Diduga Terbebani Biaya Pernikahan Anak, Kepala SD Lembata Akhiri Hidup

Plt Kepala SD di Lembata NTT diduga mengakhiri hidupnya karena terbebani biaya pernikahan anaknya.

Diterbitkan 15 Mei 2026, 11:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pelaksana tugas (Plt) Kepala SD Inpres Lowoblolong, Kaupaten Lembata, NTT berinisial SK (59) diduga mengakhiri hidupnya karena terbebani biaya pernikahan anaknya.

SK ditemukan meninggal dunia tergantung di sebuah pohon di area kebun kawasan Mitematapa pada Selasa (12/5/2026) pagi. Peristiwa itu menggegerkan warga Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Kapolres Lembata AKBP Nanang Wahyudi membenarkan menyebut hal itu diduga menjadi pemicu korban mengakhiri hidup. "Kemungkinan terbebani urusan adat atau perkawinan anak perempuannya," kata Nanang, Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan jasad SK pertama kali ditemukan oleh istrinya, LLM (57) yang pada pagi itu tak mendapati suaminya di dalam rumah sekitar pukul 05.30 WITA. Anaknya pun tak mengetahui keberadaan sang ayah saat ia tanyai.

Wanita itu berupaya mencari-cari di dalam kampung namun suaminya tak ditemukan. Kemudian ia kembali ke rumah dan menyadari parang yang biasa dibawa suaminya ke kebun sudah tidak ada di tempat.

Dia langsung bergegas ke kebun sekitar 500 meter dari Desa Lolong dan ia melihat jaket korban di bawah pohon jambu mente. Ia sempat mengira suaminya sedang beristirahat.

Namun, dia beberapa kali memanggil namun suaminya tak menjawab hingga akhirnya ia menyadari suaminya tak lagi bernyawa dengan kondisi mengenaskan.

Dia kembali ke kampung dengan berlari untuk meminta bantuan warga yang sedang bekerja di Koperasi Merah Putih hingga akhirnya sepupu korban, dan warga lainnya memutuskan untuk menurunkan tubuh korban.

"Di lokasi petugas menemukan parang, buku, dan balpoin di dekat tubuh korban termasuk tali nilon," jelasnya.

Tak Ada Tanda Kekerasan

Jenazah SK juga sempat diperiksa dokter dari Puskesmas Loang melalui pemeriksaan luar. Dokter menyatakan tidak ada tanda kekerasan di tubuh korban.

Sementara pihak keluarga menolak autopsi dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah keluarga. Penolakan autopsi ini dinyatakan juga dalam surat pernyataan resmi kepada pihak kepolisian.

"Korban memang tinggal bersama istri dan seorang anak di Desa Lolong. Ia juga baru sekitar satu tahun menjabat sebagai Plt kepala sekolah di SD Inpres Lowoblolong," ucapnya.

Dia mengimbau masyarakat untuk jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, sahabat, tenaga kesehatan, atau layanan konseling profesional jika membutuhkan bantuan.