Cukup QRIS, Beli Helm Tanpa Ribet Uang Tunai

Dalam beberapa tahun terakhir, Hendra mengandalkan QRIS BRI untuk bertransaksi di tokonya.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tepi jalan penghubung Cileungsi–Jonggol, berdiri sebuah toko helm bercat putih dan cokelat. Di dalam toko, Hendra Africo melayani pembeli. Helm berbagai warna tersusun rapi dalam etalase, memantulkan cahaya siang yang menembus kaca.

Ketika seorang pembeli hendak membayar, Hendra tak banyak bicara. Dia hanya mengarahkan jarinya ke sebuah kode QRIS yang tertempel di kaca etalase.

Pembeli kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Layar kamera dibuka, lalu diarahkan ke QRIS yang ditunjuk Hendra. Tak lama, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel, pembayaran berhasil. Hendra kemudian menyerahkan satu unit helm.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hendra mengandalkan QRIS BRI untuk bertransaksi di tokonya. Menurutnya, QRIS membantu kelancaran penjualan. Dia menyebut banyak pembeli kini tidak lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar.

“Alhamdulillah, sih, mudah. Lumayan enak. Kadang kalau nggak pakai QRIS, orang nggak jadi beli,” kata Hendra saat berbincang dengan Liputan6.com, di tempat usahanya, Selasa (16/6/2026).

Perubahan kebiasaan itu membuat metode pembayaran di tokonya menjadi lebih seimbang. Dia menyebut transaksi kini tidak didominasi satu cara saja.

“Fifty-fifty. Kadang pakai QRIS, kadang cash juga,” kata Hendra.

Kelola Usaha Pakai KUR

Usaha yang dijalankan Hendra juga tak lepas dari fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Dia memperoleh tambahan modal untuk memperkuat stok barang dagangan sekaligus menunjang operasional usaha.

Pada 2011, dia pertama kali mengajukan pinjaman sebesar Rp 50 juta. Setelah pinjaman tersebut lunas, dia sempat beralih ke bank lain untuk memenuhi kebutuhan pembelian rumah.

Namun, pada 2024, Hendra kembali mempercayakan kebutuhan modal usahanya kepada BRI. Dia kembali memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp 50 juta dengan tenor tiga tahun.

Sebagian besar dana pinjaman tersebut digunakan untuk menambah stok helm dan perlengkapan berkendara yang dijual di tokonya. Selain itu, sebagian dana juga dimanfaatkan untuk membeli satu unit sepeda motor guna menunjang aktivitas usaha sehari-hari.

“Sebagian besar (pinjaman KUR BRI) untuk nambah stok dagangan,” kata Hendra.

Tambahan modal itu membuat Hendra memiliki ruang lebih besar untuk menyediakan pilihan produk yang beragam bagi pelanggan.

Pinjaman KUR BRI juga membantu Hendra menjaga usahanya tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih. Namun, Hendra mengakui tantangan berusaha saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

QRIS Permudah Transaksi Soya Ayu

Tak hanya Hendra Africo, pelaku usaha lain juga merasakan perubahan serupa dalam sistem pembayaran digital. Agus Murtini, pengusaha susu kedelai merek Soya Ayu, misalnya.

Dia mulai menggunakan QRIS sejak mengajukan KUR pada 2024. Sejak saat itu, dia mengandalkan sistem pembayaran digital tersebut untuk transaksi di rumah produksi, bazar, hingga kerja sama dengan berbagai pihak.

Menurut Murtini, penggunaan QRIS sangat membantu kelancaran usaha. Dia tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian dan proses transaksi menjadi lebih cepat serta higienis.

“Jadi nggak perlu nyiapin uang kembalian, tangan juga nggak kotor, waktu juga lebih efisien,” katanya.

Selain itu, pencatatan keuangan menjadi lebih rapi karena seluruh transaksi terekam otomatis melalui aplikasi BRImo. Hal ini memudahkan pelaku usaha memantau pemasukan dan pengeluaran.

“Kalau sekarang tinggal lihat di BRImo, semua sudah tercatat,” ujar Agus.

Meski begitu, dia menilai perbedaan penggunaan QRIS tidak terlalu mengubah perilaku pembelian, karena pelanggan tetap bisa bertransaksi baik secara tunai maupun digital. Namun, sistem ini membuat pengelolaan uang usaha menjadi lebih praktis dibanding sebelumnya.

QRIS Andalan UMKM Cileungsi

Kepala BRI Unit Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, QRIS kini melekat dalam skema pembiayaan UMKM, terutama untuk usaha perdagangan seperti warung, toko, dan kuliner. Sementara untuk usaha tertentu seperti kontrakan, penggunaan QRIS masih bersifat situasional.

“Setiap nasabah yang realisasi pinjaman sekarang langsung dibikinkan QRIS. Dua sampai tiga hari setelah cair sudah aktif di tempat usaha,” kata Luki.

Langkah ini dilakukan seiring perubahan pola transaksi masyarakat yang semakin jarang menggunakan uang tunai. Konsumen kini lebih sering mengandalkan ponsel untuk pembayaran, sehingga pelaku usaha dituntut menyesuaikan diri.

“Sekarang orang ke mana-mana jarang bawa cash, lebih sering bawa handphone. Biasanya langsung tanya ada QRIS atau tidak,” ujarnya.

Bagi pelaku UMKM, QRIS tidak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga menjaga potensi penjualan tetap berjalan. Konsumen yang tidak membawa uang tunai masih bisa tetap bertransaksi tanpa harus membatalkan pembelian.

“Kalau ada QRIS, orang jadi tetap bisa belanja walaupun nggak bawa uang tunai,” kata Luki.

Dari sisi operasional, QRIS juga membantu pelaku usaha mengurangi risiko uang palsu dan mempermudah pencatatan keuangan. Transaksi tercatat otomatis melalui aplikasi tanpa perlu pembukuan manual.

“Pelaku usaha tinggal lihat transaksi yang masuk lewat aplikasi,” ujarnya.

Namun, implementasi di lapangan tidak selalu mulus. Sejumlah pelaku usaha masih mengalami kebingungan terkait sistem pencairan dana yang tidak langsung masuk ke rekening, melainkan melalui sistem batch settlement.

“Mereka sering bingung karena transaksi sudah masuk, tapi uangnya belum langsung ada di rekening,” kata Luki.

Selain itu, ada juga kendala teknis seperti penggunaan QRIS ganda dari bank berbeda dengan nama usaha yang sama, hingga keterbatasan perangkat digital di kalangan pelaku usaha yang lebih senior.

Meski begitu, BRI menilai adopsi QRIS di Cileungsi berjalan cukup baik. Hingga April 2026, target penggunaan QRIS di wilayah tersebut disebut telah tercapai, seiring meningkatnya integrasi layanan digital dalam pembiayaan UMKM.