Kebut Digitalisasi Pembelajaran, Pemerintah Targetkan 16.557 Sekolah Terkoneksi Internet di 2026

Pemerintah terus menggenjot program Digitalisasi Pembelajaran sebagai upaya pemerataan kualitas pendidikan nasional.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 18:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus menggenjot program Digitalisasi Pembelajaran sebagai upaya pemerataan kualitas pendidikan nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan layanan akses internet di sekolah-sekolah agar seluruh siswa dan guru dapat memanfaatkan layanan pembelajaran digital secara optimal.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari menjelaskan, dengan penguatan konektivitas internet dan pengembangan ekosistem pembelajaran digital, transformasi pendidikan diharapkan berjalan lebih merata. Tidak hanya di sekolah-sekolah perkotaan, tetapi juga di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Menurut Qodari, seluruh satuan pendidikan wajib memiliki akses terhadap layanan pendidikan yang berkualitas, modern, dan berbasis teknologi. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan sebanyak 16.557 satuan pendidikan untuk menerima akses internet pada 2026.

"Dalam hal konektivitas internet, untuk dukungan Program Digitalisasi Pembelajaran, pada 2025 tercatat sebanyak 8.265 sekolah jadi penerima akses internet. Dalam perencanaan 2026, sebanyak 16.557 satuan pendidikan menjadi target pemenuhan akses internet," ujar Qodari dalam Konferensi Pers di Kantor Bakom RI, di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Qodari menyampaikan, perluasan akses internet menjadi langkah strategis untuk memastikan seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses pembelajaran berbasis teknologi. Ia menjelaskan, saat ini sebagian besar satuan pendidikan di Indonesia telah terkoneksi internet, meski masih terdapat sekolah yang menjadi prioritas perluasan jaringan.

"Secara nasional, 77 persen satuan pendidikan di Indonesia saat ini telah memiliki akses internet, sementara 23 persen lainnya masih belum terjangkau dan menjadi fokus perhatian ke depan," jelasnya.

Selain memperkuat konektivitas, pemerintah juga terus mengembangkan pemanfaatan platform pembelajaran digital melalui Ekosistem Rumah Pendidikan yang merupakan platform terpadu untuk mengintegrasikan berbagai layanan pendidikan digital.

"Ini adalah bagian dari pelaksanaan Inpres Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan digitalisasi pembelajaran dan penguatan layanan pendidikan berkualitas," ujarnya.

 

Bentuk Implementasi

Ia menambahkan, integrasi berbagai layanan digital terus dilakukan agar seluruh pemangku kepentingan pendidikan memperoleh layanan yang lebih efektif dan mudah diakses.

"Melalui integrasi berbagai layanan pendidikan digital, termasuk bergabungnya Ruang GTK ke dalam Rumah Pendidikan sejak Juni 2026, platform ini dirancang untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih mudah diakses, terpadu, dan efisien bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan," paparnya.

Dalam implementasinya, Ekosistem Rumah Pendidikan menghadirkan sejumlah layanan utama. Salah satunya adalah Ruang Murid, yang menyediakan sumber belajar digital, assesmen, hingga materi pengembangan karakter bagi peserta didik.

Qodari mengungkapkan, layanan-layanan tersebut kini telah digunakan secara luas oleh masyarakat. Fitur Ruang Murid, misalnya, telah mencatat 1,3 juta pengguna aktif bulanan. Sementara itu, Ruang Guru telah mencatat lebih dari 3 juta kunjungan dan, mulai Juni 2026, secara bertahap terintegrasi ke dalam ekosistem Rumah Pendidikan.

Ruang Guru sendiri merupakan platform pengembangan kompetensi dan layanan bagi guru serta tenaga kependidikan, termasuk pelatihan mandiri, pengelolaan kinerja, dan pengembangan profesional.

Pemerintah, kata Qodari, juga mengoptimalkan Ruang Sekolah sebagai platform berbasis data yang membantu pengelolaan satuan pendidikan melalui pemanfaatan Rapor Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

"Ruang Sekolah merupakan layanan digital yang mendukung pengelolaan satuan pendidikan berbasis data, termasuk melalui Rapor Pendidikan sebagai instrumen evaluasi dan peningkatan mutu pendidikan,” pungkasnya.

Hingga saat ini, lebih dari 280 ribu sekolah di seluruh Indonesia telah memanfaatkan Ruang Sekolah atau Rapor Pendidikan untuk mendukung pengambilan keputusan dan perbaikan kualitas pembelajaran.