Prabowo Direncanakan Tinjau Penanganan Gempa di NTT

Prasetyo menjelaskan, kunjungan Presiden memerlukan sejumlah sarana pendukung yang berbeda dibandingkan kunjungan biasa.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 08:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, Presiden Prabowo Subianto tengah direncanakan untuk mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna meninjau langsung penanganan pascagempa.

"Sedang direncanakan. Sedang direncanakan, tetapi perlu juga kami sampaikan bahwa kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan bukan kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu," kata Prasetyo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Prasetyo menjelaskan, kunjungan Presiden memerlukan sejumlah sarana pendukung yang berbeda dibandingkan kunjungan biasa. Karena itu, persiapan perlu dilakukan secara matang.

"Karena kehadiran seorang Presiden tentu membutuhkan persiapan dan sarana-sarana yang tidak seperti kunjungan biasa,” kata dia.

Meski demikian, Prasetyo memastikan pemerintah fokus penanganan bencana di NTT dan setiap menteri akan turun ke lokasi juga memberikan laporan secara berkala.

"Jadi yang penting adalah kami setiap hari memonitor, ya, para menteri juga melaporkan, Kepala Basarnas setiap hari laporan kepada kami, kemudian BNPB juga laporan dan kami juga mengapresiasi karena banyak pemerintah provinsi, pemerintah daerah yang lain juga mengirimkan bantuan-bantuan, termasuk misalnya seperti dari Pemprov Jawa Tengah. Ini bukti solidaritas kita bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," pungkasnya.

 

Update Gempa NTT

Sebelumnya, korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga hari keempat penanganan bencana, Selasa (18/8/2026), mencapai 70 orang.

Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, mengatakan total korban yang telah dikompilasi hingga hari ketiga, Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA, mencapai 202 orang.

“Sampai dengan hari ketiga kemarin pukul 23.30 WITA, telah kami kompilasi total korban adalah 202 orang. Kemudian meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang yang kami catat. Kemudian luka berat 40 orang, luka ringan 92 orang,” kata Yudhi dalam konferensi pers daring BNPB dan Basarnas, Selasa (18/8/2026).

Memasuki hari keempat, Basarnas menyatakan tidak lagi menerima laporan adanya warga yang masih dalam pencarian. Tim SAR kemudian memfokuskan kegiatan pada penyisiran wilayah terdampak serta membantu proses pencarian dan pemulihan yang dilakukan BNPB.

“Karena berdasarkan laporan atau masukan dan data dari para korban, tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian. Sehingga tim SAR yang ada di lapangan kami fokuskan untuk membantu penyisiran dan membantu proses-proses pelaksanaan kegiatan pencarian dan pemulihan yang dilaksanakan oleh BNPB,” ujarnya.

 

Lebih 40.000 Warga Mengungsi

Selain korban meninggal, sebanyak 40.040 warga terpaksa mengungsi akibat gempa bumi yang mengguncang NTT. Tercatat sebanyak 11.925 rumah juga mengalami kerusakan.

Berton menyebut puluhan ribu warga yang mengungsi tersebar di sejumlah kabupaten terdampak.

“Data sementara pengungsi saat ini yang kami kumpulkan ada 40.040 jiwa. Sekali lagi, data pengungsi itu sebesar 40.040 jiwa,” kata Berton.

“Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, namun ini karena banyaknya dampak psikologis yang dirasakan oleh warga,” sambungnya.

Berdasarkan data BNPB, pengungsi tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 6.487 orang, Manggarai Timur 966 orang di posko BPBD dan sekitar 14.000 orang lainnya mengungsi secara mandiri.

“Sebanyak 600 orang mengungsi di Kabupaten Manggarai Barat, 6.221 orang di Nagekeo, 5.681 orang di Sikka, 3.666 orang di Ende, dan 1.920 orang di Ngada.

Sementara itu, lanjut Berton, total rumah rusak mencapai 11.925 unit. Rinciannya, 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.

“Dengan daerah dengan kerusakan tertinggi adalah di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Ngada,” ujar Berton.