Alasan Dedi Mulyadi Buat Sayembara Tangkap Begal Berhadiah Rp 50 Juta

Dedi memastikan hadiah uang tunai hanya diberikan kepada warga yang menyerahkan pelaku ke kepolisian dalam kondisi utuh.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 19:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan sayembara hadiah hingga Rp 50 juta bagi warga yang membantu menangkap pelaku begal bukan untuk memburu pelaku secara bebas. Inisiatif itu, kata dia, dibuat sebagai strategi psikologis agar masyarakat menyerahkan pelaku kepada polisi, bukan main hakim sendiri.

Dedi memastikan hadiah uang tunai hanya diberikan kepada warga yang menyerahkan pelaku ke kepolisian dalam kondisi utuh dan setelah orang tersebut resmi ditetapkan sebagai tersangka.

"Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan Rp 10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi," ujar Dedi di Arcamanik Bandung, Jumat (24/7/2026).

Mantan Bupati Purwakarta itu menegaskan ada aturan ketat dalam pemberian hadiah tersebut. Warga yang menangkap pelaku tidak akan mendapat penghargaan jika menyerahkan pelaku dalam kondisi mengalami kekerasan berat.

"Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," ujarnya.

Efektif Gerakkan Warga Tangkap Begal

Menurut Dedi, pemberian insentif tersebut juga bertujuan mendorong kembali keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan, termasuk menghidupkan kembali kegiatan ronda malam atau sistem keamanan lingkungan (siskamling).

"Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi," terangnya.

Dedi menilai pendekatan berbasis insentif masih relevan untuk meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga keamanan. Dia menyebut dampak kebijakan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya aktivitas patroli masyarakat di sejumlah wilayah Bandung Raya.

"Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai," kata Dedi, dikutip dari Antara.

Â