Duka Tak Menghentikan Roda Usaha Bengkel Neneng

Bengkel itu pertama kali didirikan sang suami pada 2016.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 13:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Matahari pagi mulai meninggi di ruas jalan yang menghubungkan Cileungsi dan Jonggol, Kabupaten Bogor. Deru kendaraan tak pernah berhenti. Motor, mobil pribadi, hingga truk-truk besar silih berganti melintas, memecah udara dengan suara mesin dan klakson yang bersahut-sahutan.

Di tepi jalan yang ramai itu, sebuah bengkel kecil berdiri tanpa banyak ornamen mencolok. Dari kejauhan, suara gerinda yang mengikis besi terdengar beradu dengan hiruk pikuk lalu lintas. Percikan api menyala di depan bengkel.

Pagi, 14 Juni 2026, Liputan6.com berkunjung ke bengkel milik Neneng Yulianti. Perempuan berusia 48 tahun itu tampak duduk santai di samping bengkelnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, Endang, salah satu pekerja yang sudah lama membantunya, sibuk menyelesaikan pekerjaan di area servis.

Neneng menuturkan, bengkel itu pertama kali didirikan sang suami pada 2016. Saat itu, seluruh kegiatan usaha masih ditangani oleh suaminya bersama pekerja. Sementara dirinya lebih banyak membantu dari belakang sambil menjalankan aktivitas lain.

Bengkel yang dirintis suami Neneng pernah mengalami masa-masa sulit. Terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Saat aktivitas masyarakat menurun, jumlah pelanggan yang datang ke bengkel ikut menyusut. Pendapatan usaha pun tak lagi bisa diprediksi seperti sebelumnya.

“Kalau konsumen memang tidak bisa ditebak. Kadang ramai, kadang sepi. Waktu Covid itu terasa sekali turunnya,” kenang Neneng.

Kondisi tersebut mendorong Neneng dan suaminya mencari tambahan modal agar usaha tetap berjalan. Atas saran sang kakak yang lebih dulu menjadi nasabah BRI, mereka memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2022.

Berbekal Surat Keterangan Usaha (SKU) dari desa, pasangan itu mengajukan pinjaman dengan harapan bisa memperkuat usaha yang tengah menghadapi tekanan. Tak disangka, pengajuan mereka disetujui.

“Alhamdulillah waktu itu pengajuan ke BRI di-ACC. Kami memang sedang membutuhkan tambahan modal untuk usaha,” ujarnya.

Pinjaman KUR pertama senilai Rp 20 juta digunakan untuk menambah perlengkapan bengkel dan stok barang yang banyak dicari pelanggan. Mulai dari knalpot, standar motor, hingga berbagai peralatan pendukung lainnya.

Tambahan modal tersebut perlahan mulai menunjukkan hasil. Persediaan barang menjadi lebih lengkap dan usaha kembali bergerak.

Karena pembayaran angsuran berjalan lancar, Neneng dan suaminya kembali memperoleh kepercayaan dari BRI. Mereka kemudian mengajukan pinjaman kedua dengan plafon yang lebih besar, yakni Rp 30 juta.

“Alhamdulillah usaha berjalan, angsuran lancar, dan kami dipercaya lagi untuk mendapatkan pinjaman berikutnya,” kata Neneng.

Ambil Alih Kemudi Bengkel

Namun di tengah perkembangan usaha yang mulai membaik, cobaan besar datang. Suaminya meninggal dunia pada 2025.

Kepergian sang suami membuat Neneng harus mengambil keputusan penting. Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, dia memilih mempertahankan usaha yang telah dirintis suami.

"Saya melanjutkan usaha almarhum bersama saudara," tutur Neneng.

Keputusan itu bukan perkara mudah. Selama ini, sebagian besar urusan teknis bengkel ditangani langsung oleh suaminya. Yang Neneng ingat, usaha tersebut dirintis menggunakan modal pribadi keluarga.

Setelah pinjaman kedua berhasil diselesaikan hingga lunas, Neneng kembali mengajukan KUR atas namanya sendiri. BRI kembali mempercayainya. Neneng memperoleh pinjaman ketiga sebesar Rp 50 juta yang baru berjalan sekitar dua bulan.

Modal tersebut kembali dia gunakan untuk memperbanyak stok barang dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus bertambah.

