InJourney Kolaborasi dengan Banyuwangi, Gandrung Sewu 2026 Perkuat Promosi Budaya

Banyuwangi merupakan daerah yang kreatif dan inspiratif dengan ratusan event yang diselenggarakan setiap tahun.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 14 Oktober 2026, 20:25 WIB
Direktur Sumber Daya Manusia dan Digital InJourney Herdy Rosadi Harman dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney mendukung penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dukungan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, termasuk penguatan kapasitas masyarakat, pelibatan UMKM, hingga upaya mengangkat seniman tradisional.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Digital InJourney Herdy Rosadi Harman mengatakan, Banyuwangi merupakan daerah yang kreatif dan inspiratif dengan ratusan event yang diselenggarakan setiap tahun.

Karena itu, InJourney ingin ikut berkolaborasi untuk memperkuat penyelenggaraan event budaya di daerah tersebut.

“Ini tadi sudah disampaikan bentuk kolaborasi InJourney dengan pemerintah daerah, apalagi ini Banyuwangi yang memang daerah yang sangat kreatif, sangat inspiratif, di mana event-nya aja ratusan,” kata Herdy dalam konferensi pers Gandrung Sewu 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut Herdy, kolaborasi tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan dalam penyelenggaraan Gandrung Sewu.

Pertunjukan yang biasanya berlangsung pada sore hari kini dirancang tampil pada malam hari dengan konsep glow in the dark dan rangkaian acara selama tiga hari.

“Dan ini luar biasa dan harapannya InJourney ini bisa membantu berkolaborasi untuk penyelenggaraan event. Tadi sudah disampaikan sama Ibu konsepnya agak di-twist sedikit,” ujarnya.

Ia mengaku konsep penampilan penari pada malam hari tersebut akan memberikan pengalaman berbeda bagi penonton. Namun, Herdy belum mengungkap seluruh detail pertunjukan karena masih ada kejutan yang disiapkan panitia.

“Jadi glowing in the dark, kebayang tuh kan seru tuh ya, jadi ada glowing-glowing-nya sambil nari di malam hari dan jadi tiga hari,” katanya.

Terkait persiapan menjelang hari pelaksanaan, Herdy menyebut panitia telah melakukan berbagai persiapan untuk mendukung kelancaran acara.

“Dan ini tentu saja nanti panitia kesiapannya insyaallah sudah well prepared. Insyaallah kita tinggal, kalau kebanyakan diceritain jadi nggak seru,” ujarnya.

Herdy berharap Gandrung Sewu 2026 menjadi momentum baru untuk semakin mengangkat potensi Banyuwangi melalui seni dan budaya.

Menurutnya, dukungan InJourney tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga mencakup program yang melibatkan masyarakat setempat.

“Poinnya ini satu momentum baru yang harapannya bisa terus mengangkat daerah Banyuwangi,” kata Herdy.

Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut mencakup pelatihan hospitality bagi masyarakat untuk meningkatkan kesiapan dalam melayani wisatawan.

Selain itu, UMKM juga dilibatkan agar aktivitas pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Dan InJourney ini dalam konteks kolaborasi ini tadi saya udah sampaikan ini cukup paket lengkap nih, Pak. Tadi ada pelibatan masyarakatnya untuk training hospitality, ada UMKM-nya,” ujarnya.

InJourney juga menyiapkan kolaborasi melalui program peluncuran inisiatif peduli budaya untuk mengangkat seniman-seniman tradisional.

Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan atraksi, tetapi juga memperhatikan pelaku budaya dan masyarakat lokal.

“Dan kita juga ada kolaborasi untuk nanti program launching peduli budayanya InJourney untuk mengangkat seniman-seniman tradisional,” pungkas Herdy.

 

Penggerak Ekonomi Banyuwangi

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Gandrung Sewu 2026 selama tiga hari, mulai 22 Oktober hingga 24 Oktober 2026.

Berbeda dari tahun sebelumnya, pertunjukan kolosal yang menampilkan lebih dari seribu penari Gandrung itu akan digelar pada malam hari dengan sejumlah atraksi baru.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penyelenggaraan tahun ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan skala event budaya tersebut agar tidak hanya menjadi pertunjukan tari kolosal, tetapi juga sarana promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

“Biasanya kami selenggarakan di sore hari dan tahun 2026 Gandrung Sewu diselenggarakan di malam hari. Ada banyak kejutan nantinya dalam Gandrung Sewu 2026 ini,” kata Ipuk dalam konferensi pers Gandrung Sewu 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Ipuk menjelaskan, pertunjukan tahun ini akan menghadirkan penampilan penari dengan konsep glow in the dark. Selain itu, panitia juga menyiapkan sejumlah atraksi lain untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung.

