Liputan6.com, Depok - Hari ini, yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) bersama Pemerintah Kota Depok merayakan HUT ke-312 Kaoem Depok, Jawa Barat.
Diketahui, kaoem Depok berasal dari 12 marga, dahulunya merupakan para budak yang dibawa Cornelis Chastelein untuk membantu mengurusi sejumlah asetnya, salah satunya tanah.
Liputan6.com berkesempatan mengulik sejarah tentang kaoem Depok melalui YLCC yang dipimpin Revelino Jerincho Isakh. Disela kegiatan HUT ke-312 kaoem Depok, Revelino menceritakan secara singkat keberadaan kaoem Depok yang terdiri dari 12 marga.
Advertisement
"Kita sudah 312 tahun. Ya sejarahnya ini tidak terlepas dari seseorang yang bernama Cornelis Chastelein yang membeli sebuah tanah, lalu mendatangkan budak, lalu pada saat dia meninggal memberikan wasiat dan memerdekakan budak. Lalu, budak itu memiliki kesetaraan," ujar Revelino, Sabtu (27/6/2026).
Diketahui, Cornelis Chastelein merupakan pria asal Belanda yang menjabat Raad Extra Ordinaries atau Dewan Pertimbangan pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Pada 18 Mei 1696, Cornelis Chastelein membeli Het Land Depok atau tanah terlantar yang kini menjadi sebagian wilayah Kota Depok.
Cornelis Chastelein mendatangkan sekitar 150 budak dari Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Benggali untuk mengelola tanahnya menjadi perkebunan. Para budak yang dibawa Cornelis Chastelein menjadi penduduk pertama yang tinggal di Depok.
Â
Kesetaraan jadi Kebanggaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593554/original/051298000_1782562154-IMG-20260627-WA0080.jpg)
Seiring berjalannya waktu pada 1705, Cornelis Chastelein membentuk organisasi kepengurusan yang dipimpin Jarong van Bali bersama para mandor, untuk mengatur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Depok. Namun pada 28 Juni 1714, Cornelis Chastelein meninggal di Batavia atau yang kini dikenal sebagai Jakarta.
Melalui surat wasiatnya, Cornelis Chastelein membebaskan budaknya dari perbudakan dan memberikan hak waris atas tanah Depok. Hal itulah yang mendasari 28 Juni sebagai Hari Depok atau Hari Chastelein. Bagi kaoem Depok, Cornelis Chastelein dikenang sebagai tokoh yang meletakkan dasar terbentuknya masyarakat, pemerintahan, dan identitas historis Kota Depok.
"Kesetaraan inilah yang memang menjadi kebanggaan dan titik balik dari seorang budak, menjadi seseorang yang memiliki hak yang sama, dan dikelola pada saat hari ini sampai 312 tahun," ucap Revelino.
Adapun para budak yang dibebaskan Cornelis Chastelein telah diberikan 12 marga. Adapun marga tersebut terdiri dari Jonathans, Soedira, Laurens, Bacas, Loen, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob, dan Zadokh.
"Jika saat itu Cornelis Chastelein salah menaruh fundamental ya, atau fondasi yang salah, bubar pasti. Enggak akan ada lagi 12 kaum Depok, sudah enggak ada lagi,"Â ucap Revelino.
Â
Advertisement
Keberadaan Marga Kaoem Depok
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593556/original/014729900_1782562159-20260627_104924.jpg)
Setelah meninggalnya Cornelis Chastelein, masyarakat Depok mengelola tanah berdasarkan amanat dan surat wasiatnya, namun sempat terjadi persaingan dalam penguasaan lahan sehingga terjadi konflik.
Melihat hal itu, R.H. Kleijn yang merupakan seorang advokat dari Batavia, menggagas sistem zelfbestuur atau pemerintahan mandiri bagi Depok.
Pada 1871 gagasan Pemerintah mandiri telah dimulai dan melahirkan *Gemeente Bestuur van het Land Depok*, sebuah pemerintahan lokal dipimpin presiden dan dipilih secara demokratis. Gerard Jonathans menjadi presiden pertama Depok pada 14 Juni 1913.
Depok sempat dipimpin sembilan presiden dari 1913 sampai 1952, mulai dari Gerard Jonathans, Martinus Laurens, Andries J. Jonathans, Leonardus Leander, G. Leon, Johanes M. Jonathans, Jozef C. Jonathans, Johanes M. Jonathans.
Saat Liputan6.com mengkonfirmasi terkait keberadaan marga kaoem Depok hingga saat ini, Revelino mendapati satu marga yang sudah tidak diketahui keberadaannya. Adapun marga dari kaoem Depok yang tidak diketahui yakni Zadokh.
"Cuman yang sekarang tidak ada itu Zadokh. Zadokh itu kemungkinan juga tidak ada, sudah lama sekali ya, dari tahun 18-an, mungkin ya," ucap pria keturunan Isakh generasi ke-13 itu.
Â
Hilangnya Marga Zadokh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593552/original/094582200_1782562152-20260627_111904.jpg)
Hilangnya marga Zadokh telah dilakukan penelusuran YLCC, salah satunya melalui pemakaman kaoem Depok yang berada tidak jauh dari Gereja Bethel Indonesia, Depok. Pada pemakaman tersebut tidak ditemukan nisan atau papan nama bermarga Zadokh.
"Pada saat saya mengecek di pemakaman kami yang berdiri di 1851, nama Zadokh itu enggak ada sih," kata Revelino.
Revelino menduga, hilangnya marga Zadokh sudah terjadi sejak 1700 an atau 1800 an.
Pada masa Cornelis Chastelein para budak di Depok telah diperkenalkan tentang pendidikan dengan memerintahkan Baprima van Bali dan Tjarang Assam van Bali, untuk mengajarkan baca dan tulis. Kegiatan belajar dilakukan di sebuah bangunan sederhana di lokasi GPIB Immanuel Depok.
Adapun media pembelajaran menggunakan bibel atau Alkitab, hal itu menjadi salah satu pendorong lahirnya komunitas Kristen pertama di Depok.
Pada 1713, Baprima yang telah dibaptis diberi nama Lucas dan diangkat Cornelis Chastelein menjadi pemimpin komunitas Kristen Depok, sehingga menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Gereja Masehi Depok.
Berawal dari pendidikan agama dan seiring berjalannya waktu, tercetuslah Zending Seminari Depok yang merupakan sekolah pendidikan guru injil tertua dan paling terkenal di Hindia Belanda pada 1869. Pendeta J. Schuurman dan Pendeta J. Beukhof menjadi aktor keberadaan Zending Seminari Depok, bertujuan mendidik guru injil pribumi yang akan diutus ke berbagai wilayah Indonesia.
Setelah mendapat dukungan dari Komite Sentral di Belanda, pada 1873 Seminari berada di Depok dan diresmikan pada 28 Agustus 1878. Adapun siswanya berasal dari berbagai suku, seperti Dayak, Batak, Minahasa, sunda, jawa, sangir, Arafuru, Depok, hingga Belanda. Pada proses pembelajarannya menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pergaulan dan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Â
Advertisement
Cikal Bakal Kepresidenan Depok
Tugu dan bangunan bekas rumah sakit harapan menjadi saksi bisu Depok pernah dipimpin seorang presiden. Diketahui, pada 1705 Cornelis Chastelein sempat membentuk Dewan Depok yang dipimpin Djarong van Bali dan di bantu mandornya di tiap wilayah.
Berdasarkan catatan sejarah yang dimiliki YLCC, Depok pernah memiliki sebuah pemerintahan dari hasil pertemuan terbuka yang dilakukan Dewan Depok.
Adapun salah satu bukti adanya Pemerintahan Depok yakni gedung *Gemeente Bestuur*, atau kini dikenal gedung bekas rumah sakit Harapan di Jalan Pemuda. Pendirian gedung *Gemeente Bestuur* terjadi pada 1880 namun untuk gagasan pembangunan gedung sudah muncul sejak 1871.
