Berawal dari Hobi, Bolen Jonggol Tembus Luar Negeri

Usaha Bolen Jonggol yang dirintis Neneng berawal dari hobi.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 10:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aroma cokelat yang baru dipanggang berpadu dengan manisnya pisang langsung menyambut saat Liputan6.com melangkah masuk ke ruang produksi Bolen Jonggol. Wangi mentega memenuhi ruangan.

Di atas meja panjang, bolen mentah berjajar rapi di dalam loyang. Di sisi kiri dan kanan ruangan, dua oven berukuran besar berdiri kokoh.

Suara pintu oven yang sesekali dibuka beradu dengan panas yang menguar setiap kali loyang dimasukkan. Perlahan, adonan yang semula pucat berubah menjadi kecokelatan dengan lapisan berkilau setelah dipanggang.

Di depan oven, pemilik Bolen Jonggol, Neneng Nurhayati Jamilah (46), tampak mengenakan apron cokelat. Dia memeriksa hasil panggangan, lalu beralih mengawasi proses pengisian adonan. Di sampingnya, seorang karyawan melipat adonan, memastikan setiap bolen memiliki bentuk dan ukuran yang seragam.

Usaha Bolen Jonggol yang dirintis Bu Neneng, begitu Neneng Nurhayati Jamilah disapa, berawal dari hobi. Sekitar tahun 2011, saat anak-anaknya masih kecil, Bu Neneng kerap menghabiskan waktu di dapur memenuhi permintaan mereka yang ingin mencicipi aneka kue buatan sang ibu. Hampir setiap hari ada saja resep baru yang dia coba. Dari kebiasaan itulah, kemampuan membuat kue terus terasah.

Sesekali, hasil buatannya diunggah ke media sosial atau dibawa saat menghadiri pertemuan bersama teman-teman. Tak disangka, respons yang diterima begitu positif. Banyak yang penasaran dengan rasa kue buatannya, lalu mulai meminta dibuatkan.

Meski mulai banyak permintaan, Kepala SDN Sukanegara 2 Jonggol itu belum berpikir menjadikan hobinya sebagai usaha yang serius. Dia hanya membuat kue ketika ada waktu luang atau saat anak-anak meminta dibuatkan.

"Kadang kalau anak mau gitu, minta bikin sekalian. Siapa yang mau nih sekalian gitu, paling itu juga dibatasi gitu," cerita Bu Neneng saat berbincang dengan Liputan6.com di kawasan Jonggol, 20 Juni 2026.

Dari dapur rumahnya, pada 2011 Bu Neneng mulai memberanikan diri membuka sistem pre-order (PO). Produksi masih sangat terbatas dan dilakukan sesuai pesanan. Kala itu, dia belum fokus pada bolen. Beragam kue basah, kue ulang tahun, hingga pesanan katering menjadi menu yang dikerjakannya sepanjang 2011 hingga 2017.

Selama beberapa tahun, Bu Neneng terus belajar membaca selera pasar. Pengalaman melayani berbagai pesanan membuatnya semakin memahami produk apa yang paling diminati pelanggan. Hingga akhirnya, pada 2017, dia memutuskan untuk memusatkan usahanya pada produksi bolen.

Keputusan itu tidak datang begitu saja. Saat mulai menekuni usahanya dengan lebih serius, Bu Neneng aktif bergabung dalam forum UMKM di Kabupaten Bogor. Dari komunitas tersebut, dia mendapat banyak masukan, berbagi pengalaman dengan sesama pelaku usaha, sekaligus memperoleh dukungan untuk mengembangkan bisnisnya.

Melalui forum itu pula, Bu Neneng mulai rutin mengikuti berbagai bazar UMKM. Kesempatan bertemu langsung dengan konsumen menjadi babak baru usahanya. Produk bolen buatannya semakin dikenal, sementara jaringan pelanggan terus bertambah dari satu bazar ke bazar lainnya.

Mulai Gunakan QRIS untuk Transaksi

Semakin sering mengikuti bazar, Bu Neneng menyadari kebiasaan konsumen mulai berubah. Banyak pengunjung datang tanpa membawa uang tunai. Di sisi lain, pelaku UMKM yang lebih dulu berkembang sudah mulai menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran.

"Saya lihat teman-teman sesama UMKM sudah banyak yang pakai QRIS BRI," ujar Bu Neneng.