Menurut Neneng, ketersediaan barang menjadi salah satu kunci penting dalam usaha bengkel. Ketika pelanggan datang mencari suku cadang atau perlengkapan tertentu, mereka bisa langsung mendapatkannya tanpa harus mencari ke tempat lain.

“Kalau barang lengkap, konsumen juga senang. Mereka tahu apa yang dibutuhkan biasanya tersedia di sini,” ujarnya.

Kini, selain mengelola bengkel, Neneng juga masih menjalani profesinya sebagai guru taman kanak-kanak di kampungnya. Dulu hampir seluruh urusan usaha ditangani sang suami, kini dia mulai belajar memahami setiap aspek bisnis yang dijalankan.

Mulai dari menghitung pendapatan, mengatur belanja stok barang, hingga memahami berbagai kebutuhan teknis bengkel yang sebelumnya jarang ia urus.

“Dulu suami yang pegang semuanya. Saya sering dibilang, ‘itu urusan ayah’. Sekarang saya harus tahu sendiri pendapatan berapa, pengeluaran berapa, barang apa yang harus dibeli,” tuturnya.

Omzet Naik

Tambahan modal dari KUR tidak hanya membantu Neneng menambah stok barang, tetapi juga membuat bengkelnya semakin dikenal pelanggan. Dengan pilihan produk yang lebih lengkap, konsumen memiliki lebih banyak alternatif sesuai kebutuhan dan anggaran mereka.

“Kalau barang banyak, konsumen jadi punya banyak pilihan. Mereka lebih tertarik datang ke sini dibanding kalau barangnya terbatas,” ujarnya.

Kelengkapan stok tersebut ikut mendorong peningkatan omzet usaha. Untuk pengerjaan knalpot mobil, misalnya, nilai transaksi bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu kendaraan.

Neneng menjelaskan, pemasangan satu set knalpot dari bagian depan hingga belakang mobil dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Sementara pekerjaan yang lebih sederhana, seperti penggantian pipa, biasanya bernilai sekitar Rp 700 ribu.

Dalam sehari, bengkel tersebut setidaknya menangani satu unit mobil. Pada hari-hari ramai, jumlah kendaraan yang datang bisa lebih banyak. Selain mobil, pelanggan sepeda motor juga cukup rutin berdatangan dengan nilai pekerjaan yang bervariasi, mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung tingkat kerusakan dan jenis pengerjaan.

Ramainya pelanggan tidak lepas dari perkembangan teknologi yang semakin memudahkan masyarakat mencari layanan bengkel. Neneng mengaku kehadiran Google Maps turut membantu mendatangkan konsumen baru yang sebelumnya tidak mengenal usahanya.

“Sekarang orang cari bengkel tinggal lewat handphone. Banyak juga yang tahu tempat ini dari Google Maps,” katanya.

Saat ini, bengkel Neneng dijalankan bersama satu orang pekerja yang sudah lama membantunya. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, mencari tenaga kerja yang sesuai tidak mudah. Selain harus memiliki keterampilan, pekerja juga dituntut memiliki komitmen dan loyalitas terhadap usaha.

Usaha tersebut juga menjadi penopang utama kebutuhan keluarga. Dari hasil usaha yang terus berkembang, Neneng mampu membantu membiayai pendidikan ketiga anaknya.

Satu anaknya telah beranjak dewasa, sementara dua lainnya masih menempuh pendidikan di pesantren di Cianjur. Baginya, keberhasilan menyekolahkan anak-anak menjadi salah satu hasil paling berharga dari perjuangan menjalankan usaha selama ini.

“Alhamdulillah, dari usaha ini bisa membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak,” kata Neneng.

Satu Dekade Menjaga Bengkel Neneng

Di balik usaha bengkel yang kini dikelola Neneng, ada sosok Endang yang setia menemani perjalanan usaha tersebut sejak awal berdiri. Pria berusia 42 tahun itu sudah ikut bekerja bersama almarhum suami Neneng sejak 2016.

Kesetiaan Endang bertahan hingga sekarang bukan tanpa alasan. Baginya, pekerjaan di bengkel bukan sekadar cara mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari hobinya.

