Titik Api Selalu Naik Saat Weekend, Menhut Ungkap Penyebabnya

Menurut Raja Juli, peningkatan titik api cenderung terjadi pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Diterbitkan 16 September 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghadapi persoalan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut titik api kerap muncul lagi setelah berhasil dipadamkan, dengan kecenderungan meningkat pada akhir pekan.

Raja Juli mengatakan pemerintah bersama BNPB, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api terus berjibaku memadamkan kebakaran di sejumlah wilayah. Namun, kerja keras tersebut bisa sia-sia jika masih ada pihak yang kembali membakar lahan.

“Kalau teman-teman turun ke lapangan, bisa melihat bagaimana Manggala Agni Kehutanan Kemenhut, TNI-Polri, BNPB, BPBD berjuang memadamkan api, kita betul-betul kasihan,” kata Raja Juli seusai rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Rabu (16/9/2026).

“Tapi setiap kali sudah padam, masih ada orang yang mau main api untuk kembali membakar. Dan ternyata mulai ada trennya itu,” lanjutnya.

Menurut Raja Juli, peningkatan titik api cenderung terjadi pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, terutama saat kondisi El Nino kuat.

“Trennya itu selalu naik kalau weekend, kalau akhir pekan. Hari Jumat, Sabtu, Minggu itu selalu naik,” ujarnya.

Imbauan tersebut ditujukan kepada seluruh pihak, mulai dari masyarakat perorangan, petani, hingga korporasi.

Mereka diminta tidak menggunakan cara membakar untuk membuka lahan atau melakukan land clearing perkebunan.

“Jadi mohon diimbau kepada masyarakat perorangan, petani, maupun korporasi untuk tidak main api di masa El Nino yang sangat kuat ini,” kata Raja Juli.

Dia mengaku prihatin melihat petugas yang harus kembali menghadapi api di lokasi berbeda setelah berhasil memadamkan kebakaran di satu titik.

“Kasihan, betul-betul kasihan melihat Manggala Agni, TNI-Polri di lapangan yang betul-betul berjibaku,” ujarnya.

“Dan ketika mereka sukses memadamkan di satu titik, tahu-tahu sudah terbakar lagi di tempat yang lain,” sambungnya.

 

Partisipasi Masyarakat

Raja Juli menegaskan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, dan penguatan satgas darat. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar kebakaran tidak terus berulang.

“Kami terus tadi saya katakan penegakan hukum menjadi penting. Tapi kalau semua faktor yang saya katakan tadi—OMC berjalan, water bombing berjalan, satgas darat kuat, penegakan hukum jalan—tapi kalau tidak ada partisipasi masyarakat, terutama kesadaran untuk bersama-sama tidak melakukan pembakaran lahan untuk melakukan land clearing perkebunan,” tuturnya.

Raja Juli mengingatkan, pembakaran lahan mungkin dianggap sebagai cara murah untuk membuka kebun, tetapi dampaknya sangat besar ketika terjadi pada masa kekeringan panjang.

“Masih membakar membuka kebun dengan cara membakar memang murah, tapi dampaknya sangat luar biasa. Terutama karena tadi, kondisi alamnya sangat tidak bersahabat dengan kita,” katanya.

Dia menyebut El Nino kuat diperkirakan masih berlangsung sekitar satu setengah bulan. Hujan alami yang semula diprediksi turun awal Oktober berpotensi baru datang pada akhir Oktober atau awal November.

Karena itu, pemerintah terus menggabungkan lima langkah penanganan, yakni OMC, water bombing, penguatan satgas darat, penegakan hukum, dan partisipasi masyarakat.

“Jadi lima faktor ini harus kita integrasikan secara bersama-sama, kerja bersama-sama untuk mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat,” pungkas Raja Juli.