Transmigran Bertaruh Hidup di Kebun Karet, bak Ayam Kehilangan Induk

Kedatangan Sugianto ke Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan harapan sederhana, yakni bisa mendapatkan kehidupan lebih baik.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di hamparan kebun karet di Desa Bunga Putih, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, seorang pria paruh baya tampak malu-malu berdiri di samping Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi. Sugianto (65), seorang warga trans asal Jawa Tengah mengingat betul saat pertama kali datang ke daerah tersebut, meski umurnya tak lagi muda.

"Kami ditempatkan awal tepatnya tanggal 28 Februari tahun 1985, berasal dari Kabupaten Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah," jawab Sugianto saat ditanya Viva Yoga, Sabtu (23/5/2026).

Kedatangan Sugianto ke Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan harapan sederhana, yakni bisa mendapatkan kehidupan lebih baik.

Dia bercerita, pertama kali menginjakan kaki di tanah Borneo, Sugianto menerima lahan sekitar 3 hektar per masing-masing kepala keluarga. Awalnya, lahan tersebut diproyeksikan untuk ditanami tanaman pangan. Namun, faktanya tidak semudah itu.

Sugianto dan sejumlah warga trans tidak tinggal diam. Mereka memutar otak memikirkan lahan tersebut bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada akhirnya, pilihan jatuh ke pohon karet.

"Lokasinya tidak bisa ditanami tanaman pangan, maka oleh petani sendiri itu ditanami karet juga seperti ini misalnya, ini tanaman sendiri," kata Sugianto.

Kala itu, sistem trasmigrasi masih menggunakan pola kredit. Sugianto menyebut, pengelolaan kebun awalnya dilakukan oleh PTP 26 sebelum diserahkan ke warga. Namun, kondisi tanaman tidak merata.

"Tanaman yang diserahkan pada petani ini tanamannya tidak merata. Ada yang satu bagian 2 hektar itu tanamannya hanya ada yang 300 pohon. Kalau yang full yang dinamakan kelas A itu 800 pohon," tandasnya.

Tahun demi tahun terlewati oleh Sugiarto, ia dan keluarga bertahan meski tak lagi di kampung halaman. Akan tetapi, bagi Sugianto, menjadi warga trans itu seperti ayam yang kehilangan induknya.

Sebagai warga trans, pembinaan oleh pemerintah kian jarang rasakan. Pembangunan infrastruktur, bantuan produksi, hingga perhatian ke petani karet terlihat sangat minim.

"Karena lama tidak ada pembinaan dan lain sebagainya," ucapnya pelan.

Karena itu, kedatangan Wamentrans Viva Yoga diharapkan bisa momen penting dan berharga bagi warga trans, khususnya para petani karet.

Petani Masih Keluhkan Jalan Rusak

Sebagai petani karet, urusan dapur Sugianto hanya berharap pada sebuah getah yang akan dijual dengan harga tak pasti. Ada kalanya tinggi, ada pula saat benar-benar jatuh. Sugianto masih ingat betul saat harga karet jatuh di harga Rp 6.000 - Rp 7.000 per kilogram.

Di sisi lain, harga karet bisa naik cukup tinggi. Saat ini, harga karet mencapai Rp 15.500 per kilogramnya. Secara perlahan, kondisi ini bisa meningkatkan pendapatan bagi para petani.

"Sekarang alhamdulillah dengan kenaikan harga ya mudah-mudahan ini bisa meningkat

Walaupun keadaan saat ini membaik, Sugianto dan para petani lain masih memiliki kendala, yaitu jalan produksi dan alat pertanian. Sugianto berharap, pemerintah bisa memerhatian akses jalur produksi yang memprihatinkan. Kondisi ini menyulitkan para petani mengangkut hasil produksi.

Masalah pupuk tidak luput dari Sugianto. Para petani karet mengeluhkan harga pupuk mahal, karena selama ini mereka tidak mendapatkan pupuk subsidi.

Di akhir perbincangan, Sugianto berharap, keluh kesah yang telah disampaikan betul-betul menjadi perhatian bagi pemerintah. Bukan hanya sekadar meninjau, melainkan aksi nyata yang menjadi harapan bagi masyarakat.

"Supaya nanti bisa lebih dipikirkan hal-hal yang menyangkut untuk kepentingan masyarakat kami, Pak," tutupnya.