Dari Gudang Sederhana di Cileungsi, Aksesori Mukarom Pernah Tembus Korea

Usaha aksesori ini dijalankan Mukarom sejak 2023. Usaha lahir dari perjalanan panjang Mukarom selama lebih dari dua dekade bekerja di pabrik aksesori milik peru

Diterbitkan 12 Mei 2026, 20:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah bangunan sederhana beratap seng, suara aktivitas produksi terdengar sejak pagi. Di atas meja panjang yang dipenuhi cetakan kecil dan serpihan bahan baku, beberapa pekerja tampak fokus menyusun aksesori satu per satu.

Di tengah aktivitas itu, Mukarom Sarip (51) berdiri memperhatikan pekerjaan para karyawannya. Mengenakan kemeja putih dan celana hitam, dia sesekali melihat hasil produksi di meja kerja sambil memastikan proses berjalan lancar.

Ruangan produksi itu dipenuhi rak-rak berisi tumpukan bahan dan hasil setengah jadi. Lampu-lampu neon menggantung menerangi area kerja yang padat. Para pekerja duduk berjejer mengerjakan detail aksesori secara teliti.

Usaha aksesori ini dijalankan Mukarom sejak 2023. Usaha lahir dari perjalanan panjang Mukarom selama lebih dari dua dekade bekerja di pabrik aksesori milik perusahaan Korea.

“Dulu saya kerja di pabrik aksesori 22 tahun sama orang Korea,” kata Mukarom saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya kawasan Mampir, Cileungsi, Bogor, Kamis, 23 April 2026.

Sebelum memutuskan membangun usaha sendiri, Mukarom sempat menjabat sebagai manajer produksi di perusahaan tersebut. Namun situasi saat pandemi Covid-19 membuatnya memilih keluar.

Setelah berhenti bekerja, Mukarom belum langsung membuka usaha aksesori. Selama sekitar satu tahun, dia justru menjalani usaha jual beli limbah rumah tangga.

“Waktu itu saya kerja apa aja. Sampai jual beli limbah,” ujarnya.

Dia membeli botol plastik dan barang bekas dari warga. Lalu memilah dan menjualnya kembali ke pengepul di Jakarta. Pekerjaan itu dijalani untuk bertahan setelah keluar dari pabrik.

Di tengah usaha limbah tersebut, seorang rekan bisnis dari Jakarta beberapa kali datang menemuinya. Orang itu meminta Mukarom membuka kembali produksi aksesori karena kesulitan mencari tenaga produksi yang memahami bidang tersebut.

Awalnya, Mukarom menolak. Hingga tiga kali ajakan datang. Dia tetap belum mau memulai usaha baru. Namun karena terus diyakinkan dan ditawari bantuan modal, Mukarom akhirnya mencoba memulai produksi kecil-kecilan.

“Dia bilang, ‘punya modal berapa?’ Ya ada sedikit. Akhirnya jalan,” katanya.

Modal awal yang diterima Mukarom sebesar Rp 500 juta. Dari kerja sama itu, Mukarom mulai membeli mesin dan membangun tempat produksi sederhana.

Pada awal merintis usaha, hampir semua pekerjaan dikerjakannya sendiri. Mulai dari memasang peralatan, mengoperasikan mesin, hingga produksi dilakukan secara mandiri. Bahkan sering dikerjakan hingga malam hari.

“Saya kerjain sendiri sambil jalan,” ujarnya.

Sekitar setahun kemudian, Mukarom mulai merekrut satu pekerja. Seiring pesanan bertambah, jumlah pekerja pun perlahan meningkat. Meski baru berjalan sekitar tiga tahun, usaha aksesori Mukarom berkembang cukup cepat. Sebagian besar produknya kini dipasarkan ke toko-toko aksesori di Jakarta.

“Sekarang di pasar Jakarta hampir 80 persen ambil barang dari sini,” katanya.

Produk yang dibuat beragam, mulai dari rantai aksesori, bros, hingga berbagai komponen berbahan zinc dan timah sesuai permintaan pasar. Mayoritas produk ditujukan untuk aksesori perempuan, meski beberapa model juga digunakan untuk produk pria.

Menurut Mukarom, tren pasar menjadi penentu utama jenis produksi yang dijalankan. Saat ini, produk berbahan kuningan mulai dipersiapkan untuk dikembangkan mengikuti permintaan pasar yang terus berubah.

“Kalau pasar maunya apa, kita ngikutin,” ujarnya.

Meski produknya sudah banyak beredar di pasar, Mukarom mengaku dirinya tidak terlalu fokus pada pemasaran langsung. Sebagian besar distribusi dilakukan melalui relasi lama yang dulu pernah bekerja bersamanya di pabrik.

“Kebanyakan itu bekas anak buah saya dulu,” katanya.

Omzet Lebih dari Rp 100 Juta per Bulan

Tidak lama setelah usaha produksinya berjalan, Mukarom berkenalan dengan BRI. Tepatnya pada September 2023. Dia kemudian mengajukan pinjaman jenis Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 100 juta.

“Waktu itu awal banget usaha jalan,” kata Mukarom.

Menurut dia, proses pengajuan pinjaman berlangsung cepat. Hanya dalam waktu tiga hari, pengajuan tersebut langsung disetujui.

Pinjaman itu digunakan untuk membeli peralatan produksi, termasuk membangun fasilitas plating atau proses pelapisan warna aksesori yang kini menjadi salah satu bagian penting produksi mereka.

Setelah usaha berkembang, Mukarom kembali melakukan top up pinjaman. Kali ini jumlahnya mencapai Rp 160 juta. Proses pencairannya bahkan lebih singkat dibanding sebelumnya.

“Yang kemarin sehari,” katanya.

Tambahan modal itu digunakan untuk menjaga produksi tetap berjalan, membeli kendaraan operasional yang digunakan menunjang distribusi bahan baku dan kebutuhan produksi sehari-hari.

Mukarom mengatakan, usaha aksesori yang dijalankannya sebenarnya masih memiliki margin keuntungan sekitar 25 hingga 30 persen. Namun kondisi pasar belakangan membuat keuntungan semakin menipis karena harga bahan baku terus melonjak sementara harga jual sulit dinaikkan.

“Bahan baku naik terus, tapi harga jual tetap,” ujarnya.

Menurut Mukarom, kenaikan harga bahan baku bahkan bisa terjadi hampir setiap dua minggu sekali. Kondisi itu membuat pelaku usaha kecil seperti dirinya harus bertahan di tengah biaya produksi yang terus membengkak.

Dia juga menghadapi persaingan ketat dari produk impor asal China yang dijual dengan harga lebih murah di pasaran.

“Kadang pembeli malah minta harga turun,” katanya.

Meski begitu, usaha produksinya masih berjalan cukup stabil. Omzet kotor per bulan kini mencapai lebih dari Rp 100 juta.

“Minimal Rp 100 juta lebih,” ujar Mukarom.

Dalam satu minggu, omzet dari satu pelanggan besar saja bisa mencapai Rp 35 juta hingga Rp 40 juta. Sementara pesanan lain dengan jumlah lebih kecil berkisar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.

Selain memproduksi aksesori untuk dijual grosir, Mukarom juga menerima jasa produksi sesuai pesanan pelanggan. Sistem kerja campuran itulah yang membuat usahanya tetap bergerak meski kondisi pasar sedang tidak mudah.

“Sekarang bisa bertahan aja sudah alhamdulillah,” katanya.

Sempat Ekspor ke Korea

Meski baru memulai usaha aksesori pada 2023, Mukarom sudah sempat membawa hasil produksinya menembus pasar ekspor. Produk buatannya pernah dikirim ke Korea melalui relasi lama.

“Pernah ekspor. Pertama kali itu akhir 2023,” kata Mukarom.

Menurut dia, peluang ekspor sebenarnya masih terbuka hingga sekarang. Relasi bisnis dari Korea bahkan beberapa kali kembali datang untuk membicarakan kemungkinan kerja sama lanjutan. Namun pembahasan terhambat persoalan biaya ekspor yang dinilai cukup besar.

“Kalau biaya ekspornya dibebankan ke kita, nggak ada untung,” ujarnya.

