Peserta SPPI Meninggal saat Latihan Militer Bertambah jadi 4 Orang

Terbaru atas nama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Sempat mengalami keluhan kesehatan berupa sesak napas.

oleh DelviraDiterbitkan 26 Juni 2026, 18:12 WIB
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara/Humas TNI AU)

Liputan6.com, Jakarta - Peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang meninggal saat latihan dasar militer (Latsarmil) bertambah menjadi empat orang. Terbaru atas nama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta Program SPPI KDKMP Tahun 2026.

Tiga peserta SPPI yang sebelumnya meninggal adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq. Mereka juga meninggal dunia saat menjalani pendidikan.

Kementerian Pertahanan memberi penjelasan. Pada 25 Juni 2026, Rifki mengalami keluhan kesehatan berupa sesak napas dan segera mendapatkan penanganan awal dari tim kesehatan satuan. Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, Rifki sempat kembali mengikuti aktivitas. 

Namun, pada sore hari kondisi kesehatannya kembali menurun. Sehingga segera dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk memperoleh penanganan medis lanjutan. 

“Setelah dirujuk ke rumah sakit, almarhum segera mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim dokter, termasuk perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU). Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan secara optimal, almarhum dinyatakan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB,” demikian pernyataan resmi Biro Infohan Setjen Kemhan, dikutip Jumat (26/6/2026). 

Sebelum mengikuti program ini, Rifki telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan.

Evaluasi Program Latsarmil

Kementerian Pertahanan bersama penyelenggara pendidikan telah memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum, termasuk pengantaran jenazah ke daerah asal serta membantu pemenuhan hak-hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku. 

Sehubungan dengan kejadian ini, Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program SPPI.  

“Terus evaluasi menyeluruh. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi penguatan proses seleksi kesehatan, deteksi dini kondisi medis peserta, peningkatan pengawasan oleh tenaga kesehatan selama pendidikan, penelusuran (tracing) terhadap peserta yang memiliki keluhan serupa, serta penyempurnaan prosedur penanganan kesehatan di seluruh satuan pendidikan,” ucap Biro Kemhan.

3 Korban Meninggal Lainnya

Untuk diketahui sebelumnya, jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) sudah mencapai tiga orang. Pertama, Novia Rahmadhani Sihotang.

”Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhumah," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan perawatan medis.

Namun, kondisi Novia terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB)," ujar Rico.

Kedua, Anisa Muyassaroh. Menurut Rico, Anisa meninggal akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan

Ketiga, Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal dunia saat menjalani pendidikan. Yonanda meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. 

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung," kata Rico.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya