22 Tahun Bu Guru Sitimah Tempuh Perjalanan 180 Km Demi Cerdaskan Anak-Anak

Saat bertemu Mendikdasmen Abdul Mu'ti Bu Guru Sitimah menyampaikan harapan sederhananya di usia senja.

Diterbitkan 15 Mei 2026, 19:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Jarum jam baru menunjukkan waktu lepas Subuh. Meski langit masih gelap, Sitimah tampak sigap berkemas. Sepeda motor dinyalakan. Beberapa saat kemudian, kendaraan roda dua itu menembus udara dingin Kabupaten Boyolali menuju Kabupaten Kudus.

Saban hari, dia menghabiskan waktu lebih kurang 4 jam bolak balik Boyolali-Kudus. Melelahkan baginya. Tetapi, semangat bertemu murid-murid tercinta di SDN 7 Getassrabi mengalahkan segalanya. Dia mau anak-anak Kabupaten Kudus tak tertinggal.

“Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah zuhur dan sampai di rumah pukul 16,” Sitimah.

Sekadar informasi, Kabupaten Boyolali dan Kudus berjarak lebih kurang 90-an kilometer. Untuk satu kali perjalanan, dia menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam. Artinya untuk perjalanan pulang balik, Bu Sitimah menempuh jarak lebih kurang 180 km atau membutuhkan waktu tempuh lebih kurang 4-4,5 jam. Tanpa niat tulus dan panggilan hati, Sitimah udah menyerah. Tetapi dia sadar. Profesi ini sudah menjadi jalan takdir yang harus dilalui. Tak hanya itu, kecintaan pada anak-anak menjadi alasan untuk tetap bertahan.

“Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental,” ucap Sitimah lirih.

Jika dihitung, sudah 22 tahun, Sitimah menjalani profesi sebagai guru. Selama itu pula, berbagai tantangan sebagai tenaga pendidik sudah dirasakan.

 

Gaji Pertama Cuma Rp 50.000

Di awal mengajar tahun 2004 hingga 2010, Sitimah hanyalah Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. Bayarannya jauh dari kata layak. Bahkan tidak ada artinya sama sekali.

“Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp 50.000 per bulan. Lalu tahun 2008–2010 dapat bayaran Rp 220.000,” kenangnya.

Harapan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat menjadi CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi.

Di sekolah saat ini, terdapat 72 murid dengan enam ruang kelas. Sitimah dipercaya menjadi wali kelas 1 yang merupakan fase penting bagi anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar.

Menurutnya, mengajar kelas 1 membutuhkan kesabaran lebih karena anak-anak masih berada dalam masa transisi dari PAUD.

Bahkan tidak sedikit murid yang masih kesulitan membaca dan menulis. Karena itu, Sitimah kerap memberikan waktu tambahan secara sukarela, agar anak-anak tidak tertinggal pelajaran.

“Saya mengajar anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya, saya sudah izin kepada orang tua anak,” ungkapnya.

 

Berikan Les Siswa Gratis

Cita-cita Sitimah tak muluk-muluk. Dia hanya ingin anak-anak didiknya menjadi orang cerdas. Itu sebabnya, satu jam setelah kegiatan belajar selesai, ia mendampingi murid-murid yang membutuhkan perhatian lebih dalam hal belajar. Itu semua dia lakukan tanpa memungut biaya apa pun.

Bagi Sitimah, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika murid mendapatkan nilai baik, tetapi ketika tidak ada anak yang tertinggal dalam belajar.

Di tengah pengabdiannya, Sitimah mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru terus meningkat. Salah satunya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2026 yang mengatur penyaluran tunjangan profesi guru secara langsung setiap bulan ke rekening penerima.

“Sebelumnya tunjangan cair per tiga bulan. Kalau tahun 2026 ini tiap bulan sesuai gaji pokok,” katanya dengan wajah sumringah.

Tambahan penghasilan tersebut tidak hanya membantu kebutuhan keluarganya, tetapi juga menjadi jalan bagi Sitimah untuk berbagi kepada sesama.

Berbakal pendapatan itu, Sitimah rutin membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid-murid dari keluarga kurang mampu.

“Alhamdulillah berkah. Saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung. Terkadang bisa membantu perekonomian murid yang benar-benar minim ekonominya,” jelasnya.

Permintaan Sederhana Bu Guru Sitimah di Usia Senja

Namun, di balik keteguhan itu, usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan baru. Sitimah berharap suatu hari dapat mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya.

“Njih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan,” tuturnya pelan.

Ia mengaku telah dua kali mengajukan mutasi, tetapi belum dapat direalisasikan karena sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan tenaga pendidik.

 

Simpati Menteri Mu'ti

Harapan Sitimah kembali muncul, ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melakukan kunjungan kerja dan mendengar langsung kisah perjuangannya.

Di hadapan jajaran Pemkab Kudus, Mendikdasmen meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi.

“Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh,” tutur Abdul Mu’ti kepada perwakilan Dinas Pendidikan yang hadir.

Pemerintah sendiri telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Masyarakat.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu pemerataan kebutuhan guru sekaligus memberi ruang bagi penataan yang lebih manusiawi bagi para pendidik.

Kisah Sitimah menjadi potret nyata perjuangan banyak guru di Indonesia. Di tengah keterbatasan yang setiap hari ia jalani, Sitimah tetap percaya bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian. Bukan tentang seberapa jauh jarak yang dilalui, tetapi seberapa besar ketulusan yang diberikan demi masa depan anak-anak Indonesia.