Liputan6.com, Jakarta - Anita (47) sibuk menata produk-produknya di atas meja bazar yang berjejer di koridor FEMA IPB University, pada Rabu (13/5/2026). Kemasan keripik kulit ikan tersusun rapi di bagian depan, sementara basreng ikan patin memenuhi sisi lain meja.
Tak lama, pembeli mulai berdatangan. Satu per satu pengunjung berhenti. Mereka mengamati produk yang dipajang lalu bertanya soal rasa hingga bahan baku. Mereka kemudian memilih camilan yang ingin dibawa pulang. Suasana bazar terasa ramai, dipenuhi mahasiswa, dosen, hingga pengunjung lainnya.
Sebagian besar transaksi berlangsung tanpa uang tunai. Setelah menentukan pilihan, para pembeli mengarahkan kamera ponsel ke QRIS BRI yang terpajang di meja. Dalam hitungan detik, pembayaran selesai, dan notifikasi transaksi langsung masuk ke ponsel Anita.
Advertisement
"Kalau kondisi di bazar-bazar seperti saat ini udah pasti mereka tuh pembayaran pakai cashless ya," ujar Anita kepada Liputan6.com.
Penggunaan QRIS BRI bukan hal baru bagi Anita. Dia mengenalnya sejak 2023. Saat mulai mengembangkan usaha optik dan membuka PT Perseorangan. Saat itu, dia membutuhkan pembayaran digital, terutama saat mengikuti bazar.
Kini, QRIS BRI tidak hanya Anita gunakan di bazar keripik kulit dan basreng ikan patin, tetapi juga di usahanya yang lain, yakni Optik. Menurutnya, pembayaran digital sangat membantu, terutama di lingkungan pelanggan yang sudah terbiasa dengan transaksi non-tunai.
“Sekarang kan orang-orang sudah jarang pakai uang tunai, apalagi kalangan mahasiswa,” kata Anita.
Dalam beberapa kondisi, QRIS menjadi penyelamat transaksi. Jika pembeli tidak membawa uang tunai, Anita kerap meminjam QRIS teman agar transaksi tetap bisa dilakukan.
"Daripada nggak jadi beli kan,” ujarnya sambil tersenyum.
Anita mengakui kehadiran QRIS memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan usahanya. Sistem pembayaran digital tersebut memudahkan pelanggan bertransaksi sehingga berpengaruh pada penjualan.
Perjalanan Usaha Anita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8404610/original/048067100_1782287145-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.36.21.jpeg)
Perjalanan Anita di dunia usaha bermula jauh sebelum dirinya dikenal sebagai pelaku UMKM. Latar belakang pendidikannya dan pengalaman bekerja membawanya lebih dulu terjun ke bidang optik.
Dia sempat bekerja di Telkom sebelum akhirnya beralih ke dunia optik. Untuk mendukung profesinya, Anita melanjutkan pendidikan di bidang Refraksi Optisi (RO), salah satu syarat utama untuk menjalankan usaha optik secara profesional. Dari sana, usaha optik menjadi bisnis utamanya dan terus berjalan hingga sekarang.
Namun, babak baru perjalanan usahanya justru terjadi saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika aktivitas masyarakat dibatasi, usaha optik yang selama ini menjadi andalannya ikut terdampak. Di tengah kondisi tersebut, Anita berkenalan dengan Forum UMKM Kecamatan Ciampea, Bogor dan mendapat tawaran untuk bergabung dalam koperasi UMKM.
Awalnya, Anita dipercaya menjadi sekretaris koperasi. Posisi itu membuatnya terdorong untuk memahami lebih dalam dunia UMKM, mulai dari proses produksi, legalitas usaha, hingga strategi pemasaran.
“Saya merasa harus benar-benar memahami UMKM. Akhirnya saya memutuskan membuat produk sendiri supaya tahu prosesnya dari awal,” ceritanya.
Dari situlah lahir produk pertamanya, Sambal Cumi Tongkol Sabian Kuliner. Untuk mengembangkan usaha tersebut, Anita aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM. Berbagai pembinaan yang diikutinya membuahkan hasil. Produk sambalnya mulai dikenal luas dan bahkan masuk dalam jajaran produk unggulan Kabupaten Bogor.
Perkembangan usaha itu membawanya menjadi binaan berbagai lembaga, termasuk PT Angkasa Pura dan Dinas Perikanan. Namun, Anita menghadapi tantangan baru saat ingin memperluas pasar ke ritel modern. Produk sambal yang dibuat tanpa bahan pengawet memiliki masa simpan yang terbatas sehingga sulit memenuhi persyaratan pasar modern.
Tantangan tersebut justru membuka peluang baru. Melalui pendampingan Dinas Perikanan, Anita didorong untuk mengembangkan produk olahan ikan yang lebih tahan lama.
Dia kemudian membentuk kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan yang beranggotakan ibu-ibu pelaku usaha di desanya. Kelompok itu diberi nama Bosarmi, singkatan dari Bojong Rangkas Sari Mandiri.
Setelah mempertimbangkan potensi daerah, mereka memilih ikan patin sebagai bahan baku utama. Ketersediaan ikan patin yang melimpah di wilayahnya menjadi alasan utama pilihan tersebut.
Melalui kelompok itu lahirlah berbagai produk dengan merek Patinesia. Tidak hanya mengolah ikan patin menjadi makanan basah seperti dimsum, pempek, dan brownies, mereka juga mengembangkan produk kering seperti keripik kulit ikan patin dan basreng ikan patin.
Upaya tersebut kembali membuahkan hasil. Produk keripik ikan patin berhasil menjadi salah satu produk unggulan yang mendapat perhatian berbagai pihak. Dukungan pun datang dalam bentuk bantuan peralatan produksi yang membantu pengembangan usaha kelompok.
Menariknya, seluruh lini usaha yang dirintis Anita masih bertahan hingga kini. Usaha optik tetap berjalan, begitu pula produk-produk UMKM yang dikembangkannya bersama kelompok.
Menurut Anita, kedua bidang usaha itu saling melengkapi. Saat mengikuti bazar, misalnya, dia kerap membuka dua stan sekaligus, yakni untuk usaha optik dan produk UMKM.
Aktivitasnya di dunia usaha juga semakin luas. Selain aktif di berbagai koperasi, Anita kini dipercaya mengemban sejumlah peran organisasi, termasuk di lingkungan Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Bogor. Tak hanya itu, dia juga mendapat amanah untuk mengelola pengembangan Desa Wisata Bojong Rangkas.
Advertisement
Gerakkan Ekonomi Lewat Desa Brilian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8404612/original/065231400_1782287145-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.28.47__1_.jpeg)
Peran Anita dalam pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pengembangan usaha pribadi dan UMKM. Sejak 2025, dia juga terlibat dalam pengelolaan Desa Brilian di Desa Bojong Rangkas, Ciampea.
Program tersebut bermula ketika tim BRI melihat potensi yang dimiliki Desa Bojong Rangkas. Saat itu, desa sedang mengikuti Festival Desa Wisata dan menampilkan berbagai potensi unggulan melalui sejumlah materi promosi. Dari situ, BRI menawarkan kesempatan bagi Bojong Rangkas untuk bergabung dalam program Desa Brilian.
Menurut Anita, prosesnya tidak berlangsung secara instan. Sebelum bergabung, desa terlebih dahulu melalui tahapan kurasi dan penilaian terhadap berbagai aspek, mulai dari potensi alam, sumber daya manusia, hingga aktivitas ekonomi yang berkembang di masyarakat.
“Waktu itu mereka melihat potensi desa kami, mulai dari kegiatan masyarakat, potensi alam, sampai sumber daya yang ada. Setelah itu kami ditawari untuk ikut program Desa Brilian,” ujarnya.
Saat ini Anita dipercaya sebagai pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertanggung jawab mengelola sektor desa wisata. Bojong Rangkas sendiri memiliki beragam potensi yang menjadi kekuatan utama dalam program Desa Brilian.
Di sektor UMKM, terdapat produk olahan ikan patin yang telah berkembang menjadi produk unggulan. Selain itu, ada pula industri tas, usaha bakery, hingga program ketahanan pangan yang dijalankan masyarakat.
Potensi tersebut dipadukan dengan wisata alam yang dimiliki desa, termasuk kawasan Gunung Kapur yang menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.
“Semua potensi itu kami kemas menjadi paket wisata desa, jadi wisatawan tidak hanya datang menikmati alam, tetapi juga bisa mengenal produk UMKM dan aktivitas masyarakat,” kata Anita.
Pengembangan desa wisata juga didukung kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga instansi pemerintah. Berbagai pelatihan dan pendampingan terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi desa.
Selama mengikuti program Desa Brilian, pengelola desa mendapatkan beragam pembinaan, baik secara daring maupun luring. Selain pelatihan, tim pendamping juga beberapa kali melakukan kunjungan dan survei langsung ke lapangan untuk melihat perkembangan program.
Menurut Anita, keberadaan UMKM memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Karena itu, pihaknya terus mengajak warga yang memiliki minat dan potensi usaha untuk ikut terlibat.
Berbagai sektor usaha yang sudah berkembang di masyarakat, seperti industri tas dan peternakan ayam petelur, terus didorong agar dapat tumbuh bersama dalam ekosistem desa wisata.
Dampaknya mulai dirasakan masyarakat. Selain membuka peluang peningkatan pendapatan dari usaha masing-masing, kunjungan wisata juga menciptakan permintaan terhadap berbagai produk lokal, termasuk kebutuhan suvenir dan paket oleh-oleh bagi pengunjung.
“Kalau ada kunjungan wisata, produk-produk warga juga bisa ikut terjual. Bahkan bisa dibuat paket suvenir atau goodie bag,” ujarnya.
Sefira Berdaya Lewat Usaha Anita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8404614/original/073415300_1782287145-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.28.48.jpeg)
Sabian Kuliner milik Anita membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Salah satu yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan usaha tersebut adalah Sefira, 24 tahun, yang sudah bergabung sejak 2015.
Hampir 11 tahun bekerja di Sabian Kuliner, Sefira merasakan banyak perubahan dalam hidupnya, terutama kemandirian ekonomi. Di usaha tersebut, dia bertugas di bagian pemasaran digital, termasuk mengelola WhatsApp admin untuk melayani pelanggan dan membantu promosi produk.
Lebih dari sekadar pekerjaan, pengalaman di Sabian Kuliner juga menjadi pintu bagi Sefira untuk mulai merintis usaha sendiri. Dari penghasilan yang dikumpulkan selama bekerja, dia kemudian mengembangkan usaha kerajinan tangan atau craft.
“Alhamdulillah jadi bisa punya usaha sendiri juga dari hasil kerja di sini,” katanya.
Usaha tersebut dia jalankan secara fleksibel, menyesuaikan waktu dengan pekerjaan utamanya. Jika ada pesanan, dia akan membuat kerajinan sesuai permintaan tanpa harus mengganggu aktivitas di Sabian Kuliner.
Menurutnya, salah satu alasan dia bisa bertahan hingga lebih dari satu dekade di Sabian Kuliner adalah suasana kerja yang nyaman dan kekeluargaan. Sistem kerja yang tidak terlalu berat juga membuatnya tetap bisa menjalankan peran di rumah.
“Di sini seperti keluarga, dan pekerjaannya juga masih bisa diatur, jadi saya tetap bisa sambil ngurus anak,” ujarnya.
Advertisement
QRIS Dorong Lonjakan Transaksi BRI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6679680/original/028593900_1779502467-a244a9ec-0826-497c-a2b0-51b74de8eed1.jpeg)
Tren pembayaran digital semakin digemari masyarakat, terutama generasi muda dan pelaku UMKM. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat, sepanjang semester I 2025, volume transaksi merchant yang menggunakan layanan BRI melonjak hingga Rp 105,5 triliun, naik 27,2% dibanding periode sama tahun lalu.
Tidak hanya itu, rata-rata penjualan per merchant juga ikut melesat 62,5% YoY. Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menegaskan bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan misi BRI dalam memperkuat peran UMKM di era digital.
“Hal ini sejalan dengan misi BRI untuk memberdayakan UMKM melalui akses keuangan yang lebih mudah, aman, dan efisien,” kata Aquarius.
Salah satu faktor pendorong lonjakan transaksi digital BRI adalah pemakaian QRIS. Nilai transaksi QRIS naik 142,9% YoY, sementara rata-rata transaksi per toko tumbuh 141,5% YoY. Dari sisi jumlah transaksi, lonjakannya bahkan mencapai 162,5% YoY.
“QRIS telah menjadi salah satu instrumen utama bagi masyarakat dan merchant dalam bertransaksi digital. Lonjakan penggunaan QRIS di BRI tidak hanya memperluas akses pembayaran non-tunai, tetapi juga mendukung efisiensi ekonomi secara menyeluruh,” jelas Aquarius.
Menurut Aquarius, BRI akan terus mendorong pertumbuhan transaksi digital dengan menghadirkan ekosistem yang makin luas. Mulai dari menambah merchant produktif, inovasi pembayaran baru, hingga literasi keuangan digital bagi masyarakat.
“Dengan strategi tersebut, BRI optimistis dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi nasabah, pelaku usaha, dan perekonomian nasional secara berkelanjutan,” ujarnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575337/original/085582000_1778045275-cek_fakta_-_alat_pertanian_dan_bibit_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7812129/original/049676700_1780629323-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-05T101248.112.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8404609/original/028371100_1782287145-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_14.28.47.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393441/original/064092700_1782273896-IMG-20260624-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393442/original/070756800_1782273896-IMG-20260624-WA0014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257368/original/081366600_1781236868-000_B6U83U4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262589/original/038165100_1781838673-AP26170082180731-Meksiko_vs_Korsel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258678/original/086617800_1781400963-000_B6Z32RM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8391143/original/089751400_1782271521-AP26174796770030.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8390580/original/090297700_1782270828-AP26174743606446.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8377926/original/005752900_1782255969-inggris.jpg)