Dulu Sales, Kini Bos Gula Merah Omzet Rp 70 Juta per Bulan

Usaha gula merah Nurdiansyah berawal dari pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran distributor tepung terigu dan gula di kawasan Cibubur.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aroma manis gula langsung menyergap begitu memasuki bangunan berdinding kayu. Ribuan keping gula merah berjajar rapat di atas dua meja panjang. Warnanya cokelat mengilap, sebagian permukaannya masih basah.

Deretan gula itu dibiarkan melalui proses pendinginan sebelum dikemas dan dikirim ke pelanggan. Tak jauh dari meja pendinginan, asap tipis masih mengepul dari wajan besi berukuran besar yang bertengger di atas tungku.

Seorang pekerja berdiri di sampingnya, mengaduk cairan gula tanpa henti agar tingkat kematangannya pas. Pekerja lainnya sibuk mengangkat cetakan dan menata gula yang sudah mengeras.

Di tengah kesibukan tersebut, Nurdiansyah (47) berdiri di antara dua meja produksi. Mengenakan baju putih, dia mengamati satu per satu hasil cetakan yang baru selesai dibuat. Tangannya bergerak merapikan gula agar tertata rapi sebelum memasuki tahap pengemasan.

Usaha gula merah yang kini dijalankan Nurdiansyah berawal dari pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran distributor tepung terigu dan gula di kawasan Cibubur. Selama sekitar lima tahun, dia berkeliling menawarkan produk ke berbagai pelanggan. Dari pekerjaan itulah, dia mengenal rantai distribusi gula dan melihat peluang untuk membangun usaha sendiri.

"Kalau orang lapangan kan sering ketemu barang-barang yang dijual. Dari situ saya melihat peluang, akhirnya coba buka usaha sendiri," cerita Nurdiansyah saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya kawasan Singajaya, Jonggol, Bogor, Senin (22/6/2026).

Sebelum memiliki rumah produksi bernama Gula Merah Rahayu, Nurdiansyah lebih dulu menjadi pengepul dan penjual gula yang dipasok oleh rekan kerjanya. Selama kurang lebih dua tahun, dia menerima kiriman gula untuk dipasarkan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum akhirnya memutuskan memproduksi sendiri pada 2022.

Modal awal yang dia gelontorkan tidak sedikit. Sekitar Rp 150 juta dari hasil tabungan selama bekerja digunakan untuk membangun usaha tersebut. Modal itu dipakai untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, hingga mendukung operasional awal usaha.

Dalam perjalanan usaha, Nurdiansyah tidak berjalan sendiri. Dia melibatkan putra kandungnya yang kini berusia 23 tahun. Nurdiansyah lebih banyak menangani proses produksi, sang anak fokus mengurus pemasaran dan distribusi.

Produk gula merah buatan Nurdiansyah rutin dikirim ke sejumlah wilayah seperti Kranggan, Jonggol, Wanaherang, dan Gandoang. Beberapa pelanggan melakukan pemesanan dalam jumlah besar secara rutin setiap pekan.

Usaha Ditopang BRI

Perjalanan usaha Nurdiansyah ditopang BRI. Dia bahkan sudah mengenal BRI jauh sebelum memiliki usaha gula merah sendiri. Sekitar 2020, saat masih bekerja dan belum sepenuhnya terjun ke dunia usaha, dia sudah menjadi nasabah BRI dan mengajukan pinjaman melalui Unit BRI Gandoang.

Pinjaman pertamanya sebesar Rp 25 juta. Kemudian meningkat menjadi Rp 30 juta setelah menjalankan usaha. Meski nilainya tidak terlalu besar, dana tersebut menjadi tambahan modal yang membantu menopang aktivitas usahanya, terutama untuk membeli bahan baku.

“Kalau untuk usaha gula, pinjaman itu biasanya dipakai buat bahan baku. Misalnya Rp 30 juta, paling dapat sekitar dua ton bahan baku,” ujarnya.

Seiring usaha yang terus berjalan, Nurdiansyah beberapa kali kembali memanfaatkan fasilitas pinjaman BRI. Namun baginya, yang terpenting bukan sekadar mendapatkan pinjaman, melainkan menjaga kepercayaan yang telah diberikan bank.

Karena itu, dia selalu berusaha disiplin membayar angsuran tepat waktu. Bahkan, sebelum tanggal jatuh tempo tiba, dia sudah lebih dulu menyelesaikan kewajibannya.

Selain mengandalkan usaha gula merah, Nurdiansyah juga memiliki usaha lain yang telah lama digelutinya, yakni distribusi tepung terigu, gula, dan minyak goreng. Pengalaman yang dia peroleh saat bekerja sebagai tenaga pemasaran membuatnya memiliki jaringan pelanggan yang cukup luas, terutama di kawasan Bogor.

Hingga kini, dia masih memasok kebutuhan bahan baku ke sejumlah pabrik roti dan pabrik kue lapis. Usaha distribusi itu menjadi sumber pendapatan tambahan yang membantu menjaga kestabilan keuangan keluarga sekaligus menopang usaha gula merah yang terus berkembang.

Omzet Tembus Rp 70 Juta per Bulan

Usaha gula merah yang dijalankan Nurdiansyah mengantongi omzet yang cukup fluktuatif. Tergantung kondisi pasar dan volume pengiriman setiap harinya. Dalam kondisi normal, penjualan bulanannya berada di kisaran sekitar Rp 50 juta. Namun saat permintaan meningkat dan pengiriman berjalan lancar, omzetnya bisa menembus hingga maksimal Rp 70 juta per bulan.

“Kalau lagi ramai-ramai bisa sampai Rp 70 juta,” ujarnya.

Angka tersebut masih merupakan omzet kotor. Setelah dipotong biaya operasional seperti pengiriman dan bensin, pendapatan bersih yang diterima menjadi jauh lebih kecil.

Dalam kondisi tertentu, keuntungan bersih harian hanya sekitar Rp 300 ribu. Jika dihitung dalam sebulan, totalnya bisa berada di kisaran Rp 7–9 juta, tergantung intensitas kerja dan kondisi pasar.

Pendapatan yang diperoleh saat ini sebagian besar masih diputar kembali untuk mengembangkan usaha. Dia belum banyak melakukan pembelian aset besar seperti kendaraan, karena prioritas utamanya adalah memperbesar skala usaha terlebih dahulu.

“Masih diputar lagi untuk usaha. Kalau mau beli kendaraan sebenarnya pengen, tapi usaha masih harus dibesarkan dulu,” tuturnya.

Berdayakan Tetangga

Nurdiansyah memberdayakan warga sekitar sebagai tenaga kerja dalam usaha gula merah yang dia jalankan. Saat ini, dia memiliki sekitar tujuh orang pekerja dengan pembagian tugas yang berbeda. Empat orang bertugas di bagian produksi, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, sementara tiga orang lainnya fokus pada proses pengemasan.

Menurut Nurdiansyah, memilih tetangga sebagai pekerja bukan hanya soal kedekatan lokasi, tetapi juga bentuk kepedulian sosial.

“Biar sama-sama saja, kasihan juga. Kadang mereka butuh tambahan buat jajan,” ujarnya.

Dari sisi upah, sistem yang diterapkan tidak terlalu besar. Pekerja bagian pengemasan menerima bayaran sekitar Rp 50 ribu per hari. Tidak ada target khusus yang dibebankan kepada mereka. Namun, jika pekerjaan selesai hingga malam, ada tambahan upah sekitar Rp 15 ribu.

Sementara untuk bagian produksi, sistem pengupahan dihitung berdasarkan hasil kerja. Misalnya untuk proses pencetakan, upah diberikan sekitar Rp 400 per kilogram. Semakin besar produksi yang dihasilkan, semakin besar pula pendapatan yang diperoleh pekerja.

Salah satu pekerja, Jajang (52), sudah bergabung sejak usaha Nurdiansyah mulai berjalan sekitar setahun lebih. Sebelumnya, dia bekerja sebagai petani dan sempat menjadi pengemudi ojek.

“Ya, karena usia juga sudah susah cari kerja. Kebetulan dekat, masih tetanggaan juga. Daripada jauh-jauh, di sini saja cukup buat kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Jajang kini bekerja hampir setiap hari tanpa banyak libur. Bahkan dalam kondisi tertentu, dia harus bekerja hingga larut malam ketika permintaan produksi meningkat.

“Kadang sampai subuh juga, kalau pesanan banyak. Habis maghrib kerja lagi,” katanya sambil tersenyum.

Sistem kerja borongan membuat pendapatan dihitung berdasarkan hasil produksi. Dalam kondisi normal, dia bisa mendapatkan sekitar Rp 60 ribu bersih per hari. Penghasilan tersebut dirasa cukup membantu kebutuhan sehari-hari. Apalagi lokasi kerja yang dekat membuatnya tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi.

“Enak saja di sini, dekat, jalan kaki juga bisa. Mau ke mana lagi,” ujarnya.

Dari hasil bekerja di sana, dia mengaku sudah bisa mencicil kebutuhan keluarga, termasuk motor yang kini sudah lunas. Penghasilan juga digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan sedikit tabungan.

 

Dukungan Kupra BRI di Jonggol

Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi, menjelaskan bahwa Nurdiansyah merupakan salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan Kupra BRI untuk mendukung pengembangan usaha gula merahnya.

Sebelumnya, dia juga pernah menggunakan fasilitas KUR, namun kemudian beralih dan naik kelas karena kebutuhan modal kerja yang lebih besar serta adanya dukungan pembiayaan dari bank lain.

Untuk sektor industri pengolahan makanan tradisional seperti gula merah, plafon maksimal pembiayaan Kupra yang dapat diajukan mencapai Rp 100 juta. Fasilitas ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha kecil naik kelas dan memperkuat kapasitas produksinya.

Terkait kemungkinan perpindahan dari Kupra ke KUR, Oki menjelaskan bahwa hal tersebut dimungkinkan dengan ketentuan tertentu sesuai aturan terbaru. Debitur Kupra dengan plafon hingga Rp 20 juta dan telah melunasi pinjamannya dapat kembali mengajukan KUR dengan batas maksimal Rp 20 juta.

"Namun, bagi penerima Kupra di atas Rp 20 juta, tidak lagi berhak untuk mendapatkan fasilitas KUR,” jelasnya.

Di wilayah kerja BRI Jonggol sendiri, penyaluran Kupra telah menjangkau 2.244 debitur dengan total outstanding mencapai Rp 47,29 miliar. Angka ini menunjukkan cukup besarnya dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil di wilayah tersebut, termasuk sektor pengolahan pangan tradisional yang terus berkembang.