Ketahanan Energi Jadi Fondasi Kemandirian Bangsa

Ketahanan energi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri, menggerakkan perekonomian, serta mendukung pertahanan dan pembangunan nasional.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 13:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Generasi Muda Buddhis (Gemabudhi) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Pelatihan Kader Nasional. Salah satu tema yang dibahas adalah ketahanan energi yang dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kemandirian bangsa.

Pada sesi tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Yuliot Tanjung, menjadi pembicara. Ia mengajak para peserta memahami keterkaitan antara energi, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan masa depan Indonesia.

Menurut Yuliot, ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Ketahanan energi juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri, menggerakkan perekonomian, serta mendukung pertahanan dan pembangunan nasional.

"Indonesia memiliki potensi energi dan sumber daya alam yang besar. Namun, kekayaan tersebut perlu diikuti dengan kemampuan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri," kata Yuliot dalam acara tersebut, seperti dikutip pada Senin (27/7).

Yuliot menambahkan, pembahasan mengenai ketahanan energi juga menyoroti pentingnya peningkatan produksi energi domestik, pengembangan energi baru terbarukan, efisiensi konsumsi energi, serta penguatan industri nasional melalui hilirisasi sumber daya alam.

"Tantangan yang dihadapi bukan hanya bagaimana mengelola sumber daya alam, tetapi juga bagaimana Indonesia dapat memperkuat penguasaan teknologi, riset, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia," jelas Yuliot.

Dalam konteks tersebut, lanjut Yuliot, hilirisasi menjadi salah satu strategi penting untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi negara yang mampu mengembangkan industri dan menghasilkan produk bernilai tambah.

Yuliot mencatat, hal penting lainnya adalah entrepreneurship dalam mendorong Indonesia menuju negara maju. Generasi muda dinilai tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga perlu didorong untuk menciptakan lapangan kerja dan membangun ekosistem usaha berbasis inovasi.

"Selain itu, penguatan hubungan antara dunia pendidikan, lembaga riset, dan industri menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Kebutuhan industri harus diikuti dengan pengembangan kompetensi sumber daya manusia agar tidak terjadi kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan tenaga kerja," ujarnya.

Yuliot berharap kader muda tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan dan pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu membaca persoalan nasional secara lebih luas serta menghadirkan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

"Kemandirian bangsa, sebagaimana dibahas dalam sesi tersebut, tidak dapat dibangun hanya melalui kepemilikan sumber daya alam. Kemandirian membutuhkan penguatan teknologi, sumber daya manusia, industri, riset, entrepreneurship, serta kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan," pesan Yuliot.