Pesan Puan Maharani untuk Pemuda Gereja: Perjuangkan Keadilan

Pemuda kekuatan penting dalam pembaruan sosial karena memiliki pengalaman sejarah yang berbeda sehingga memungkinkan mereka menghadirkan cara pandang baru.

Diterbitkan 07 November 2026, 12:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR Puan Maharani menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado, Sulawesi Utara. Dalam kesempatan itu, Puan menyampaikan sejumlah pesan kepada anak muda Indonesia, termasuk agar berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Konsultasi Nasional Pemuda Gereja digelar di aula Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Jumat (6/11/2026) pagi. Puan datang didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi VI DPR Adisatrya Suryo Sulisto, Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri, Wakil Ketua Komisi VIII MY Esti Wijayati, dan Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam.

Kehadiran Puan disambut Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, Rio Dondokambey. Acara ini dihadiri pemuda dan remaja gereja dari seluruh penjuru Tanah Air, para pimpinan Sinode Gereja-gereja Anggota PGI, Pimpinan PGI Wilayah, Sinode Am Gereja-gereja (SAG), hingga Forkopimda Provinsi Sulawesi Utara.

Turut hadir pula Ketua Forum Pria Kaum Bapak (PKB) PGI Olly Dondokambey beserta Ibu Rita Tamuntuan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Darwin Darmawan, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr. Jeane Marie Tulung, Ketua MPH Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara dan Tengah Pdt. Jacklin Soan Sumilat, serta Rektor IAKN Manado Dr. Olivia Cherly Wuwung beserta segenap sivitas akademika IAKN Manado.

Di awal sambutannya, Puan menyinggung harmoni dalam perbedaan.

“Meski kita berbeda agama tetapi ketika saya datang ke sini, sambutannya begitu hangat. Membuat saya merasa datang ke keluarga sendiri,” kata Puan diikuti tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir.

“Memang itulah Indonesia. Kita bhineka tunggal ika. Ini yang harus selalu kita jaga termasuk oleh anak-anak muda,” lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Dalam kesempatan tersebut, Puan menyinggung Hari Sumpah Pemuda yang baru saja diperingati bangsa Indonesia pada 28 Oktober lalu.

“Belum lama ini, bangsa Indonesia memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Sebuah tonggak sejarah yang mengingatkan kita bahwa perubahan besar dalam perjalanan suatu bangsa sering kali lahir dari keberanian generasi muda untuk memikirkan sesuatu yang belum terpikirkan oleh zamannya,” kata Puan.

“Juga memperjuangkan sesuatu yang belum menjadi kenyataan, dan mempersatukan sesuatu yang sebelumnya terpecah-pecah,” lanjutnya.

Menurut Puan, sejarah dunia mencatat pola yang serupa. Hal itu terlihat mulai dari gerakan mahasiswa dan pemuda dalam perjuangan di berbagai negara, gerakan hak asasi manusia, gerakan demokrasi, gerakan peduli lingkungan, hingga perjuangan generasi muda menentang rasisme.

“Ini menunjukkan bahwa anak muda kerap menjadi kekuatan yang menggugat ketidakadilan, menantang kemapanan, dan membuka jalan bagi perubahan sosial,” ungkap Puan.

Puan menegaskan, generasi muda atau pemuda merupakan kekuatan penting dalam pembaruan sosial karena memiliki pengalaman sejarah yang berbeda sehingga memungkinkan mereka menghadirkan cara pandang baru.

“Hari ini, Pemuda hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang berkembang dengan kecepatan luar biasa. Pengetahuan semakin mudah diakses, batas-batas geografis semakin terbuka, dan kesempatan untuk belajar, berinovasi, serta membangun gerakan bersama semakin luas,” paparnya.

Akan tetapi, kata Puan, kemajuan teknologi tidak dengan sendirinya melahirkan kemajuan cara berpikir. Begitu pula kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, pengguna teknologi, atau pengikut perubahan. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, menguji kebenaran, memahami persoalan secara mendalam, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” sebut Puan.

Puan memandang, tantangan terbesar pemuda saat ini bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana membedakan fakta dari manipulasi dan pengetahuan dari sekadar opini. Selain itu, pemuda juga perlu mampu mengambil sikap terhadap keterasingan manusia akibat kemajuan yang justru dapat memperbesar ketimpangan dan ketidakadilan.

Apalagi, kemajuan teknologi juga memiliki konsekuensi atau dampak buruk, seperti bahaya hoaks akibat penggunaan kecerdasan buatan yang kurang tepat.

“AI ini luar biasa canggihnya tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dengan hanya mengetik atau prompting di gadget lalu bisa sekejap menghasilkan konten-konten hoax, disinformasi. Di sini generasi muda harus berpikir kritis agar tidak termakan hoax,” ungkapnya.

Dalam konteks inilah, Puan menilai tema Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, yaitu ‘Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran’, memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan zaman.

“Terang harus memiliki daya untuk menerangi persoalan, membangkitkan kesadaran, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan bersama,” ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

Lebih lanjut, Puan menyebut tekad Konsultasi Nasional Pemuda Gereja juga sejalan dengan falsafah yang diwariskan Sam Ratulangi, pahlawan nasional dari Sulawesi Utara.

“Yaitu Si Tou Timou Tumou Tou, bahwa manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia. Falsafah ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih untuk dirinya sendiri, tetapi juga oleh apa yang dapat diberikan bagi kehidupan sesamanya,” terang Puan.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, Puan juga menyinggung dedikasi Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Sukarno atau Bung Karno, yang menempatkan rakyat sebagai pusat cita-cita kemerdekaan.

“Bung Karno menegaskan bahwa kebangsaan dan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus membawa kemerdekaan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga rakyat dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat,” jelas cucu Bung Karno tersebut.

Puan menegaskan, pengabdian kepada sesama bukanlah sesuatu yang terpisah dari perjuangan membangun bangsa. Justru melalui kepedulian terhadap kehidupan rakyat, nilai-nilai kemanusiaan, dan kebangsaan, menurut Puan, keimanan menemukan wujud nyatanya.

“Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pada saat ini, tentu tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan, dan menyusun program-program organisasi,” tutur Puan.

Puan berharap forum ini menjadi momentum untuk mempertegas arah pengabdian Pemuda Gereja di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jika Pemuda Gereja ingin menjadi terang, maka terang itu harus hadir di tengah kehidupan rakyat.Terang tidak hanya bersinar di dalam ruang-ruang pertemuan dan kegiatan organisasi, tetapi harus menjangkau tempat-tempat di mana masyarakat menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan ketidakadilan,” urainya.

Dari semangat inilah, Puan menilai program-program kerja Pemuda Gereja perlu dirumuskan berdasarkan persoalan nyata yang harus dijawab, sehingga dapat menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat bagi pemuda serta masyarakat.

“Perjalanan Pemuda Gereja untuk menjadi terang di tengah kehidupan rakyat tentu tidak selalu mudah. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi menghadapi ujian sejarah yang berbeda,” kata Puan.

Jika generasi muda pada masa perjuangan kemerdekaan menghadapi penjajahan dan keterbatasan kebebasan, menurut Puan, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks, yaitu kemajuan teknologi yang sangat cepat, persaingan ekonomi, ketimpangan kesempatan, krisis lingkungan, disinformasi, serta kecenderungan melemahnya solidaritas sosial.

“Di sinilah panggilan Pemuda Gereja untuk menjadi terang menemukan ujian yang sesungguhnya karena, terang tidak kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan kegelapan. Justru di tengah kesulitan dan ketidakpastian, kehadiran terang menjadi semakin diperlukan,” tegas Puan.

Puan juga mengingatkan bahwa pemuda gereja tidak cukup hanya memahami tantangan zaman, tetapi harus memperkuat diri agar mampu menjawabnya melalui karya, pelayanan, dan gerakan bersama yang membawa perubahan nyata.

“Pemuda harus terus mempertajam cara pikir, memperkuat kemajuan cara kerja, dan meningkatkan cara hidup yang baik,” pesan mantan Menko PMK itu.

Puan juga menyinggung bahwa Indonesia saat ini memiliki angkatan generasi muda dalam jumlah besar, yaitu lebih dari 50 persen. Meski begitu, ia menilai masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah generasi muda, tetapi terutama oleh kualitas dan kekuatan karakter mereka.

“Oleh karena itu, menjadi harapan kita semua bahwa Konsultasi Nasional ini dapat menghadirkan gerakan Pemuda Gereja yang berkarakter, sebagai kekuatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan ikut membentuk masa depan bangsa dan negara,” urai Puan.

Puan juga berharap pemuda gereja menjadi generasi yang kuat dalam iman, terbuka terhadap kemajuan, dan memiliki keberanian untuk menghadirkan kebaikan.

“Bung Karno pernah mengungkapkan keyakinannya yang sangat besar terhadap kekuatan generasi muda melalui ungkapan yang terkenal: Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” ujar Puan mengutip pernyataan Bung Karno.

“Pesan yang dapat kita petik dari ungkapan tersebut bukanlah tentang jumlah pemuda, melainkan tentang kekuatan tekad, keberanian, persatuan, dan cita-cita besar yang mampu menggerakkan perubahan sejarah,” sambung Puan.

Dalam acara ini, Puan menyematkan tanda peserta sebagai simbol resmi dibukanya Konsultasi Nasional Pemuda Gereja. Puan meminta pemuda gereja untuk berani bertindak dengan tetap berlandaskan iman, memperoleh kekuatan dari pengetahuan, serta mewujudkannya melalui kepedulian dan kebaikan kepada sesama.

“Inilah panggilan Pemuda Gereja: menjadi terang yang tidak bersinar untuk dirinya sendiri, tetapi bersinar menerangi kehidupan sesama,” ucapnya.

Puan pun kembali menyampaikan pesan kepada generasi muda.

“Hiduplah sebagai terang. Hadirkan kebaikan. Perjuangkan keadilan! Tegakkan kebenaran!” tegas Puan.

Sementara itu, Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, Rio Dondokambey, mengucapkan terima kasih atas kedatangan Puan.

“Selamat datang Ibu Ketua DPR-RI. Kami sangat merasa terhormat Ibu hadir. Ini adalah Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pertama yang kami laksanakan setelah beberapa tahun sempat vakum. Kami sangat ingin mendengar masukan dari Ibu Ketua untuk penyusunan program-program kerja kami,” ucap Rio Dondokambey.