DPR Pertanyakan Intensitas Latsarmil untuk Peserta SPPI

Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta SPPI.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyoroti meninggalnya tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil).

Menurut dia, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap desain pelatihan, di mana seharusnya lebih difokuskan pada peningkatan kapasitas manajerial dan teknis yang relevan dengan tugas peserta sebagai pengelola koperasi.

"Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan. Adapun pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja," ungkap TB Hasanuddin kepada wartawan di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Dia mengusulkan, pelatihan dasar dapat diarahkan untuk membangkitkan kekompakan, disiplin pribadi, dan kebersamaan, seperti baris-berbaris demi kerapian, santiaji, apel untuk belajar menghormati waktu, dan senam pagi untuk menjaga kebugaran.

Meski demikian, Politikus PDIP ini menegaskan, mereka yang mengikuti latihan dasar harus lolos tes kesehatan.

"Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal," ungkap TB Hasanuddin.

 

"Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta," sambungnya.

Penjelasan Komandan Batalyon

Sebelumnya, tiga orang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Penyebabnya meninggal, rata-rata karena penyakit. Korps Marinir TNI AL menjelaskan rutinitas peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang dilakukan anggota SPPI calon pengelola Koperasi Merah Putih.

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak Letkol (Mar) Agus Mutaqin mengatakan kegiatan para peserta dibuka dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB.

"Kemudian melaksanakan ibadah salat Subuh. Selanjutnya kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, kemudian dilanjutkan makan pagi," kata Agus saat ditemui awak media di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026). Seperti dilansir Antara.

Setelah makan pagi, para peserta mengikuti kegiatan apel pagi. Dilanjutkan kegiatan baris berbaris dan akhirnya masuk ke kelas untuk mengikuti materi.

Setelah mengikuti materi kelas sampai sore, para peserta diajak mengikuti kegiatan "pengasuhan" oleh para pelatih.

"Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan," jelas Agus.

Setelah itu peserta diizinkan untuk istirahat, salat dan makan. Akhirnya beristirahat pukul 21.30 WIB. Agus menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan itu dilakukan dengan bimbingan para pelatih dari Korps Marinir.

Hukuman Tidak Standar Militer

Pelatih juga menerapkan pemberian hukuman dan penghargaan untuk para peserta yang melanggar peraturan ataupun berprestasi selama menjalankan pendidikan.

Hukuman yang diberikan tidak disesuaikan dengan standar kemiliteran pada umumnya, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan para peserta.

Tujuan dari pemberian hukuman dan reward itu dilakukan untuk meningkatkan jiwa disiplin dan semangat para peserta dalam menjalankan pendidikan. Hingga saat ini, lanjut Agus, seluruh rangkaian pendidikan latsarmil masih berjalan dengan aman dan kondusif.