“Selain nanti juga penarinya akan terlihat glowing, ya, glow in the dark. Tidak hanya itu, tetapi juga ada atraksi-atraksi lain yang nanti disuguhkan,” ujarnya.

Menurut Ipuk, perluasan durasi penyelenggaraan dari satu hari menjadi tiga hari juga menjadi bagian dari transformasi Gandrung Sewu.

Rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 22–24 Oktober 2026, dengan pertunjukan utama yang dijadwalkan pada 24 Oktober di Pantai Boom, Banyuwangi.

“Jadi biasanya Gandrung Sewu diselenggarakan dalam satu hari, ini diselenggarakan dalam tiga hari. Jadi dari mulai rangkaian tanggal 22 hingga tanggal 24. Dan ini bagian dari bagaimana Gandrung Sewu mulai naik kelas, kalau kami bilang, bertransformasi,” kata Ipuk.

Ia menegaskan, Gandrung Sewu bukan sekadar pertunjukan yang melibatkan banyak penari. Bagi Banyuwangi, kesenian Gandrung merupakan ikon daerah sekaligus representasi kekuatan budaya yang dibangun melalui kolaborasi.

Ipuk menjelaskan, nama Gandrung Sewu memiliki makna yang lebih luas daripada jumlah penari yang tampil. Meski jumlah penarinya bisa lebih dari seribu orang, esensi pertunjukan tersebut terletak pada kekuatan kolaborasi di antara para penari.

“Mengapa kami menyebutnya Gandrung Sewu walaupun penarinya lebih dari seribu? Karena ini bagian dari bagaimana penari juga memiliki kekuatan. Jadi ini bagian dari kolaborasi. Kami ingin memberikan pemahaman bahwa Gandrung Sewu ini adalah bagian dari kolaborasi,” tuturnya.

“Penari satu dan penari seribu tentu berbeda. Nah, maka inilah esensi dari Gandrung Sewu,” sambung Ipuk.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, Pemkab Banyuwangi juga berkolaborasi dengan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.

Ipuk menyebut dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas promosi Gandrung Sewu dan pariwisata Banyuwangi.

“Kami tahun ini menyelenggarakan Gandrung Sewu berkolaborasi, bersinergi dengan InJourney, dan kami mendapatkan support secara langsung dari InJourney,” ujarnya.

Ipuk menilai, budaya dan seni merupakan modal utama Banyuwangi dalam mengembangkan sektor pariwisata. Menurutnya, potensi wisata tidak semestinya hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga perlu ditopang oleh kekayaan tradisi dan kesenian lokal.

“Pariwisata biasanya hanya mengandalkan alam. Tetapi bagi Banyuwangi budaya adalah modal utama kami. Dan Gandrung adalah salah satunya,” kata Ipuk.

Melalui Gandrung Sewu, Pemkab Banyuwangi berharap promosi daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk tingkat internasional. Ia ingin pertunjukan tersebut menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh potensi wisata dan budaya Banyuwangi.

“Dan mudah-mudahan dalam Gandrung Sewu ini tidak hanya kita melihat tari kolosal, tapi juga kami mempromosikan Banyuwangi di tingkat yang lebih luas lagi, mungkin di tingkat internasional,” ujarnya.

Selain memperkuat promosi pariwisata, Ipuk menekankan pentingnya dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia berharap penyelenggaraan event tersebut mampu membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor jasa, serta kegiatan ekonomi kerakyatan lainnya.

“Kami berharap dalam event Gandrung Sewu ini tidak hanya menghadirkan orang datang menyaksikan tari kolosal, tetapi juga ada dampak yang nyata di tengah masyarakat kami,” katanya.

Ipuk mengatakan, pemerintah daerah akan memfasilitasi pelaku UMKM agar mereka dapat ikut mengambil manfaat dari penyelenggaraan event tersebut.

“Yaitu bagaimana pelaku UMKM kami fasilitasi, lalu juga ekonomi-ekonomi kerakyatan tumbuh, sektor jasa juga terdampak dalam kegiatan Gandrung Sewu ini,” ujarnya.

Ia berharap Gandrung Sewu 2026 tidak berhenti sebagai atraksi budaya yang menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian lokal.

“Jadi berharap dalam event Gandrung Sewu ini tidak hanya orang hadir datang menyaksikan tari kolosal, tetapi juga bagaimana ekonomi kami bergerak,” pungkas Ipuk.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya