Liputan6.com, Jakarta - Warung kecil itu tampak ramai meski berdiri menyatu dengan rumah. Aneka makanan ringan, minuman sachet, hingga kebutuhan harian tersusun memenuhi rak dan gantungan yang memanjang dari depan hingga ke bagian dalam toko.
Di belakang etalase, Ernawati melayani pembeli yang datang, sambil sesekali mengawasi anaknya yang bermain di sekitar warung. Tak banyak yang tahu, usaha yang kini menjadi sumber penghidupan keluarga itu berawal dari kondisi sulit saat pandemi Covid-19.
Advertisement
Saat itu, suami Ernawati yang bekerja di pabrik harus kehilangan pekerjaan. Tabungan keluarga habis, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan. Dalam situasi tersebut, Ernawati memutuskan membuka usaha seblak dari rumah dengan modal Rp 500 ribu yang dipinjam dari orang tuanya. Uang itu bahkan sudah termasuk untuk membeli blender guna membuat bumbu dagangannya.
"Itu saya pinjem dari orang tua. Ya kan, karena kan kita tabungan udah habis lah," cerita Ernawati saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya kawasan Setu Sari, Cileungsi, Bogor, Minggu (14/6/2026).
Tak ada usaha yang sia-sia. Usaha seblak yang dijalankan dari teras rumah mulai dikenal warga sekitar. Pesanan datang dari tetangga hingga penghuni kompleks yang kerap meminta makanan diantar langsung ke rumah.
Keuntungan yang diperoleh tidak langsung dinikmati, melainkan diputar kembali untuk membeli etalase kecil agar dagangan lebih rapi dan terlindung dari debu. Dari sana, Ernawati mulai menambah jualan minuman dan kebutuhan harian lainnya hingga warungnya semakin lengkap.
Untuk mengembangkan usaha, Ernawati kemudian mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2023. Pinjaman pertamanya sebesar Rp 10 juta.
"Katanya KUR bunganya ringan dan cocok untuk usaha kecil. Saya coba ajukan atas nama sendiri, alhamdulillah disetujui," ujarnya.
Saat itu usaha seblaknya masih berjalan dan menjadi penopang utama pembayaran cicilan. Karena usahanya lancar, Ernawati kembali mengajukan KUR pada 2024 dengan plafon Rp 25 juta.
Pada 2026, Ernawati kembali memperoleh KUR BRI dengan plafon Rp 45 juta. Pinjaman tersebut baru cair sekitar dua bulan lalu.
Omzet Naik, Tambah Aset dan Perbaiki Rumah
Pinjaman KUR BRI membuat perputaran usaha Ernawati jauh lebih besar dibanding saat pertama kali merintis usaha. Jika dulu pemasukan usaha seblak dan minuman hanya sekitar Rp 100 ribu per hari, kini omzet warung sembakonya saja bisa mencapai Rp 300 ribu per hari.
Saat ramai, pendapatan gabungan dari warung dan usaha lainnya bahkan bisa menyentuh Rp 500 ribu sehari.
"Pemasukan alhamdulillah ikut naik," kata Ernawati.
Manfaat KUR tidak hanya dirasakan untuk menambah stok barang dagangan. Ernawati mengaku sebagian keuntungan usaha dan tambahan modal juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang selama ini tertunda.
Sedikit demi sedikit, rumah yang ditempatinya mulai direnovasi, terutama bagian dapur yang sebelumnya belum layak. Meski belum sepenuhnya selesai, perubahan itu menjadi salah satu hasil nyata yang dirasakan keluarga.
Selain memperbaiki rumah, Ernawati dan suami juga membeli kendaraan untuk mendukung pekerjaan sang suami yang berprofesi sebagai tukang bangunan. Sebelumnya, mereka harus mengeluarkan biaya sewa kendaraan setiap kali mengangkut material atau membuang puing bangunan.
