Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan hingga 40 Persen

Pembangunan Flyover Latumeten berawal dari keresahan warga yang tinggal di sekitar perlintasan kereta api.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 16:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengatakan pembangunan proyek Flyover Latumeten di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang akan rampung pada akhir 2026 ditargetkan mampu mengurangi persoalan kemacetan di kawasan tersebut.

“Infrastruktur yang digadang-gadang mampu mengurangi kemacetan hingga 40 persen itu saat ini masih on the track. Mudah-mudahan bisa selesai Desember 2026 nanti," kata Kenneth di Jakarta, Jumat (3/7), seperti dilansir Antara.

Kenneth menyebutkan pembangunan Flyover Latumeten berawal dari keresahan warga yang tinggal di sekitar perlintasan kereta api. Warga meminta dirinya mencarikan solusi untuk mengurai kemacetan yang telah menjadi persoalan menahun.

Pada 2024, ia mengatakan pernah melakukan kunjungan kerja ke kawasan Latumeten saat masa reses.

“Warga lalu meminta dibangunkan flyover untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta yang padat," ungkap Kenneth.

Saat itu, kata dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memiliki anggaran untuk membangun flyover. Namun, ia meminta agar dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap permasalahan tersebut.

Setelah kajian itu rampung, proyek Flyover Latumeten kemudian masuk ke proses lelang dan mulai dikerjakan pada penghujung 2025.

"Setelah itu masuk ke proses lelang dan sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu, seperti yang diharapkan Pak Gubernur," ucap Kenneth.

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu mengatakan Flyover Latumeten nantinya akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum, mulai dari KRL Commuter Line hingga Transjakarta.

Sebagai penghubung antarmoda, lanjut Kenneth, nantinya juga akan dibangun skywalk yang dilengkapi lift, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ramah disabilitas, serta halte Transjakarta yang terintegrasi dengan kawasan sekitar.

Ia menuturkan konsep tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan bagi seluruh pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang membawa barang atau kereta bayi.

“Kehadiran lift pada JPO akan mempermudah akses menuju halte Transjakarta tanpa harus menggunakan tangga," ujar Kenneth.

Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas itu mengatakan kehadiran fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga saat berkendara, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki yang menggunakan transportasi umum.

Fasilitas itu menjadi bagian dari sistem integrasi antarmoda yang menghubungkan kawasan Flyover Latumeten dengan layanan Transjakarta, JakLingko, dan Commuter Line.

Dengan konsep tersebut, perpindahan moda transportasi diharapkan menjadi lebih aman, nyaman, dan efisien. Kehadiran fasilitas integrasi itu pun diharapkan tidak hanya melancarkan arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan pejalan kaki yang berpindah moda transportasi.

“Dengan adanya skywalk yang terkoneksi langsung dengan halte Transjakarta dan Stasiun KRL, masyarakat tidak perlu lagi menyeberang di tengah padatnya arus lalu lintas," tutur Kenneth.

 

Anggaran

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembangunan Flyover Latumeten menelan anggaran sebesar Rp 259 miliar.

Progres pembangunan proyek tersebut telah mencapai 55,2 persen dan ditargetkan rampung pada 15 Desember 2026.

Pramono mengungkapkan Flyover Latumeten merupakan salah satu proyek infrastruktur yang paling dinantikan warga karena berada di kawasan yang selama ini menjadi titik kemacetan.

"Flyover Latumeten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena apa? Di sini kalau dilihat pagi, siang, maupun sore, kemacetannya sangat tinggi," ungkap Pramono.

Â