Pramono Anung Punya Cara Kurangi Sampah ke Bantargebang

Program pemilahan sampah akan diperluas ke pasar lain serta sektor hotel, restoran, dan kafe, dengan dukungan penerapan hingga tingkat RT/RW.

Diterbitkan 11 Mei 2026, 12:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo optimistis beban pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dapat berkurang, di mana salah satunya melalui sistem pengolahan sampah di pasar.

Adapun sistem pengolahan sampah organik ini akan diterapkan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, dengan kapasitas pengolahan sekitar lima ton sampah per hari.

"Saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan, maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah dari pasar ke Bantargebang," kata Pramono di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Timur, Senin (11/5/2026).

Menurut dia, Pasar Jaya saat ini mengelola 153 pasar dengan produksi sampah sekitar 500 ton per hari yang dikirim ke TPST Bantargebang. Melalui pengolahan sampah tersebut, Pramono meyakini beban pengiriman ke Bantargebang dapat berkurang.

Terlebih, kata dia, sistem tersebut juga akan diterapkan di pasar-pasar yang bukan dikelola oleh Pasar Jaya.

Seperti dilansir dari Antara, selain pasar di seluruh Jakarta, sistem pengolahan sampah serupa nantinya diterapkan di sektor hotel, restoran, dan kafe yang juga berkontribusi besar dalam pengiriman sampah ke TPST Bantargebang.

"Mudah-mudahan akan berjalan dengan baik dan bisa mengatasi persoalan sampah yang akan membawa manfaat lebih green, karena bisa sebagai fertilizer dari yang organik," jelas Pramono.

 

 

 

Bakal Secara Masif

Pramono menegaskan gerakan pemilahan sampah itu segera diimplementasikan secara masif di Jakarta.

Dia mengaku telah menginstruksikan jajaran wali kota, camat, lurah, hingga tingkat RT/RW untuk mulai menerapkan gerakan tersebut.

Secara bertahap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang dibutuhkan warga.

"Secara perlahan, tentunya sarana prasarananya juga akan kami persiapkan. Tetapi yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan, tidak boleh berhenti, karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta," ucap Pramono.Â