Kemenkes Usut Dugaan Intimidasi di Balik Meninggalnya Dokter Icha

Investigasi menyeluruh akan dilakukan untuk menelusuri dugaan intimidasi oleh pihak tertentu.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 11:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan duka cita atas wafatnya dr Icha yang bertugas di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Kemenkes juga memastikan akan mengusut tuntas dugaan intimidasi yang dialami almarhumah selama menjalankan tugas pelayanan kesehatan.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, pihaknya saat ini melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan serta Inspektorat Jenderal tengah melakukan penanganan awal kasus tersebut. Investigasi menyeluruh akan dilakukan untuk menelusuri dugaan intimidasi oleh pihak tertentu.

“Setiap tenaga kesehatan berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, dan penghormatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Tidak boleh ada intimidasi, tekanan, ataupun tindakan yang merendahkan martabat tenaga kesehatan,” ujar Aji di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Kemenkes menegaskan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, organisasi profesi, aparat penegak hukum, serta pihak rumah sakit untuk memastikan perlindungan hukum dan dukungan psikososial bagi tenaga kesehatan.

Selain itu, Kemenkes juga mengutuk segala bentuk intimidasi, perundungan, maupun penyalahgunaan kewenangan terhadap tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan mana pun di Indonesia. Menurut Kemenkes, tindakan tersebut dapat mengganggu pelayanan kesehatan dan berdampak serius pada kondisi psikologis tenaga medis.

Kemenkes mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menghormati proses investigasi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

"Pengabdian dr Icha dalam melayani masyarakat akan selalu menjadi teladan bagi dunia kesehatan Indonesia," kata Aji, dikutip dari Antara.

Kronologi Dugaan Intimidasi

Dokter Icha diduga mengalami intimidasi saat menangani pasien anak korban gigitan ular yang merupakan kerabat salah satu anggota DPRD TTU. Menurut keluarga, sejumlah anggota DPRD mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu dan memprotes penanganan medis yang dilakukan dokter Icha.

Paman korban, Fabi Banase, menyebut tiga anggota DPRD yang dimaksud ialah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Teres Lasaka dari Partai Golkar, dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dia juga mengungkapkan dua dari tiga anggota dewan tersebut diduga berada dalam pengaruh minuman keras saat mendatangi rumah sakit.

“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap Fabi, Sabtu (27/6/2026).

Fabi mengatakan, kondisi psikologis dokter Icha terus memburuk setelah insiden tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, almarhumah didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sebelumnya sempat melakukan percobaan bunuh diri.

“Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup,” jelas Fabi.

Keluarga juga menyebut dokter Icha sempat menjalani perawatan di RS Leona Kefamenanu akibat tekanan batin yang dialaminya.

Menurut Victor Manbait, keluarga dokter Icha, almarhumah telah menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis anak. Namun, situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum dianjurkan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Victor menyebut dua orang yang mengaku sebagai anggota DPRD kemudian mendatangi ruang perawatan, melontarkan protes dengan nada tinggi, bahkan salah satunya disebut sempat menunjuk wajah dokter Icha.

"Dokter Icha mengaku masih merasa ketakutan dan tertekan secara batin akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” ungkap Victor.