Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ramainya bazar UMKM pada Auditorium Setda Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Agus Murtini (58) nyaris tak punya waktu untuk beristirahat. Pembeli silih berganti menghampiri lapak susu kedelai miliknya, Soya Ayu.
Sebagian besar pembeli langsung mengarahkan ponsel ke kode QRIS BRI yang terpajang di meja. Beberapa detik kemudian, notifikasi 'pembayaran berhasil' terdengar bersahutan.
QRIS BRI telah menjadi bagian dari perjalanan usaha Murtini sejak 2024. Bertepatan dengan saat dia mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sejak saat itu, transaksi digital semakin melekat dalam aktivitas bisnisnya.
Advertisement
Pemanfaatan QRIS tak hanya terasa saat mengikuti bazar. Di rumahnya, yang berada pada Kecamatan Ciampea, pembayaran digital juga menjadi pilihan utama para pembeli susu kedelai buatannya.
"Banyak yang lebih praktis pakai QRIS. Tinggal scan, langsung selesai," ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat, 26 Juni 2026.
Meski baru memiliki satu kode QRIS yang digunakan saat bazar maupun di tempat usahanya, Murtini mengaku layanan tersebut sangat membantu kelancaran transaksi. Bahkan untuk pembelian dalam jumlah besar dari mitra, pembayaran tetap dilakukan melalui layanan perbankan BRI sehingga seluruh transaksi usahanya tercatat dengan rapi.
Tak Repot Cari Kembalian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8577482/original/047188100_1782535408-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_07.42.42.jpeg)
Selain proses berjualan jauh lebih praktis, menurut Murtini, QRIS BRI membuat dirinya tak lagi direpotkan dengan urusan mencari uang kembalian di tengah ramainya pembeli.
Dulu, ketika ada pelanggan membayar tunai dengan uang Rp 100 ribu untuk belanja Rp 30 ribu, Murtini harus buru-buru mencari kembalian Rp 70 ribu. Dia kerap membongkar dompet, memilah lembaran Rp 50 ribu, lalu mencari dua lembar Rp 10 ribu atau pecahan lain yang pas. Proses itu sering menyita waktu, apalagi ketika antrean pembeli mulai mengular.
Kini, semua itu nyaris tak lagi dia alami. Pembeli cukup memindai kode QRIS, pembayaran langsung beres. Tak ada lagi kerepotan menghitung uang atau menyiapkan berbagai pecahan untuk kembalian.
Menurutnya, pembayaran digital juga membuat aktivitas berjualan terasa lebih higienis. Tangannya tak lagi terus-menerus berpindah dari memegang makanan atau minuman ke lembaran uang yang berpindah tangan dari banyak orang.
Kemudahan lain yang paling dia rasakan adalah pencatatan keuangan. Setiap transaksi yang dibayar melalui QRIS BRI langsung tercatat di BRImo sehingga dia bisa memantau seluruh pemasukan dengan mudah.
"Kalau mau lihat hasil penjualan, tinggal buka BRImo. Semua transaksi sudah tercatat, jadi lebih rapi," ujarnya.
Advertisement
Ikut Zaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8405796/original/074221500_1782288454-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.51.46.jpeg)
Tak hanya Murtini, Fauzan (25) juga mengandalkan QRIS BRI dalam menjalankan usaha furniturnya di Pasir Angin, Cileungsi, Bogor. Fauzan menceritakan, awalnya dia tidak memikirkan metode pembayaran non-tunai. Namun, banyak pembeli yang datang menanyakan apakah tokonya sudah menyediakan layanan QRIS.
“Orang belanja pada nanyain QRIS. Saya coba ikutin zaman saja, akhirnya bikin QRIS,” ujarnya.
Fauzan mengajukan pembuatan QRIS melalui kantor BRI terdekat di kawasan Metland Cileungsi. Prosesnya tidak memakan waktu lama. Dalam hitungan beberapa hari, QRIS sudah bisa digunakan untuk melayani transaksi pelanggan.
Keputusan tersebut ternyata membawa perubahan di usaha Fauzan. Sebelumnya transaksi didominasi uang tunai, kini sebagian besar pelanggan justru lebih memilih membayar menggunakan QRIS.
