Kebakaran Hutan di Gunung Semeru Meluas, 160 Hektare Hangus

​Api mengganas di tujuh titik krusial. Yakni Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, hingga Puncak Trisula.

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 18:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, kian meluas.  Hingga Sabtu (29/8/2026), tim gabungan masih melancarkan operasi besar-besaran untuk menjinakkan si jago merah yang telah menghanguskan sekitar 160 hektare lahan vegetasi kering.

​Api mengganas di tujuh titik krusial. Yakni Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, hingga Puncak Trisula. Medannya yang ekstrem dan berbukit-bukit membuat operasi darat kewalahan menjangkau pusat kobaran api.

​Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, menyatakan bahwa strategi pemadaman kini mengombinasikan jalur darat dan udara.

​"Untuk memperkuat upaya pemadaman, dua helikopter bantuan BPBD Jawa Timur sudah dikerahkan melakukan water bombing ke sejumlah titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat," tegas Yudhi, Sabtu (29/8/2026).

​Fokus gempuran udara diarahkan ke kawasan Blok Ayak-Ayak dan Bangunan Cilik di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro. Tim BPBD Lumajang bahkan menerjunkan armada motor trail ke jalur pendakian Ranu Kumbolo untuk memetakan pergerakan api sekaligus memandu manuver Helikopter PK-DAP.

​Meski begitu, gempuran dari udara tak sepenuhnya mulus. Cuaca ekstrem sempat melumpuhkan helikopter water bombing pada Jumat siang akibat angin kencang yang membahayakan penerbangan, memaksa armada kembali bertengger di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

​Kepala Seksi PTN Wilayah III TNBTS, Agus Kusuma Negara, menegaskan bahwa pengeboman air merupakan kunci vital mengingat dua lanskap utama yang terbakar memiliki topografi curam.

​"Kondisi medan menjadi pertimbangan utama pengerahan water bombing. Namun, petugas di darat tetap bergerak membuat sekat bakar (firebreak) dan memadamkan api secara manual," ujar Agus.

​Hingga saat ini, ratusan personel gabungan dari TNBTS, BPBD Lumajang, relawan, dan warga lokal terus bersiaga ketat. Selain memadamkan kobaran aktif, tim fokus melakukan pendinginan (mopping up) guna mengantisipasi munculnya titik api baru akibat tiupan angin.