Perintah Terakhir untuk Masinis KA Argo Anggrek Sebelum Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur

Proses pengereman ini dilakukan dari jarak 1,3 kilometer sebelum lokasi kejadian, menunjukkan upaya untuk mencegah kecelakaan.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 17:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan perintah terakhir yang disampaikan untuk masinis KA Argo Bromo Anggrek sebelum terjadinya kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono menjelaskan  upaya yang dilakukan oleh masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek untuk menghindari terjadinya kecelakaan dengan KRL Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada hari Senin, 27 April 2026. Diketahui bahwa masinis KA Argo Anggrek telah berusaha keras untuk menghentikan laju kereta sebelum insiden tersebut terjadi.

Soerjanto Tjahjono, menyatakan masinis KA Argo Anggrek mulai melakukan pengereman sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Proses pengereman ini dilakukan dari jarak 1,3 kilometer sebelum lokasi kejadian, menunjukkan upaya untuk mencegah kecelakaan.

"Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan," ungkap Soerjanto dalam rapat dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026). Pernyataan ini menegaskan keseriusan masinis dalam menjaga keselamatan selama perjalanan.

Soerjanto juga menjelaskan bahwa pengereman dilakukan setelah masinis menerima informasi dari pengendali jalur yang bertugas antara Manggarai dan Cikampek. Dia menekankan pengereman tersebut dilakukan dengan hati-hati, mempertimbangkan keselamatan rangkaian kereta yang sedang dioperasikan.

"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta yang dioperasikannya," tambahnya.

 

Instruksi untuk Masinir KA Argo Anggrek

Soerjanto menjelaskan, untuk memastikan kereta dapat berhenti dengan aman, diperlukan jarak antara 900 hingga 1.000 meter saat menggunakan rem secara maksimal. Namun, pada saat kejadian, masinis kereta Argo Anggrek tidak melakukan pengereman secara maksimal karena menerima instruksi untuk melakukan pengereman secara bertahap.

Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan. Selain itu, masinis juga diinstruksikan untuk membunyikan klakson.

“Karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” jelasnya.

Instruksi tersebut menunjukkan adanya prosedur yang harus diikuti oleh masinis dalam situasi tertentu, meskipun hal ini dapat berpengaruh pada jarak berhenti kereta. Dengan adanya komunikasi dari pusat kendali, masinis diharapkan dapat menjaga keselamatan semua penumpang dan mencegah terjadinya kecelakaan.