Menurut Fauzan, pembayaran digital memberikan kemudahan baik bagi pelanggan maupun pelaku usaha. Pembeli tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar, sementara transaksi dapat dilakukan hanya dengan menggunakan telepon genggam.
“Lebih simpel. Nggak perlu bawa cash, pakai HP juga sudah bisa,” katanya.
Kemudahan itu juga dirasakan saat mengelola keuangan usaha. Setiap transaksi yang masuk tercatat secara otomatis sehingga lebih mudah dipantau dibandingkan pembayaran tunai yang terkadang luput dari pencatatan.
“Menurut saya QRIS penting banget. Sekarang orang kadang keluar lupa bawa dompet, tapi pasti bawa HP,” tuturnya.
Omzet Meningkat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8405766/original/054397000_1782288431-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.51.47.jpeg)
Penggunaan QRIS juga berdampak pada perkembangan usaha Fauzan. Setelah memakai QRIS, pemasukan usahanya ikut mengalami peningkatan. Dalam kondisi ramai, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp 20 juta per bulan.
“Kalau lagi ramai bisa sampai Rp 20 juta,” ujarnya.
Angka tersebut merupakan omzet kotor. Setelah dikurangi biaya produksi dan kebutuhan operasional lainnya, pendapatan bersih yang diterima berada di kisaran Rp 10 juta per bulan.
Meski begitu, pendapatan usaha furnitur tidak selalu stabil. Besarnya omzet sangat bergantung pada jumlah pesanan yang masuk. Saat permintaan sedang menurun, omzet bulanan bisa turun cukup signifikan.
“Kalau lagi sepi banget, kadang cuma sekitar Rp 5 juta,” kata Fauzan.
Advertisement
QRIS Percepat Transaksi UMKM
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535469/original/004594100_1774015488-IMG_0283.jpeg)
Kepala BRI Unit Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, QRIS kini melekat dalam skema pembiayaan UMKM, terutama untuk usaha perdagangan seperti warung, toko, dan kuliner. Sementara untuk usaha tertentu seperti kontrakan, penggunaan QRIS masih bersifat situasional.
“Setiap nasabah yang realisasi pinjaman sekarang langsung dibikinkan QRIS. Dua sampai tiga hari setelah cair sudah aktif di tempat usaha,” kata Luki.
Langkah ini dilakukan seiring perubahan pola transaksi masyarakat yang semakin jarang menggunakan uang tunai. Konsumen kini lebih sering mengandalkan ponsel untuk pembayaran, sehingga pelaku usaha dituntut menyesuaikan diri.
“Sekarang orang ke mana-mana jarang bawa cash, lebih sering bawa handphone. Biasanya langsung tanya ada QRIS atau tidak,” ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, QRIS tidak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga menjaga potensi penjualan tetap berjalan. Konsumen yang tidak membawa uang tunai masih bisa tetap bertransaksi tanpa harus membatalkan pembelian.
“Kalau ada QRIS, orang jadi tetap bisa belanja walaupun nggak bawa uang tunai,” kata Luki.
Dari sisi operasional, QRIS juga membantu pelaku usaha mengurangi risiko uang palsu dan mempermudah pencatatan keuangan. Transaksi tercatat otomatis melalui aplikasi tanpa perlu pembukuan manual.
“Pelaku usaha tinggal lihat transaksi yang masuk lewat aplikasi,” ujarnya.
Namun, implementasi di lapangan tidak selalu mulus. Sejumlah pelaku usaha masih mengalami kebingungan terkait sistem pencairan dana yang tidak langsung masuk ke rekening, melainkan melalui sistem batch settlement.
“Mereka sering bingung karena transaksi sudah masuk, tapi uangnya belum langsung ada di rekening,” kata Luki.
Selain itu, ada juga kendala teknis seperti penggunaan QRIS ganda dari bank berbeda dengan nama usaha yang sama, hingga keterbatasan perangkat digital di kalangan pelaku usaha yang lebih senior.
Meski begitu, BRI menilai adopsi QRIS di Cileungsi berjalan cukup baik. Hingga April 2026, target penggunaan QRIS di wilayah tersebut disebut telah tercapai, seiring meningkatnya integrasi layanan digital dalam pembiayaan UMKM.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8577450/original/052058300_1782535375-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_07.42.43.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)