Wamendagri Dorong Kota Banjar Bebas Tuberkulosis

Pembentukan Desa Siaga TB sangat penting untuk intervensi.

oleh Putu Merta Surya PutraDiterbitkan 22 September 2026, 11:31 WIB
Wamendagri Akhmad Wiyagus saat menghadiri Pertemuan Lintas Sektor dan Diskusi Interaktif dalam Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pendopo Kota Banjar, Jawa Barat, Senin (21/9/2026). (Foto: Puspen Kemendagri)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan target bebas tuberkulosis (TB) di wilayah setempat.

Upaya tersebut perlu dilakukan secara terpadu dan berjenjang hingga tingkat desa, termasuk melalui penguatan perencanaan dan penganggaran daerah.

"Harapan saya mungkin dalam waktu 3 bulan, 6 bulan lah, Kota Banjar itu berani mendeklarasikan bahwa Kota Banjar ini bebas TB," ujar Wiyagus saat menghadiri Pertemuan Lintas Sektor dan Diskusi Interaktif dalam Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pendopo Kota Banjar, Jawa Barat, Senin (21/9/2026).

Ia mengatakan, target tersebut dapat diupayakan karena kasus TB di Kota Banjar telah teridentifikasi. Namun, penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai unsur dan tidak dapat hanya mengandalkan dinas kesehatan.

"Masalah kesehatan ini bukan hanya masalah dinas kesehatan, tetapi kita bicara pentingnya kolaborasi semuanya," katanya.

Menurut Wiyagus, persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap produktivitas dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pengobatan TB membutuhkan waktu beberapa bulan. Apabila pasien merupakan kepala keluarga, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mencari nafkah sekaligus berdampak terhadap anggota keluarga yang mendampingi selama masa pengobatan.

 

Desa Siaga

Karena itu, Wiyagus menekankan pentingnya penanganan TB masuk dalam perencanaan dan penganggaran daerah.

Kota Banjar, kata dia, telah memasukkan persoalan kesehatan, termasuk TB, dalam dokumen perencanaan daerah hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Selain dukungan penganggaran, Wiyagus mendorong penguatan intervensi hingga tingkat desa. Salah satunya melalui pembentukan Desa Siaga TB yang melibatkan kepala desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), kepala puskesmas, Posyandu, dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

"Desa Siaga TB ini penting ya. Di Jawa Barat ini belum banyak ya, dari sekian ribu desa baru sekian desa yang terbentuk," jelasnya.

Wiyagus kembali menekankan, TB dapat disembuhkan apabila ditangani dengan skema yang tepat. Pemeriksaan terhadap kontak erat dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) perlu terus diperkuat untuk mencegah penularan sekaligus menekan munculnya kasus baru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya