Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Bener Meriah, Aceh, menyambut langkah pemerintah memperkuat Jembatan Enang-Enang yang sebelumnya diperbaiki secara swadaya. Respons cepat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera dinilai memberikan kepastian bagi warga yang bergantung pada akses tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Tokoh masyarakat Enang-Enang, Syahrial, mengatakan keputusan pemerintah untuk mempertahankan fungsi Jembatan Enang-Enang sekaligus menyiapkan solusi permanen menjadi kabar baik bagi masyarakat. Menurutnya, hasil pertemuan dengan pemerintah menunjukkan adanya komitmen untuk menyelesaikan persoalan konektivitas di kawasan tersebut.
Advertisement
"Perencanaannya sungguh luar biasa, ada tiga hal yang akan dikerjakan. Jalan Werlah ke Simpang Lancang diperlebar menjadi enam meter, kemudian langsung diaspal, dibangun dua jembatan, kemudian satu jembatan layang. Alhamdulillah," ujar Syahrial saat berbincang dengan Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian, Selasa (7/7/2026) malam.
Syahrial menyebut masyarakat menyambut baik kesepakatan pemerintah yang tetap mengoperasikan Jembatan Enang-Enang selama masa transisi, sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen.
"Jembatan Enang-Enang ini sudah bersepakat kita bahwa PU dan pemerintah bekerja sama di sini demi kepentingan rakyat. Sekali lagi kami mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia yang sudah memperhatikan kami demi kepentingan rakyat," katanya.
3 Langkah Penanganan
Sementara itu, Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menjelaskan pemerintah telah menyiapkan tiga langkah penanganan yang berjalan secara bersamaan.
Langkah pertama adalah memperkuat struktur Jembatan Enang-Enang agar tetap dapat digunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Langkah kedua, memperlebar serta mengaspal jalan alternatif Werlah menjadi enam meter, disertai pembangunan dua jembatan permanen pada tahun ini.
Sedangkan langkah ketiga, membangun jembatan bentang panjang sekitar 300 meter sebagai solusi jangka panjang yang diproyeksikan menjadi ikon baru Tanah Gayo.
"Jembatan Enang-Enang ini tetap difungsikan, diperkuat semaksimal mungkin oleh Balai PU, tujuannya supaya paling tidak untuk roda dua dan roda empat kendaraan biasa. Tapi kalau untuk roda enam, truk apalagi, belum bisa," kata Tito.
Tito mengatakan pembangunan jalan alternatif Werlah beserta dua jembatan permanen telah disiapkan untuk dikerjakan tahun ini dengan nilai sekitar Rp100 miliar. Sementara pembangunan jembatan bentang panjang sepanjang sekitar 300 meter direncanakan mulai pada 2027 dengan estimasi anggaran sekitar Rp700 miliar dan ditargetkan rampung dalam tiga tahun.
Menurut Tito, pemerintah berupaya menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan faktor keselamatan. Ia juga mengapresiasi gotong royong warga yang selama ini menjaga agar akses Jembatan Enang-Enang tetap bisa digunakan.
"Saya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah bergotong royong. Tapi bukan berarti pemerintah tidak peduli. Jalan alternatif sudah dirapikan, akan disempurnakan lagi berikut jembatannya. Yang ini sudah ada perkuatan dan akan dimaksimalkan lagi," katanya.