Roda Hidup Rian, dari Warung Kecil Kini Putar Uang Miliaran per Pekan

Sebelum menjadi agen BRILink, Rian hanya memiliki warung kecil yang menjual jajanan rumahan di sekitar permukiman warga.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 21:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Minggu (10/5/2026) pukul 10.37 WIB. Rian Alpiana (30) duduk menatap layar ponselnya di balik meja kecil bercat biru-oranye. Jemarinya bergerak cepat memeriksa nominal transaksi sambil sesekali mencocokkan uang tunai yang tergeletak di atas meja.

Di hadapannya, seorang ibu paruh baya mengenakan penutup kepala merah duduk menunggu proses transaksi selesai. Tangannya masih menggenggam beberapa lembar uang pecahan Rp 10 ribu.

Suasana di dalam kios kecil itu tampak sederhana. Beberapa mesin Electronic Data Capture (EDC), tumpukan formulir, hingga toples berisi permen tersusun di atas meja pelayanan. Di sudut ruangan, kipas angin kecil terus berputar mengusir hawa panas siang hari.

Rutinitas melayani warga bertransaksi sudah dijalani Rian sejak 2019. Sebelum menjadi agen BRILink, Rian hanya memiliki warung kecil yang menjual jajanan rumahan di sekitar permukiman warga.

“Dulu cuma warung kecil-kecilan, jual sosis sama jajanan anak sekolah,” kata Rian saat ditemui Liputan6.com di Cipeuteuy, Sukaharja, Sukamakmur, Bogor.

Ide membuka layanan BRILink muncul karena melihat warga sekitar harus pergi cukup jauh untuk mengakses layanan perbankan. Saat itu, lokasi bank maupun ATM masih terbatas dari tempat tinggalnya.

Rian kemudian mencoba mendaftar menjadi agen BRILink melalui BRI Unit Citra Indah. Saat itu, dia baru lulus kuliah dari Kampus LP3I Cileungsi jurusan bisnis pada 2017.

Menurut Rian, proses awal pengajuan sebenarnya tidak terlalu rumit. Dia hanya diminta membuka rekening BRI, melengkapi Surat Keterangan Usaha (SKU), serta menyiapkan saldo mengendap sekitar Rp 3 juta sebagai jaminan mesin EDC.

“Sebelumnya saya malah belum jadi nasabah BRI,” katanya sambil tersenyum.

Meski proses pengajuan hanya memakan waktu beberapa bulan, Rian harus menunggu hampir satu tahun hingga akhirnya mendapatkan mesin EDC. Pada awal operasional, transaksi masih dilakukan menggunakan telepon genggam dan printer biasa.

Modal awal yang digunakan saat itu sekitar Rp 10 juta. Sebagian dana digunakan sebagai saldo transaksi, sementara sisanya menjadi modal operasional warung dan layanan BRILink.

Di hari pertama membuka layanan BRILink, pelanggan yang datang hanya tiga orang. Semuanya masih tetangga sekitar rumah.

“Awalnya cuma tiga transaksi,” kata Rian.

Namun perlahan jumlah pelanggan terus bertambah. Warga mulai datang untuk transfer uang, tarik tunai, hingga pembayaran berbagai kebutuhan harian.

Menurut Rian, transaksi yang paling menguntungkan berasal dari layanan tarik tunai. Untuk penarikan Rp 10 juta misalnya, biaya administrasi yang diterima agen bisa mencapai Rp 50 ribu.

“Kalau transfer lebih murah dibanding tarik tunai,” ucapnya.

 

Transaksi Tembus Rp 1 Miliar per Pekan

Seiring bertambahnya pelanggan, perputaran uang di agen BRILink milik Rian ikut meningkat. Jika di awal hanya melayani beberapa transaksi dari tetangga sekitar, kini setiap minggu mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

Peningkatan transaksi itu membuat status agen BRILink miliknya ikut naik kelas. Awalnya, Rian hanya berada di kategori agen pemula. Kini, statusnya sudah naik menjadi agen jawara.

Menurut Rian, pihak BRI juga rutin melakukan evaluasi terhadap performa agen BRILink, termasuk berdasarkan jumlah transaksi yang dilakukan.

“Nanti ada target transaksi juga untuk naik kelas,” ujarnya.

Saat ini, Rian bahkan tinggal membutuhkan tambahan transaksi sekitar Rp 70 juta untuk naik ke kategori agen juragan. Level di atas agen jawara.

Meski terlihat lancar, perjalanan menjalankan usaha BRILink tidak selalu mulus. Rian dan istrinya, Anggi Pebriani mengaku pernah mengalami beberapa kendala selama melayani transaksi warga.

Salah satunya terkait kasus penipuan yang sempat menimpa pelanggan. Menurut Anggi, saat itu ada warga yang datang melakukan transaksi senilai Rp 5 juta. Awalnya transaksi terlihat normal seperti biasa.

Namun setelah ditelusuri, ternyata pelanggan tersebut menjadi korban penipuan melalui telepon.

“Ternyata korbannya kena hipnotis by phone,” katanya.

Saat itu transaksi dilakukan melalui virtual account. Beruntung, persoalan tersebut akhirnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan uang yang sempat bermasalah dapat kembali.

Selain risiko penipuan, kendala jaringan internet juga menjadi tantangan lain dalam menjalankan usaha BRILink. Sebab seluruh transaksi bergantung pada koneksi internet dan sistem perbankan.

Untuk mengantisipasi gangguan jaringan, Rian menyiapkan dua koneksi internet sekaligus di kiosnya.

“Kalau wifi mati, kita backup pakai hotspot HP,” ujarnya.

Namun menurut dia, kendala paling merepotkan justru terjadi ketika sistem pusat mengalami gangguan. Dalam kondisi seperti itu, seluruh transaksi otomatis terhambat.

Bangun Rumah, Beli 6 Mobil, Tambah Cabang BRILink

Dari hasil usaha BRILink, Rian mengubah kondisi ekonomi keluarganya. Salah satunya dengan membangun rumah dan membuka cabang usaha baru.

“Yang pertama ya bangun rumah,” kata Rian.

Saat ini, Rian sudah memiliki tiga agen BRILink. Cabang pertama berada di tempat usahanya sekarang, sementara dua cabang lain dibuka di lokasi berbeda di Sukamakmur.

Menurut Rian, dua cabang tambahan itu baru dibuka pada 2025. Berbeda dengan cabang utama yang masih menyatu dengan warung kecil, dua cabang lainnya fokus khusus melayani transaksi BRILink.

“Kalau yang di sana khusus BRILink aja,” ujarnya.

Perputaran uang di cabang utama dan cabang tambahan juga berbeda. Untuk cabang utama, transaksi bisa mencapai miliaran rupiah per minggu. Sementara dua cabang lainnya rata-rata mencatat transaksi sekitar Rp 25 juta per hari.

Selain cabang baru, Rian juga membuka usaha lain seperti steam dan showroom motor. Dia bahkan mulai membeli sejumlah aset dari hasil usaha tersebut. Rian mengaku kini memiliki enam mobil dan tanah.

Sebagian kendaraan digunakan untuk kebutuhan pribadi, sementara lainnya dipakai untuk operasional usaha. Ada mobil bak yang digunakan mengangkut barang hingga kendaraan yang disewakan untuk kebutuhan tertentu. Menurut Rian, usaha kendaraan itu juga ikut menambah pemasukan keluarga.

“Kalau yang disewakan bisa sekitar Rp 5 juta sebulan,” ujarnya.

Tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, hasil usaha BRILink juga digunakan membantu keluarga besar. Salah satunya membantu biaya keberangkatan umrah nenek dari pihak istrinya.

Rian dan istrinya sudah beberapa kali berangkat umrah setelah usaha BRILink berkembang. Rian mengaku sudah tiga kali berangkat umrah, sementara istrinya dua kali.

“Itu setelah jadi agen BRILink,” ujarnya.

Ke depan, pasangan ini bahkan mulai merencanakan untuk menunaikan ibadah haji.

Buka Lapangan Kerja untuk Warga Sekitar

Usaha Agen BRILink yang dijalankan Rian membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Saat ini, Rian memiliki tujuh karyawan yang membantu operasional usaha di beberapa unit bisnis miliknya.

“Dua orang untuk BRILink, lima lainnya di usaha steam,” kata Rian.

Menurut Rian, sebagian besar pekerja yang direkrut sebelumnya merupakan pengangguran di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dia sengaja memprioritaskan tetangga sendiri untuk diberi kesempatan bekerja.

“Awalnya memang pengen bantu tetangga juga. Daripada ngambil keluarga terus, mending warga sekitar dulu,” ujarnya.

Selain lebih mudah diajak bekerja sama, Rian merasa merekrut warga sekitar membuat hubungan kerja lebih dekat dan saling mengenal. Jika ada kendala, komunikasi juga lebih mudah dilakukan.

Sementara itu, Anggi ikut berperan dalam proses perekrutan karyawan untuk layanan BRILink. Menurut Anggi, ketelitian menjadi syarat utama karena pekerjaan mereka berkaitan langsung dengan transaksi uang.