Kesempatan untuk beralih ke pembayaran digital datang saat dia mengikuti sebuah bazar. Kala itu, petugas Bank BRI membuka layanan di lokasi dan menawarkan pembukaan rekening sekaligus pendaftaran QRIS kepada para pelaku UMKM.

Bu Neneng pun langsung mendaftarkan usahanya. Meski QRIS belum bisa digunakan pada hari itu juga, prosesnya tergolong cepat. Sekitar sepekan kemudian, dia mengambil kode QRIS yang sudah jadi di Kantor Cabang BRI Jonggol.

QRIS tersebut pertama kali digunakannya pada 2018 saat mengikuti Bazar Pasar Leuweung, kegiatan yang digelar Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan Dinas Kehutanan Kabupaten Bogor. Acara itu dihadiri banyak pengunjung, termasuk pegawai dari berbagai organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Sejak saat itu, QRIS tak pernah absen setiap kali Bu Neneng membuka stan, baik di bazar maupun di rumah produksinya. Menurutnya, kehadiran QRIS membuat transaksi menjadi jauh lebih mudah. Tak sedikit calon pembeli yang akhirnya tetap berbelanja meski tidak membawa uang tunai.

"Sekarang kebanyakan orang sudah enggak bawa uang cash. Kalau mereka mau beli tapi enggak bawa uang tunai, tinggal scan QRIS saja. Jadi transaksi tetap jalan," kata lulusan Magister Universitas Indraprasta PGRI itu.

Kemudahan itu turut membantu menjaga potensi penjualan. Kehadiran QRIS mengurangi risiko pembeli mengurungkan niat berbelanja hanya karena tidak memiliki uang tunai. Selain mempermudah pelanggan, QRIS juga membantu Bu Neneng mengelola keuangan usahanya. Seluruh transaksi langsung tercatat di aplikasi BRImo sehingga lebih mudah dipantau.

"Kalau ada transaksi, langsung masuk notifikasi ke WhatsApp. Jadi enggak perlu bolak-balik cek rekening. Tinggal lihat notifikasinya saja, nanti dananya juga masuk ke rekening," ujarnya.

Kembangkan Usaha Pakai KUR

Meski penjualan terus berjalan dan transaksi semakin mudah berkat QRIS, Bu Neneng masih menyimpan satu keinginan yang belum terwujud. Memiliki tempat usaha yang lebih layak untuk menyambut pelanggan.

Keinginan itu sebenarnya sudah muncul sejak lama. Dia bahkan pernah menyewa sebuah toko di pinggir jalan agar produknya lebih mudah dijangkau. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.

Biaya operasional yang harus dikeluarkan, mulai dari sewa tempat hingga gaji karyawan, tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Akhirnya, Bu Neneng memutuskan kembali menjalankan usahanya dari rumah.

Selama beberapa tahun, dia mengandalkan promosi melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Produk bolennya tetap dikenal pelanggan, tetapi rumah produksi yang berada di bagian dalam rumah membuat banyak orang kesulitan menemukannya.

"Kalau ada pembeli datang, mereka harus masuk ke dalam rumah dulu. Rasanya kurang nyaman juga," ujar Bu Neneng.

Di tengah kondisi penjualan yang mulai melambat dan biaya operasional yang terus meningkat, Bu Neneng mulai memikirkan cara lain. Alih-alih kembali menyewa toko, dia memilih memanfaatkan garasi rumah yang saat itu kondisinya sudah rusak untuk disulap menjadi area produksi sekaligus tempat penjualan.

Kendalanya adalah modal. Pendapatan usaha tidak lagi cukup untuk membiayai renovasi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari situlah Bu Neneng memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekitar setahun lalu.

Dia memperoleh pinjaman sebesar Rp 60 juta. Dana tersebut digunakan untuk merenovasi garasi menjadi toko dan ruang usaha yang lebih representatif, sekaligus membeli etalase baru dan mengganti sejumlah peralatan produksi yang sudah mulai menua.

"Yang pertama untuk renovasi tempat ini. Terus tambah etalase dan ganti alat-alat produksi yang memang sudah lama," katanya.

Kini pelanggan yang datang bisa langsung melihat deretan bolen yang dipajang di etalase tanpa harus memasuki area rumah pribadi. Bagi Bu Neneng, perubahan tersebut membuat usahanya terlihat lebih profesional sekaligus memberikan kenyamanan bagi pelanggan yang datang berbelanja.

Produk Tembus Luar Negeri

Bolen buatan Bu Neneng kini telah menempuh perjalanan ribuan kilometer. Tidak hanya menjadi oleh-oleh favorit warga Bogor dan sekitarnya, produk buatannya juga telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ikut terbang hingga ke luar negeri.