“Bukan cuma pekerjaan, ini juga hobi. Kadang-kadang saya juga suka bongkar mesin dan mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan otomotif,” ujarnya.

Ketertarikan pada dunia otomotif membuat pekerjaan yang dijalaninya terasa lebih menyenangkan. Dia mengaku menikmati proses memperbaiki kendaraan, mengutak-atik komponen, hingga mencari solusi atas berbagai kerusakan yang datang setiap hari.

Sebelum bergabung di bengkel tersebut, Endang sempat bekerja di pabrik. Namun seiring waktu, dia memilih bertahan di bengkel yang dirintis bersama keluarga besarnya itu.

Menurutnya, di usia yang kini memasuki kepala empat, mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah. Karena itu, menjaga usaha yang sudah berjalan menjadi pilihan terbaik.

Selain faktor pekerjaan dan kebutuhan ekonomi, Endang juga merasa memiliki ikatan emosional dengan usaha tersebut. Hubungan kekeluargaan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat rasa saling percaya menjadi modal utama untuk terus bekerja bersama.

“Yang penting sama-sama percaya,” katanya singkat.

 

KUR Menjaga Napas Usaha Kecil

Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi pelaku usaha saat ini, KUR masih menjadi salah satu sumber pembiayaan yang paling diminati masyarakat di wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Kepala BRI Unit Cileungsi, Luki Perdana, mengatakan KUR menjadi pilihan banyak pelaku usaha mikro dan kecil karena menawarkan bunga yang lebih terjangkau dibandingkan kredit komersial. Selain itu, dukungan pemerintah melalui subsidi bunga dan persyaratan agunan yang relatif ringan membuat akses pembiayaan menjadi lebih mudah dijangkau.

Menurut Luki, roda perekonomian di Cileungsi bergerak cukup dinamis dengan ditopang sektor perdagangan, jasa, serta bisnis properti skala kecil seperti rumah kontrakan. Aktivitas tersebut tumbuh seiring berkembangnya kawasan industri di sekitar Cileungsi yang terus menyerap tenaga kerja.

“Banyak usaha yang muncul karena kebutuhan para pekerja industri, mulai dari perdagangan, jasa, sampai usaha kontrakan,” ujarnya.

Meski demikian, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat sebagian pelaku usaha harus bekerja lebih keras untuk menjaga usahanya tetap berjalan. Penjualan yang melambat di beberapa sektor berdampak pada kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan dan mempertahankan pertumbuhan bisnis mereka.

Namun tantangan tersebut tidak mengurangi minat masyarakat untuk mengembangkan usaha. Hingga saat ini, jumlah debitur aktif di BRI Unit Cileungsi berada di kisaran 4.800 hingga 5.000 nasabah. Angka tersebut terus bertambah seiring masuknya nasabah baru setiap bulan.

Luki menyebut peningkatan jumlah debitur tidak terlepas dari peran petugas pemasaran mikro atau mantri yang aktif turun langsung ke lapangan. Delapan mantri yang bertugas di wilayah kerja BRI Unit Cileungsi secara rutin menjalin komunikasi dengan pelaku usaha sekaligus mencari potensi nasabah baru.

Rata-rata, setiap mantri mampu menambah lima hingga tujuh debitur baru setiap bulan. Selain menawarkan pembiayaan, mereka juga berperan sebagai pendamping bagi pelaku usaha agar dapat memanfaatkan modal secara optimal.

Bagi BRI, keberhasilan program pembiayaan tidak hanya diukur dari besarnya kredit yang tersalurkan. Yang tak kalah penting adalah memastikan modal tersebut benar-benar mendorong pertumbuhan usaha nasabah.

Karena itu, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan setelah kredit dicairkan. Petugas BRI secara berkala melakukan kunjungan dan pemantauan untuk melihat perkembangan usaha, mulai satu hingga tiga bulan setelah nasabah menerima pembiayaan.

“Yang kami harapkan bukan sekadar kredit tersalurkan, tetapi usaha nasabah bisa berkembang dan naik kelas,” kata Luki.

Melalui penyaluran KUR dan berbagai skema pembiayaan lainnya, BRI Unit Cileungsi berharap semakin banyak pelaku usaha mikro dan kecil yang mampu memperkuat usahanya, memperluas pasar, serta menciptakan peluang ekonomi baru di tengah masyarakat.