Kini kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan kendaraan milik sendiri. Di sisi lain, dia juga menambah perlengkapan usaha seperti showcase, rak dagangan, hingga sepeda listrik yang digunakan untuk mengantar pesanan kepada pelanggan di sekitar lingkungan rumah.
"Alhamdulillah, KUR sangat membantu ekonomi keluarga," ujarnya.
Bantuan tersebut terasa semakin berarti saat dua anaknya masuk sekolah pada waktu yang hampir bersamaan. Biaya seragam dan perlengkapan sekolah yang mencapai jutaan rupiah dapat dipenuhi tanpa harus mengganggu modal usaha.
Warung Andalan Warga
Bagi warga sekitar, warung milik Ernawati memudahkan masyarakat karena menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga tanpa harus pergi jauh ke pasar atau minimarket.
Salah seorang warga, sebut saja Siti, mengaku sudah menjadi pelanggan sejak Ernawati masih berjualan seblak dari rumah. Menurutnya, rasa seblak buatan Ernawati menjadi salah satu favorit warga di lingkungan tersebut.
"Dari dulu saya sering beli seblaknya. Rasanya enak dan harganya terjangkau. Sekarang walaupun warungnya sudah lebih besar, pelayanannya tetap ramah seperti dulu," ujarnya.
Tak hanya seblak, warung sembako Ernawati juga menjadi pilihan warga untuk memenuhi kebutuhan harian. Beragam barang yang semakin lengkap membuat pelanggan tidak perlu keluar komplek untuk berbelanja.
"Kalau butuh apa-apa biasanya ke sini dulu. Mulai dari sembako, jajanan anak, minuman sampai kebutuhan rumah tangga ada. Jadi sangat membantu warga sekitar," kata Siti.
BRI Cileungsi Genjot UMKM, Debitur Hampir 5 Ribu
Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana, menyebut pelaku UMKM di wilayahnya lebih banyak memilih Kredit Usaha Rakyat (KUR) dibandingkan kredit komersial seperti Kupedes. Alasannya, KUR menawarkan bunga subsidi pemerintah serta persyaratan agunan yang lebih ringan.
Menurut Luki, sektor usaha di Cileungsi masih didominasi perdagangan dan jasa kontrakan. Perkembangan kawasan industri dan banyaknya pabrik di sekitar wilayah tersebut ikut mendorong perputaran ekonomi, terutama kebutuhan tempat tinggal dan usaha pendukung.
Namun, dia mengakui kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil masih menjadi tantangan bagi pelaku UMKM. Sejumlah usaha yang sebelumnya berkembang kini mengalami penurunan omzet, yang turut berdampak pada kemampuan pembayaran kredit.
Meski begitu, penyaluran pembiayaan UMKM di BRI Cileungsi tetap menunjukkan pertumbuhan. Saat ini jumlah debitur aktif tercatat sekitar 4.800 hingga 5.000 nasabah, dengan tren penambahan nasabah baru yang masih berjalan.
“Nasabah baru tetap ada peningkatan,” ujar Luki.
Dia menjelaskan, BRI Cileungsi memiliki delapan mantri atau petugas pemasaran kredit yang aktif di lapangan. Masing-masing mantri rata-rata mampu menjaring sekitar lima hingga tujuh debitur baru setiap bulan.
Tidak hanya menyalurkan pembiayaan, BRI juga melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM sejak awal pencairan hingga usaha berjalan. Pendampingan dilakukan secara berkala, minimal satu hingga tiga bulan sekali, untuk memastikan dana digunakan secara produktif.
“BRI fokusnya memang ke UMKM. Kita kasih modal lalu didampingi supaya usahanya bisa naik kelas,” kata Luki.
Ke depan, BRI Cileungsi menargetkan pertumbuhan pembiayaan UMKM terus meningkat melalui program KUR maupun skema pembiayaan lain untuk usaha yang lebih besar. “BRI harus terus tumbuh. Fokus utama tetap pengembangan UMKM,” ujarnya.