Liputan6.com, Jakarta - Cendekiawan Perempuan Nahdlatul Ulama Yenny Wahid menilai, salah satu capaian penting Partai Demokrat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah keberhasilan menjaga stabilitas politik tanpa mengorbankan kualitas demokrasi.
Menurut dia, stabilitas politik, fungsi demokrasi, serta disiplin berjalan beriringan sehingga proses konsolidasi demokrasi Indonesia berlangsung baik.
“Di era pemerintahan Presiden SBY, stabilitas politik terjaga, tetapi demokrasi juga tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Disiplin dan komitmen terhadap demokrasi dijaga kuat," ujar Yenny seperti dikutip dari keterangan diterima, Rabu (2/9/2026).
Advertisement
Sebagai mantan Staf Khusus Presiden bidang komunikasi politik pada era Presiden SBY, Yenny mengatakan komitmen menjaga demokrasi tercermin antara lain dari terjaganya netralitas instrumen negara dan tidak digunakannya aparat untuk kepentingan politik praktis.
"Tidak ada politisasi aparat dan netralitas instrumen negara tetap dijaga,” tegas Yenny.
Menurut Yenny, kombinasi antara stabilitas dan penghormatan terhadap prinsip demokrasi tersebut penting karena Indonesia kala itu masih menjalani proses transisi dan rekonsolidasi demokrasi pasca-Reformasi. Artinya, pemerintahan tidak hanya dituntut mampu menjaga efektivitas dan stabilitas politik, tetapi juga memastikan kekuasaan tetap dijalankan dalam koridor demokrasi.
Karena itu, lanjut Yenny, salah satu pekerjaan penting Partai Demokrat ke depan adalah terus menjaga pilar-pilar demokrasi, dengan memastikan institusi negara bekerja profesional, ruang politik tetap terbuka, dan kompetisi kekuasaan berlangsung secara sehat.
"Legacy demokrasi, pada akhirnya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dijaga dan diteruskan," ujar alumnus Kennedy School of Government, Harvard University itu.
Sarasehan 25 Tahun Partai Demokrat
Dalam kesempatan senada, pandangan tersebut diperkuat Profesor Riset BRIN Siti Zuhro. Ia menilai sejumlah praktik demokrasi pada masa pemerintahan SBY mungkin saja dahulu dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun saat ini, praktik itu justru semakin terasa nilainya ketika dilihat dari perspektif perjalanan demokrasi Indonesia hari ini.
"Dulu kita pikir itu hal biasa. Sekarang terasa luar biasa. Incredible,” Zuhro menambahkan.
Sebagai informasi, pernyataan Yenny dan Zuhro disampaikan saat Sarasehan 25 Tahun Partai Demokrat di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Sarasehan 25 Tahun Partai Demokrat dihadiri Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Menko Infrastruktur dan Pembangunan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Sekjen Partai Demokrat Herman Khaeron, Bendahara Umum Irwan Fecho, para anggota DPR RI, dan lainnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302223/original/051263400_1784536914-cek_fakta_-_Ahok_kaesang_PSI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303115/original/003143700_1784619310-mahfud_md_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338393/original/001741600_1788327771-WhatsApp_Image_2026-09-02_at_05.41.07__1_.jpeg)