“Kalau BRILink kita pilih yang teliti dan cekatan. Karena mainnya nominal uang,” ujar Anggi.

Dia mengatakan, karyawan untuk layanan BRILink diprioritaskan perempuan dengan pendidikan minimal SMA. Alasannya, transaksi yang dilakukan sering kali melibatkan nominal tidak bulat sehingga membutuhkan ketelitian lebih tinggi.

“Kalau salah transfer kan bahaya. Misalnya harusnya Rp 100 ribu malah jadi Rp 1 juta,” katanya.

Proses seleksi dilakukan sederhana melalui wawancara langsung. Anggi dan Rian biasanya menanyakan karakter calon pekerja, mulai dari tingkat fokus hingga kejujuran.

“Yang paling penting jujur,” ujar Anggi.

Berbeda dengan karyawan BRILink, pekerja di usaha steam dan showroom tidak terlalu banyak menangani transaksi uang. Karena itu, syarat utamanya lebih kepada kemauan bekerja.

“Yang penting mau kerja,” kata Rian.

Rian mengaku masih ingin mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Salah satu rencana yang sedang dipikirkan adalah membuka cabang usaha steam tambahan yang nantinya juga dilengkapi layanan BRILink.

Usaha steam sendiri mulai dibuka pada 2022, beberapa tahun setelah usaha BRILink berjalan. Menurut Rian, pengembangan usaha tersebut tidak lepas dari hasil usaha BRILink yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

BRI Perkuat Jaringan BRILink di Pelosok

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperluas jangkauan layanan keuangan melalui penguatan jaringan Agen BRILink di berbagai daerah. Kehadiran agen-agen tersebut kini menjadi penghubung penting antara layanan perbankan dan kebutuhan transaksi masyarakat sehari-hari, termasuk hingga wilayah desa.

Hingga akhir Maret 2026, jumlah Agen BRILink tercatat telah mencapai lebih dari 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut sudah menjangkau lebih dari 80 persen desa di Indonesia.

Sepanjang Triwulan I 2026, Agen BRILink juga mencatat volume transaksi mencapai Rp 420 triliun. Dari aktivitas tersebut, BRI memperoleh fee based income (FBI) sebesar Rp 459 miliar.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, Agen BRILink kini menjadi salah satu kanal utama BRI dalam memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat di berbagai wilayah.

“BRILink Agen menjadi salah satu andalan BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat di berbagai wilayah. Jaringan ini menghadirkan layanan yang mudah diakses oleh masyarakat dan mempercepat proses transaksi, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan,” ujar Akhmad.

Menurut dia, keberadaan Agen BRILink juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan karena layanan perbankan semakin dekat dengan masyarakat.

Selain transaksi, kontribusi Agen BRILink terhadap penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) juga terus meningkat. Hingga Triwulan I 2026, saldo CASA rata-rata harian yang dihimpun mencapai Rp 30 triliun atau tumbuh 18,37 persen secara tahunan.

Tak hanya itu, penyaluran dana talangan melalui Agen BRILink juga meningkat 33,29 persen secara tahunan, dari sebelumnya Rp 5,4 triliun menjadi Rp 7,2 triliun.

Akhmad menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa Agen BRILink kini tidak hanya menjadi tempat transaksi keuangan, tetapi juga sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

“Ini menegaskan konsistensi BRI dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif, memperluas akses, serta memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.

Di wilayah Jonggol, Bogor, perkembangan Agen BRILink juga terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi mengatakan, saat ini terdapat sekitar 141 Agen BRILink yang tersebar di wilayah kerja BRI Unit Jonggol.

Menurut Oki, keberadaan Agen BRILink sangat membantu masyarakat, terutama di daerah yang jauh dari kantor bank.

“BRILink itu ibarat kantor kecilnya BRI,” kata Oki.

Dia menjelaskan, layanan Agen BRILink membuat masyarakat tetap bisa melakukan transaksi meski kantor bank sudah tutup. Selain itu, warga di desa-desa yang jauh dari pusat layanan perbankan kini juga lebih mudah mengakses layanan keuangan.

Wilayah kerja BRI Unit Jonggol sendiri mencakup 24 desa di dua kecamatan. Sebagian wilayah berada cukup jauh dari pusat layanan perbankan sehingga keberadaan Agen BRILink dinilai sangat membantu aktivitas masyarakat.

“Perannya sangat berpengaruh karena sampai ke desa-desa,” ujarnya.

Meski jumlah agen terus bertambah, Oki mengatakan masih ada sejumlah wilayah yang menjadi prioritas pengembangan jaringan Agen BRILink ke depan. Salah satunya berada di kawasan Sukamakmur.