Prabowo Ungkap Alasan Gaji Guru di Indonesia Tak Bisa Naik

Presiden Prabowo Subianto sebut gaji ASN dan guru belum bisa naik karena kebocoran anggaran besar yang masih terjadi di Indonesia.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 23 Juni 2026, 18:35 WIB
Dalam sidang kabinet paripurna kali ini, Presiden Prabowo juga membahas kelanjutan program-program strategis seperti program makan bergizi gratis, pembangunan rumah subsidi, perluasan lahan pertanian, dan inisiatif lainnya. (Biro Pers Istana Kepresidenan)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan gaji pegawai negeri dan guru di Indonesia tidak bisa baik. Dia menjelaskan hal ini dikarenakan banyaknya kebocoran anggaran di Indonesia yang sudah lama terjadi sehingga negara tak memiliki dana untuk memperbaiki gaji guru.

"Saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat, harus mengerti kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang? Iya kan? Karena uangnya enggak ada, diambil terus," ujar Prabowo saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU, di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

Dia menyampaikan total kebocoran anggaran yang dialami Indonesia mencapai USD 150 miliar atau Rp 2.500 triliun per tahun. Prabowo menegaskan pemerintahannya sedang melakukan perbaikan untuk mencegah dan memberantas kebocoran anggaran yang merugikan rakyat.

"Begitu banyak uang kita menguap, hilang. Dan ini pemerintahan yang saya pimpin, saya bertekad untuk berbuat yang terbaik untuk menghentikan kebocoran-kebocoran ini," tutur dia.

 

Soroti Laporan Palsu Nilai Ekspor

Presiden Prabowo Subianto dalam pidato perdana pada Rapat Paripurna DPR ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD, Jakarta, Rabu (20/5/2026). (Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)

Prabowo menyoroti praktik under invoicing atau laporan palsu nilai ekspor sebagai salah satu penyebab kebocoran kekayaan negara. Dia menyebut para pengusaha itu berbohong dengan menyebut menjual 500 ton, padahal 1.000 ton.

"Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi USD 908 miliar selama 34 tahun atau Rp 15.000 triliun, 15.000 triliun" jelas Prabowo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya