Momen Pilu Keluarga Sambut Jenazah ASN Korban Penembakan KKB

Isak tangis keluarga mengiringi kedatangan jenazah Aprida Rapi, korban penembakan di Jayawijaya, Papua Pegunungan.

OlehFauzan
Diterbitkan 12 September 2026, 16:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelukan erat dan isak tangis mengiringi kedatangan jenazah Aprida Rapi (49) di Terminal Cargo Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat 11 September 2026 sore. Dua anak perempuan almarhumah terlihat memeluk peti jenazah sebelum dibawa menuju kampung halamannya di Tana Toraja.

Aprida merupakan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Ia menjadi satu dari tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang tewas dalam penembakan yang diduga dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Rabu (9/9/2026).

Jenazah Aprida tiba di Makassar menggunakan pesawat Sriwijaya Air setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Papua Pegunungan, dengan transit di Jayapura dan Merauke.

Setibanya di terminal kargo, peti jenazah dikeluarkan dari gudang dan dimasukkan ke dalam ambulans. Keluarga dan kerabat yang menunggu tak kuasa menahan tangis saat jenazah dibawa keluar.

Suami korban, Yohanis Tonglo, mengatakan jenazah akan dibawa ke Tana Toraja setelah keluarga melaksanakan ibadah terlebih dahulu di Makassar.

"Setelah jenazah tiba nanti dari keluarga, mungkin kami ibadah dulu kurang lebih satu jam, setelah itu baru berangkat," kata Yohanis.

Jenazah Aprida selanjutnya akan disemayamkan di kampung halamannya. Namun, keluarga belum menentukan waktu pemakaman karena masih akan membicarakannya bersama keluarga besar.

"Di Toraja untuk rencana pemakaman akan kita berembung dengan keluarga dulu karena orang tua masih ada, baru di sana baru kita tentukan tanggal pemakaman," ujarnya.

 

Tewas Saat Mengantar Bantuan Ternak

Dua hari sebelum jenazahnya tiba di Makassar, Aprida masih menjalankan tugas sebagai ASN di Jayawijaya. Ia bersama rombongan membawa bantuan ternak untuk disalurkan kepada masyarakat di wilayah pedalaman.

Yohanis menuturkan, penembakan terjadi setelah rombongan selesai membagikan bantuan dan kembali melanjutkan perjalanan.

"Pada saat kejadian mereka mengantarkan bantuan ke masyarakat di pedalaman-pedalaman, di tempat-tempat yang terpencil, kemudian selesai pembagian bantuan, kemudian diadangkan di jalan," tutur Yohanis.

Rombongan tersebut berjumlah 11 orang. Menurut Yohanis, anggota rombongan kemudian dipisahkan oleh kelompok yang menghadang mereka berdasarkan kelompok masyarakat asli Papua (OAP) dan pendatang.

"Jadi dipisahkan antara, karena di stafnya yang dia bawa 8 orang itu 5 diantaranya OAP, dipisahkan dulu OAP baru pendatang, kemudian OAP disuruh minggir, pendatang itu ditembak," ungkapnya.

Dalam penembakan tersebut, Aprida mengalami luka tembak di bagian perut hingga akhirnya meninggal dunia.

Keluarga baru mengetahui kejadian tersebut sekitar 15 menit setelah penembakan. Masyarakat setempat kemudian melaporkannya kepada aparat keamanan yang datang ke lokasi.

"Kurang lebih 15 menit baru ada yang masyarakat setempat melaporkan ke aparat keamanan, aparat keamanan menjemput ke lokasi," katanya.

Â