Berjalannya waktu, pada 14 Januari 1931, organisasi *Gemeente Bestuur *Depok resmi disahkan secara de jure melalui Reglement van het Land Depok. Kala itu, Gerard Jonathans menjadi presiden atau Ketua *Gemeente Bestuur *pertama didampingi M.F Jonathans sebagai sekretaris.
Adapun gedung *Gemeente Huis* menjadi pusat pemerintahan dan administrasi Depok, sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menandai perkembangan tata kelola masyarakat Depok pada masa kolonial.
Pemerintahan Depok terus berjalan mulai dari 1913 hingga penghujung berakhirnya masa kepresidenan Gemeente Bestuur pada 1952, kala itu di pimpin presiden ke sembilan, yakni Johanes M. Jonathans.
Pada masa kepemimpinan Presiden Johanes M. Jonathans, Pemerintah Indonesia sempat mendatangi Gemeente Bestuur Depok pada 1952.
Â
Perwakilan Pemerintah Indonesia
Adapun perwakilan Pemerintah Indonesia kala itu dipimpin Raden Singgih Praptodihardjo dan Raden Mohammad Singer. Perwakilan Indonesia mendatangi kediaman rumah Presiden Johanes Mathijs Jonathans yang berada di Jalan Pemuda, Depok.
Pada pertemuan tersebut, terjadi sebuah kesepakatan berupa perjanjian pengalihan tanah partikulir Depok, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Kini masa Gemeente Bestuur Depok telah selesai dan telah menjadi satu kesatuan Pemerintah Republik Indonesia. Namun sejarah dan masa lalu Depok akan tetap dikenang para kaoem Depok hingga saat ini.
Terdapat sejumlah pesan dan ajaran yang diberikan Cornelis Chastelein masih dijalani kaoem Depok. Salah satunya yang tertulis pada sebuah prasasti, yakni tentang kesejahteraan masyarakat Kristen.
"Sebetulnya kalau bicara tentang pesan-pesannya Chastelein itu ada juga di prasastinya dia sih. Jadi harapannya dia adalah masyarakat Depok tumbuh menjadi masyarakat yang Sejahtera, sehingga itu yang menjadi fondasinya kita juga, bahwa masyarakat Depok harus Sejahtera," tutur Revelino.
Adapun penjabaran dari makna sejahtera dapat diartikan secara luas, salah satunya tentang pendidikan.
YLCC berusaha menjaga secara maksimal asset dan sejarah pada masa pemerintahan Depok tempo dulu. Hal itulah yang menjadi salah satu pendorong terbentuknya YLCC sebagai penjaga warisan budaya dan sejarah pemerintahan Depok tempo dulu.
"Kita berupaya semaksimal mungkin untuk semua aset yang hari ini ada di yayasan, ini kita rawat dan kita jaga, kita lestarikan," kata Revelino.
Revelino mengakui, terdapat satu aset sejarah yang sedang berusaha diperjuangkan YLCC, salah satunya eks rumah sakit Harapan. YLCC ingin mengembalikan bangunan eks rumah sakit Harapan seperti dahulu.
"Doain aja, bahwa Rumah Sakit Harapan juga bisa kita perbaiki, harapannya adalah kita pengen Rumah Sakit Harapan itu balik lagi seperti bentuk bangunannya," pungkas Revelino.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593553/original/034876000_1782562153-20260627_105015.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/618/original/015378900_1751874433-WhatsApp_Image_2025-07-06_at_20.36.08_5b85adcb.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258799/original/021874200_1781411244-brasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8658507/original/009732800_1782681457-000_B8LH2L7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8512971/original/012018800_1782436430-000_B8CY2VE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8623031/original/006534100_1782616032-063_2283182531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8660431/original/044103500_1782685503-Canada_s_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8659951/original/005175900_1782684619-000_B8LH2KW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8659756/original/038409700_1782684252-063_2283754697.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8480622/original/006833100_1782392396-AFSEL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)