Mukarom mengaku pengalaman ekspor sebelumnya memberinya pelajaran besar soal biaya produksi dan distribusi. Sebab selain harus mengerjakan produksi, biaya pengiriman hingga kebutuhan lain juga ikut dibebankan kepada pihak produsen.

Kini, produk aksesorinya dipasarkan dalam negeri. Tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga dikirim hingga Sumatera dan Kalimantan melalui jaringan relasi dan pembeli yang selama ini bekerja sama dengannya.

Sebagian besar distribusi dilakukan berdasarkan pesanan. Setiap pekan, barang-barang hasil produksi dikirim rutin sesuai permintaan pelanggan.

“Kalau ada order, kita bikin. Pengiriman biasanya tiap Senin,” kata Mukarom.

Buka Lapangan Kerja untuk Anak Kurang Mampu

Usaha aksesori yang dijalankan Mukarom bukan hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda di sekitar tempat tinggalnya.

Saat ini, total ada sekitar 14 hingga 15 pekerja yang membantu operasional produksi. Sebagian besar merupakan anak muda lulusan SMA hingga SMP yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan.

“Rata-rata baru lulus sekolah,” kata Mukarom.

Menurut dia, banyak pekerjanya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas sehingga belum bisa melanjutkan pendidikan. Karena itu, Mukarom memilih memberi kesempatan mereka bekerja sambil mencari pengalaman.

“Ada yang belum punya KTP juga. Saya bilang, sebelum kerja di tempat lain, silakan kerja dulu di sini,” ujarnya.

Dari seluruh pekerja yang ada, hanya dua orang yang merupakan rekan lama saat dirinya masih bekerja di pabrik aksesori. Selebihnya merupakan anak-anak muda sekitar yang direkrut dan diajari langsung dari nol.

“Kita ajarin semua,” kata Mukarom.

Sistem kerja di tempat produksinya dibagi menjadi dua sif. Sif pagi bekerja mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB, sementara sif malam mulai pukul 20.00 hingga pagi hari. Pola kerja itu diterapkan karena produksi terus berjalan untuk memenuhi pesanan.

Meski begitu, keterbatasan daya listrik masih menjadi salah satu kendala utama usaha mereka. Mukarom mengaku listrik di tempat produksinya sering tidak kuat menahan beban mesin ketika seluruh aktivitas produksi berjalan bersamaan.

“Kalau pagi semua nyala, listriknya nggak kuat,” ujarnya.

Karena itu, dia berencana menambah kapasitas listrik sekaligus memperluas usaha dengan membuka lini produksi berbahan kuningan yang proses pengerjaannya lebih rumit dibanding produk sebelumnya.

Menurut Mukarom, pengembangan usaha tersebut nantinya juga akan membuka kebutuhan tenaga kerja baru.

“Kalau jalan, pasti perlu orang lagi,” katanya.

Mukarom merasa keberadaan tempat produksi itu setidaknya sudah membantu warga sekitar yang sulit mendapat pekerjaan setelah lulus sekolah. Dia mengaku ingin terus mengembangkan usahanya agar bisa membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi warga sekitar, terutama anak-anak muda yang belum memiliki pengalaman kerja.

Menabung untuk Lanjut Sekolah

Najwa (16), merupakan salah satu pekerja di tempat produksi aksesori milik Mukarom. Sebelum bekerja, Najwa bersekolah di SMP PG Bojong.

Setelah lulus, dia memilih tidak langsung melanjutkan pendidikan dan memutuskan bekerja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Pengen kerja aja,” ujarnya singkat.

Meski masih berusia 16 tahun, Najwa mengaku senang bisa mendapat pekerjaan. Penghasilannya dari bekerja di tempat produksi aksesori itu sebagian besar diberikan kepada sang ibu.

“Buat mamah, buat bantu kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sistem upah di tempat itu dihitung per jam kerja. Najwa menerima sekitar Rp 6 ribu per jam dengan waktu kerja rata-rata delapan jam setiap hari.

Menurut Najwa, pekerjaan tersebut cukup membantu dirinya dan keluarga. Selain membantu kebutuhan rumah tangga, sebagian uang juga dia sisihkan untuk kebutuhan pribadi.

