahanya. Saat itu, omzet bulanan toko helm yang dikelolanya bisa mencapai sedikitnya Rp 30 juta per bulan. Penghasilan tersebut membuat perputaran usaha berjalan lebih lancar tanpa harus terlalu bergantung pada tambahan modal.

Namun setelah pandemi, daya beli masyarakat menurun dan penjualan ikut terdampak. Kini, untuk mencapai omzet Rp 10 juta per bulan saja tidak selalu mudah.

“Sekarang Rp 10 juta saja susah,” katanya.

Berbagai upaya sempat dilakukan untuk menambah sumber pendapatan. Hendra pernah mencoba menjual minuman dan makanan, tetapi usaha tersebut tidak berkembang sesuai harapan.

“Sudah coba macam-macam, tapi belum jalan,” ujarnya.

Dampak pandemi juga terasa pada kondisi aset yang dimilikinya. Hendra mengaku harus menjual rumah dan mobil untuk bertahan di masa-masa sulit. Meski begitu, dia masih bersyukur karena memiliki tanah untuk membangun rumah sendiri, sebagian berasal dari hasil usaha yang dijalankannya selama bertahun-tahun.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu hal yang membuat Hendra terus bertahan. Usaha toko helm ini telah menjadi penopang utama kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Hendra memiliki tiga orang anak. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas dua SMK, sementara anak bungsunya masih berusia sekitar empat tahun. Seluruh kebutuhan pendidikan mereka ditopang dari hasil usaha yang dijalankannya.

“Iya, semuanya dari usaha ini,” katanya.

Ke depan, Hendra masih menyimpan banyak rencana untuk mengembangkan usahanya. Salah satunya mencoba memproduksi jajanan murah untuk anak-anak. Namun keterbatasan modal membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan.

“Kalau ditanya maunya banyak, cuma modalnya belum ada,” ujarnya sambil tersenyum.

Sempat Buka Cabang

Sebelum pandemi Covid-19 menghantam Indonesia, usaha helm yang dijalankan Hendra sempat berada di masa kejayaan. Perputaran uang berlangsung cepat, penjualan relatif stabil, dan pembayaran angsuran pinjaman pun terasa lebih ringan dibandingkan sekarang.

“Dulu enak bayarnya, karena perputaran usahanya cepat,” ujarnya.

Kondisi usaha yang cukup baik saat itu bahkan membuat Hendra berani melakukan ekspansi. Dengan memanfaatkan keuntungan yang diperoleh dari usaha, dia membuka cabang toko helm di kawasan Limus. Setelah cabang tersebut berjalan, dia kembali mencoba membuka toko di wilayah Pangkalan 12.

Menariknya, pengembangan usaha tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada pinjaman. Hendra mengaku sebagian besar modal pembukaan cabang berasal dari hasil perputaran usaha yang telah dijalankannya.

Saat mengelola dua toko sekaligus, Hendra sempat mempekerjakan dua orang karyawan. Satu karyawan bertugas menjaga toko, lainnya melayani pelanggan. Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama.

Seiring perubahan situasi ekonomi dan menurunnya penjualan, Hendra akhirnya memilih menutup cabang-cabang tersebut dan kembali fokus mengelola satu toko yang kini masih bertahan di Cileungsi.

Saat ini, seluruh aktivitas usaha ditanganinya sendiri tanpa bantuan karyawan. Mulai dari melayani pembeli, mengatur stok barang, hingga mengurus kebutuhan operasional toko sehari-hari.

“Sekarang sendiri saja yang jalanin,” ujarnya.

Lokasi Toko Hendra Strategis, Mudah Dijangkau

Hendra telah melayani banyak pelanggan sejak membuka toko helmnya di Cileungsi. Salah satunya adalah Ria (34), yang datang berbelanja pada Agustus 2024. Saat itu, Ria baru saja membeli sepeda motor bersama suaminya.

Namun, dari dealer mereka hanya mendapatkan satu helm. Sementara Ria dan putranya yang berusia lima tahun belum memiliki helm yang nyaman dan layak digunakan untuk berkendara.