Jangkauan pemasaran Bolen Jonggol terus meluas seiring bertambahnya pelanggan. Selama masa simpannya masih memungkinkan, Bu Neneng tak ragu melayani pesanan dari luar Pulau Jawa.

Padang menjadi salah satu tujuan pengiriman terjauh yang pernah dilayaninya. Selain itu, bolen buatannya juga pernah dikirim ke Bangka dan sejumlah kota lain yang masih dapat dijangkau jasa ekspedisi dalam waktu maksimal tiga hari. Dengan daya tahan produk hingga lima hari, pengiriman antarpulau masih dinilai aman.

"Kalau masih memungkinkan dari sisi waktu pengiriman, tetap kami layani," ujar Bu Neneng.

Tak hanya itu, Bolen Jonggol juga pernah ikut menembus pasar internasional, meski bukan melalui jalur ekspor resmi. Beberapa pelanggan yang membuka jasa titip (jastip) membawa bolen buatannya sebagai oleh-oleh ke luar negeri.

Salah satunya menuju Turki. Saat itu, seorang pelanggan membeli sekitar 15 kotak bolen untuk dibawa dalam perjalanan. Kesempatan serupa juga pernah terjadi untuk tujuan Madinah, ketika pelanggan lain membawa sekitar 10 kotak bolen menggunakan pesawat.

Kepincut Bolen Jonggol

Rasa penasaran membawa Ria (34) mencoba Bolen Jonggol. Berkali-kali dia mendengar orang membicarakan kelezatan bolen khas Jonggol itu. Dia akhirnya membeli bolen tersebut di kawasan Alun-alun Jonggol.

Menurut Ria, salah satu hal yang membuatnya tertarik adalah konsep produksi Bolen Jonggol yang dibuat segar setiap hari. Produk baru dipanggang ketika ada pesanan sehingga tidak menggunakan bahan pengawet.

Tak hanya mencicipi varian pisang cokelat dan pisang keju, Ria juga mencoba bolen durian dan cempedak. Baginya, setiap varian memiliki cita rasa yang khas.

Namun, ada satu menu yang paling mencuri perhatiannya, yakni Bolen Piza, inovasi bolen dengan cita rasa gurih. Berbeda dari bolen pada umumnya yang identik dengan isian manis, Bolen Pisa disajikan dengan isian gurih lengkap dengan saus, mayones, dan keju.

"Rasanya benar-benar di luar ekspektasi. Gurih, creamy, dan unik. Saya belum pernah menemukan bolen seperti ini sebelumnya," ujar Ria.

UMKM Makin Percaya Pembayaran Digital

Tren pembayaran digital semakin digemari masyarakat, terutama generasi muda dan pelaku UMKM. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat, sepanjang semester I 2025, volume transaksi merchant yang menggunakan layanan BRI melonjak hingga Rp 105,5 triliun, naik 27,2% dibanding periode sama tahun lalu.

Tidak hanya itu, rata-rata penjualan per merchant juga ikut melesat 62,5% YoY. Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menegaskan bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan misi BRI dalam memperkuat peran UMKM di era digital.

“Hal ini sejalan dengan misi BRI untuk memberdayakan UMKM melalui akses keuangan yang lebih mudah, aman, dan efisien,” kata Aquarius.

Salah satu faktor pendorong lonjakan transaksi digital BRI adalah pemakaian QRIS. Nilai transaksi QRIS naik 142,9% YoY, sementara rata-rata transaksi per toko tumbuh 141,5% YoY. Dari sisi jumlah transaksi, lonjakannya bahkan mencapai 162,5% YoY.

“QRIS telah menjadi salah satu instrumen utama bagi masyarakat dan merchant dalam bertransaksi digital. Lonjakan penggunaan QRIS di BRI tidak hanya memperluas akses pembayaran non-tunai, tetapi juga mendukung efisiensi ekonomi secara menyeluruh,” jelas Aquarius.

Menurut Aquarius, BRI akan terus mendorong pertumbuhan transaksi digital dengan menghadirkan ekosistem yang makin luas. Mulai dari menambah merchant produktif, inovasi pembayaran baru, hingga literasi keuangan digital bagi masyarakat.

“Dengan strategi tersebut, BRI optimistis dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi nasabah, pelaku usaha, dan perekonomian nasional secara berkelanjutan,” ujarnya.