“Buat jajan juga,” katanya sambil tersenyum kecil.

Meski kini bekerja, Najwa masih memiliki keinginan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Untuk mewujudkan itu, dia mulai menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit dan menitipkan tabungan kepada ibunya.

“Ada nabung di mama,” ujarnya.

Ribuan UMKM Cileungsi Ditopang KUR BRI

Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, mayoritas pelaku UMKM di Cileungsi memilih KUR dibanding kredit komersial seperti Kupedes (Kredit Umum Pedesaan). Salah satu alasannya karena KUR memiliki bunga subsidi pemerintah dan syarat agunan yang lebih ringan.

Menurut dia, karakter masyarakat Cileungsi yang banyak berasal dari luar daerah juga memengaruhi pola pembiayaan tersebut. Banyak warga yang tinggal di kontrakan atau belum memiliki aset seperti sertifikat tanah untuk dijadikan jaminan pinjaman.

“Kalau Kupedes kan biasanya wajib ada jaminan seperti sertifikat tanah,” ujarnya.

Di wilayah Cileungsi, sektor usaha yang paling berkembang masih didominasi perdagangan dan jasa kontrakan. Aktivitas ekonomi di kawasan ini ikut terdorong keberadaan banyak pabrik dan kawasan industri yang memunculkan kebutuhan tempat tinggal maupun usaha pendukung lainnya.

“Kalau perdagangan banyak di pasar-pasar. Kontrakan juga cukup berkembang karena banyak pabrik,” kata Luki.

Meski begitu, kondisi ekonomi yang belum stabil menjadi tantangan terbesar pelaku UMKM saat ini. Luki menyebut, banyak usaha yang sebelumnya berkembang cukup baik kini mengalami penurunan omzet sehingga memengaruhi kemampuan pembayaran kredit.

Meski menghadapi tantangan, jumlah debitur UMKM di BRI Cileungsi masih terus bertambah. Saat ini, jumlah debitur aktif tercatat mencapai sekitar 4.800 hingga 5.000 nasabah.

“Nasabah baru tetap ada peningkatan,” ujar Luki.

Dia menjelaskan, di BRI Cileungsi terdapat delapan mantri atau petugas pemasaran kredit. Setiap mantri rata-rata mampu mendapatkan lima hingga tujuh debitur baru dalam satu bulan kerja.

Selain menyalurkan pembiayaan, BRI juga melakukan pendampingan kepada para pelaku UMKM. Pendampingan dilakukan sejak awal pencairan kredit hingga usaha berjalan.

“BRI fokusnya memang ke UMKM. Kita kasih modal lalu didampingi supaya usahanya bisa naik kelas,” kata Luki.

Pendampingan dilakukan rutin oleh mantri lapangan, minimal satu hingga tiga bulan sekali. Tujuannya memastikan dana yang diberikan benar-benar digunakan untuk kebutuhan usaha produktif.

“Biasanya bulan pertama sudah ada pembinaan,” ujarnya.

BRI juga mulai mendorong digitalisasi pembayaran di kalangan pelaku UMKM. Saat ini, hampir seluruh nasabah UMKM yang mendapatkan pembiayaan akan langsung dibundling dengan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Menurut dia, setelah QRIS aktif, mantri akan kembali mendatangi pelaku usaha untuk memberikan edukasi penggunaan aplikasi BRI Merchant dan sistem pembayaran digital lainnya.

“Mantri yang ngajarin langsung di lapangan,” ujarnya.

Luki menilai, perkembangan UMKM di Cileungsi juga mulai memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Beberapa usaha yang berkembang kini mulai membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.

“Ada UMKM yang akhirnya butuh tenaga kerja tambahan. Jadi warga sekitar juga ikut punya penghasilan,” katanya.

Ke depan, BRI Cileungsi menargetkan pertumbuhan pembiayaan UMKM terus meningkat melalui program-program pemerintah seperti KUR maupun skema pembiayaan lain untuk usaha yang lebih besar.

“BRI harus terus tumbuh. Fokus utama tetap pengembangan UMKM,” ujar Luki.