Bima Arya: Indonesia Cuma Punya Satu Kesempatan Manfaatkan Bonus Demografi

Menurut dia, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika generasi muda dipersiapkan menjadi pemimpin berkarakter.

Diterbitkan 25 Juli 2026, 18:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengingatkan Indonesia hanya memiliki satu kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi sebagai momentum keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) menuju negara maju. Menurut dia, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika generasi muda dipersiapkan menjadi pemimpin berkarakter, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menghadapi tantangan global.

Hal itu disampaikan Bima saat menyampaikan orasi ilmiah bertema "Generasi Adaptif di Era Bonus Demografi: Membangun Kepemimpinan Digital, Kompetensi Masa Depan, dan Kolaborasi untuk Indonesia 2045" dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Garut dalam rangka Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan XLIV Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Garut, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026).

"Indonesia akan menjadi negara maju kalau kita bisa naik kelas dalam waktu 20 tahun. Masalahnya adalah kita hanya akan bisa naik kelas kalau bisa memanfaatkan bonus demografi," ujar Bima.

Dia menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki modal besar berupa dominasi penduduk usia produktif yang dapat menjadi penggerak percepatan pembangunan. Namun, bonus demografi tidak serta-merta membawa Indonesia menjadi negara maju apabila generasi muda tidak dibekali kompetensi dan karakter yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Menurut Bima, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah kebutuhan dunia kerja sekaligus tata kelola pemerintahan. Karena itu, generasi muda perlu menguasai berbagai kompetensi masa depan, mulai dari AI, big data, ilmu komputer, robotika, sistem informasi, hingga analisis data.

Dia mencontohkan, transformasi digital juga telah diterapkan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Salah satunya melalui pemanfaatan AI untuk mendukung pengelolaan talenta aparatur sipil negara (ASN) agar penempatan pegawai semakin sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

"Kalau saya ditanya mana yang lebih menentukan, kompetensi atau karakter, saya katakan 70 sampai 80 persen adalah tentang karakter," tegasnya.

Bima menilai, penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan masa depan. Menurut dia, kemampuan tersebut harus diimbangi dengan integritas, disiplin, kejujuran, kemampuan beradaptasi, serta semangat belajar sepanjang hayat.

Dia menegaskan, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh karakter kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Bima kemudian mengajak para wisudawan untuk menjadi pemimpin yang terbuka terhadap perbedaan, mampu berkolaborasi, menjaga keseimbangan hidup, serta membangun jejaring yang luas. Menurut dia, pemimpin masa depan tidak hanya dinilai dari kemampuan pribadi, tetapi juga dari kemampuannya bekerja sama dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain kompetensi dan kepemimpinan, Bima mengingatkan pentingnya menjadikan adab sebagai fondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Karakter yang baik, kata dia, akan membentuk pola pikir, memengaruhi tindakan, melahirkan kebiasaan positif, hingga menentukan masa depan seseorang.

Dia meyakini inovasi, kepemimpinan, dan semangat pengabdian para lulusan akan menjadi modal penting untuk memajukan Kabupaten Garut sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Â