Dalam perjalanan dari Klapanunggal menuju Cileungsi, Ria melihat toko helm milik Hendra di pinggir jalan. Lokasinya yang mudah terlihat membuatnya spontan mengajak sang suami untuk singgah.

“Kebetulan lewat dari arah Gandoang ke Cileungsi. Pas lihat tokonya, saya bilang ke suami, beli helm di sini saja,” ujarnya.

Setelah melihat-lihat berbagai pilihan yang tersedia, Ria akhirnya membeli dua helm sekaligus, masing-masing untuk dirinya dan sang anak. Menurutnya, kualitas helm yang dijual cukup baik dengan harga yang masih terjangkau.

“Kalau dibandingkan, harganya masih bersaing dengan yang dijual di toko online,” katanya.

Hingga kini, helm yang dibelinya masih digunakan sehari-hari. Selain kualitas produk, Ria juga menilai toko Hendra memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan berbelanja. Penataan barang yang rapi membuat pelanggan lebih mudah melihat pilihan helm yang tersedia.

“Toko juga rapi, helmnya disusun bagus jadi gampang lihat-lihat,” ujarnya.

Lokasi toko yang berada tepat di tepi jalan utama Jonggol-Cileungsi juga menjadi nilai tambah tersendiri. Menurut Ria, pengendara yang sedang membutuhkan helm bisa langsung berhenti dan membeli tanpa harus mencari toko lebih jauh.

“Strategis karena di pinggir jalan. Orang yang lewat dan butuh helm bisa langsung mampir,” katanya.

BRI Dorong UMKM Naik Kelas Lewat KUR

Kepala BRI Unit Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, pelaku usaha mikro dan kecil di wilayahnya masih menjadikan KUR sebagai pilihan utama untuk memperoleh tambahan modal. Dibandingkan kredit komersial, KUR dinilai lebih terjangkau karena didukung subsidi bunga dari pemerintah serta memiliki persyaratan agunan yang lebih ringan.

Menurut Luki, aktivitas ekonomi di Cileungsi ditopang oleh sektor perdagangan dan usaha jasa, termasuk bisnis kontrakan yang berkembang seiring pesatnya pertumbuhan kawasan industri di sekitarnya. Kehadiran sejumlah pabrik mendorong kebutuhan tempat tinggal, konsumsi, dan berbagai usaha pendukung lainnya.

Meski peluang usaha masih terbuka, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku UMKM. Sejumlah usaha yang sebelumnya berkembang pesat kini menghadapi perlambatan penjualan, sehingga memengaruhi kemampuan mereka dalam mengelola arus kas dan memenuhi kewajiban kredit.

Namun demikian, minat masyarakat terhadap pembiayaan usaha tetap terjaga. Luki menyebut jumlah debitur aktif BRI Unit Cileungsi saat ini berada di kisaran 4.800 hingga 5.000 nasabah, dengan penambahan debitur baru yang terus berlangsung setiap bulannya.

“Nasabah baru tetap ada peningkatan,” ujarnya.

Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari peran petugas pemasaran kredit atau mantri yang aktif menjangkau pelaku usaha di lapangan. Saat ini, BRI Unit Cileungsi memiliki delapan mantri yang secara rutin melakukan pendampingan dan pengembangan nasabah. Setiap mantri rata-rata mampu menghadirkan lima hingga tujuh debitur baru setiap bulan.

Bagi BRI, pembiayaan tidak berhenti saat dana dicairkan. Pendampingan kepada nasabah menjadi bagian penting agar modal yang diterima dapat dimanfaatkan secara produktif dan mendorong perkembangan usaha. Monitoring dilakukan secara berkala, mulai dari satu hingga tiga bulan setelah pencairan kredit.

“Bukan hanya memberikan modal, tetapi juga memastikan usaha mereka terus berkembang,” kata Luki.

Melalui pendekatan tersebut, BRI berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan kapasitas usahanya. Ke depan, penguatan sektor UMKM tetap menjadi fokus utama, baik melalui penyaluran KUR maupun skema pembiayaan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha nasabah.