Menristekdikti Klarifikasi Isu Tutup Prodi Tak Relevan Kebutuhan Industri

Sepanjang 2026 telah dilakukan penutupan 122 program studi.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 13:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Menristekdikti) Brian Yuliarto mengklarifikasi isu penutupan program studi (prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri strategis nasional. Dia menegaskan, tak ada penutupan prodi, melainkan mengarahkannya agar sesuai dengan kebutuhan industri.

“Alih-alih kita menutup, tetapi kita mengembangkan program studi untuk bisa sesuai, matching, dengan kebutuhan industri. Tapi bukan atau tidak dengan menutup program studi tetapi lebih mengembangkan dan menyesuaikan dengan substansi yang diajarkan. Termasuk prodi pendidikan betul itu, jadi seluruh prodi seperti itu,” kata Brian dalam rapat Komisi X DPR, Selasa (2/6/2026).

Menurut Brian, sepanjang 2026 telah dilakukan penutupan 122 program studi. Namun, penutupan itu berdasarkan usulan dari pihak kampus sendiri atau badan penyelenggara PTN maupun PTS.

“Jadi beberapa ada yang mahasiswanya berkurang, atau mereka ingin mengganti menjadi program studi yang lebih atraktif, seperti misalnya sebelumnya matematika menjadi aktuaria, karena ketika lulusan aktuaria mereka fokus pelajarannya lebih banyak yang nantinya dibutuhkan oleh industri,” bebernya.

Brian menegaskan, isu berkembang bahwa kementerian pendidikan tinggi akan melakukan penutupan program studi untuk penyesuaian dengan industri yang akan berkembang di masa depan adalah tidak benar.

“Yang ada adalah program untuk pembinaan dan pengembangan program studi. Kenapa? Karena sesungguhnya program studi itu tidak ditutup tetapi lebih kepada substansinya, misalnya yang sebelumnnya jurusan teknik elektro, kemudian sekarang menjadi AI atau machine learning atau robotics," jelasnya.

"Jadi memang itu yang kemudian kita meminta melalui badan pekerja, badan koordinasi,” pungkasnya.

Sesuaikan Prodi dengan 8 Industri

Sebelumnya, Kemdiktisaintek mengungkap menyiapkan langkah penyesuaian prodi di perguruan tinggi agar lebih selaras dengan arah pembangunan industri nasional. Sejumlah prodi yang dinilai tidak lagi relevan akan diarahkan untuk bertransformasi mengikuti kebutuhan sektor strategis.

Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco menyebut, penyesuaian tersebut akan berfokus pada delapan sektor industri prioritas, yakni kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim. Dia menekankan, sektor-sektor ini diharapkan tumbuh signifikan hingga mencapai 12–15 persen sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

“Ini delapan industri strategis yang harus kita dorong pertumbuhannya, idealnya bisa tumbuh di atas 12 sampai 15 persen,” ujar Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026, yang dikutip dari kanal YouTube Kemendukbangga, Senin (27/4/2026).