Pramono Ungkap Strategi Kurangi Kiriman Sampah ke Bantargebang

Pramono menargetkan pengurangan sampah ke Bantargebang dengan memperluas fasilitas pengolahan sampah di Jakarta.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 11:31 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pengurangan volume sampah yang dikirim dari Jakarta ke Bantargebang. Ia berharap neraca sampah ibu kota dapat mencapai kondisi seimbang atau bahkan negatif pada 2028–2029.

Untuk mencapai target tersebut, Pramono menyebut Pemprov DKI Jakarta akan meningkatkan pengolahan sampah melalui tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R), fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, serta pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.

“Mudah-mudahan di tahun 2028-2029 paling akhir, neraca sampah di Jakarta sudah bisa imbanglah minimal, atau bahkan mungkin sudah mulai negatif,” kata Pramono di Jakarta, dikutip Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, saat ini sampah yang masuk ke TPST Bantargebang diperkirakan sekitar 4.000 ton per hari. Jumlah tersebut berkurang karena sebagian sampah Jakarta kini diolah melalui TPS 3R dan RDF Rorotan.

“Tetapi yang terutama adalah sekarang ini di Bantargebang sendiri mungkin sekitar 4.000-an yang kalau dulu kan semuanya bawa ke Bantargebang,” ucap Pramono.

Dia berujar bahwa sejak penerbitan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, jumlah fasilitas TPS 3R telah mencapai hampir 31 titik.

“Dulu kita tidak mengembangkan yang disebut dengan TPS 3R secara masif. Sekarang ini TPS 3R yang dulu produksinya katakanlah hanya 10 ton, sekarang rata-rata bisa 50 ton dan sebagainya,” kata Pramono.

 

Operasional RDF Rorotan

Selain itu, RDF Rorotan juga telah beroperasi dengan kapasitas pengolahan rata-rata 1.000 ton sampah per hari. Pramono bilang fasilitas tersebut turut mengurangi sampah yang harus dibuang Jakarta ke Bantargebang.

“Rorotan sekarang ini Alhamdulillah sudah berjalan dengan baik, rata-rata 1.000 (ton) setiap hari,” ujar dia.

Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta juga tengah menyiapkan pengembangan fasilitas pengolahan sampah di Sunter dan Tanjungan. Pramono berharap, fasilitas tersebut dapat segera beroperasi untuk menambah kapasitas pengolahan sampah di Jakarta.

“Sebentar lagi kalau nanti di Sunter maupun Tanjungan bisa berjalan, malah mungkin di tahun 2029 jumlah sampah Jakarta itu neracanya akan negatif,” tandas Pramono.