Liputan6.com, Jakarta - Suasana haru bercampur keprihatinan menyelimuti perjalanan terakhir seorang warga bernama Mesak Oemanu, Senin (18/5/2026) sore. Bukan hanya karena kepergiannya yang mendadak akibat serangan jantung di Pasar Oefitis, Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, namun lebih karena perjalanan pulang menuju kampung halamannya harus ditempuh dengan cara yang sangat berat dan melelahkan.
Momen di mana puluhan warga bahu-membahu menggotong peti jenazah secara estafet menyeberangi Sungai Kapsali pun terekam dalam video dan dengan cepat menyebar luas di media sosial. Video itu menjadi sorotan banyak orang yang turut merasakan kepedihan sekaligus kekaguman atas semangat gotong royong yang masih kuat hidup di sana.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat jelas bagaimana warga terlebih dahulu menurunkan peti jenazah dari atas mobil pikap hitam yang berhenti di tepi sungai. Tanpa banyak bicara, mereka segera bergantian mengangkat dan memikul beban berat itu, berjalan menyusuri tepian sungai yang licin dan berlumpur.
Advertisement
Suara napas terengah-engah terdengar, bahkan ada salah satu pria yang berkata dalam bahasa Dawan, “An mafen” yang artinya “sangat berat”, menggambarkan beratnya beban yang mereka pikul bukan hanya secara fisik, tapi juga hati.
Perjalanan itu tidak mudah. Saat harus melewati bagian tebing yang sempit dan curam, salah satu warga memberi perintah agar turun satu per satu demi keselamatan bersama. Lumpur yang tebal di sepanjang jalan membuat langkah mereka tertatih-tatih. Sering kali harus berpegangan satu sama lain agar tidak tergelincir.
Namun tak satu pun di antara mereka berhenti atau mengeluh lebih jauh, karena di hati mereka ada satu tujuan: mengantar sahabat dan warga mereka sampai ke tempat peristirahatan terakhir dengan aman.
Jarak yang ditempuh sekitar 100 meter itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Baru setelah sampai di seberang sungai, peti jenazah kembali dimuat ke atas mobil pikap yang sudah disiapkan menunggu. Sementara keluarga yang berduka pun dibantu warga satu per satu menyeberang, agar bisa terus melanjutkan perjalanan menuju tempat pemakaman.
Kepala Desa Manubelon, Antonius Tak, membenarkan kejadian tersebut. Apa yang dilakukan warga itu adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh karena kondisi jalan dan jembatan yang tidak memungkinkan kendaraan lewat.
“Betul sekali, peti jenazahnya dipikul secara estafet karena kendaraan tidak bisa lewat sama sekali. Jadi kami semua bantu gotong, masyarakat yang bantu pikul sampai ke seberang baru dimuat ke pikap yang sudah ada di sana,” ujar Antonius dengan nada sedih.
Masalah ini sebenarnya bukan baru terjadi. Sejak jembatan Kapsali putus total pada tahun 2023 lalu, kehidupan warga di Desa Manubelon dan sekitarnya berubah drastis. Jembatan yang dulunya menjadi urat nadi perhubungan kini hanya tinggal kenangan, meninggalkan kesulitan yang harus dihadapi setiap hari oleh warga.
Kampung Terisolasi
Saat ini, lokasi tersebut memang menjadi tempat transit yang harus dilalui siapa saja yang ingin pergi ke Kota Kupang atau sebaliknya, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Kendaraan roda empat maupun enam tidak bisa melintas sama sekali. Hanya sepeda motor yang mungkin lewat, itupun harus dengan perjuangan berat, sering kali harus didorong atau dipukul-pukul melewati jalan yang rusak, dan hampir selalu butuh bantuan warga setempat agar bisa berhasil menyeberang.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan perjalanan jenazah saja, tapi juga menghambat segala aspek kehidupan. Siswa yang pergi sekolah, warga yang hendak berobat, atau warga yang membawa hasil bumi untuk dijual ke pasar, semuanya harus menghadapi tantangan yang sama.
Bahkan saat musim hujan tiba dan sungai meluap, jalan ini pun tertutup total. Warga terpaksa mengambil jalur memutar lewat Amfoang Selatan, namun medan yang dilalui jauh lebih sulit, terjal dan berbahaya.
“Kondisi ini sudah berlangsung sangat lama dan kami rasakan setiap hari. Bukan hanya saat ada yang meninggal, tapi setiap hari kami kesulitan beraktivitas, sekolah, berobat, semuanya terhambat,” ungkap Antonius.
Namun di balik kesulitan yang ada, semangat warga tidak pernah padam. Pihak desa bersama masyarakat sudah berencana untuk melakukan langkah nyata demi memperbaiki situasi ini.
“Rencananya hari Jumat ini, kita semua warga akan kerja bakti bersama untuk membuka jalan alternatif di sekitar Sungai Kapsali. Tujuannya agar nanti kendaraan bisa lewat, memudahkan mobilitas kita semua, tidak lagi harus menyeberang dengan cara yang berat seperti ini,” ucapnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6383917/original/076479300_1779259100-1002060087.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782165/original/058199200_1782878254-carlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288052/original/043334700_1783289642-000_B9BW8VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288258/original/062355500_1783308425-eng1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288078/original/014194100_1783298244-nor5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288177/original/067177000_1783307508-000_B9C82QK-Inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288136/original/097177200_1783304121-000_B9BW9YM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288067/original/059957100_1783296963-000_B9BZ2NC-Neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8797193/original/049229000_1782901634-1001418254.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8640288/original/075182200_1782645454-375460.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8594505/original/097229200_1782563779-duel-deui.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8468951/original/041041500_1782371332-Debt_Collector.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263661/original/061064700_1781954100-PHOTO-2026-06-20-16-19-23__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263647/original/081430200_1781951204-Potongan_video_viral_dua_pelajar_Palangka_Raya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263347/original/010659300_1781889219-InShot_20260619_211644664.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260608/original/023898800_1781610627-Screenshot_20260616_180850_Instagram.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259372/original/024371700_1781498109-VID-20260615-WA0014.jpg)