Update Gempa Palu: Terjadi 20 Kali Gempa Susulan

BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 16 Juni 2026, 13:29 WIB
Warga Palu panik saat gempa

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melansir data terbaru pasca gempa Palu berkekuatan Magnitudo 6,7. Hingga pukul 12.00 WIB, telah terjadi 20 aktivitas gempa susulan (aftershock).

"Hingga pukul 12:00 WIB, hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 5,1," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama saat jumpa pers, Selasa (16/5/2026).

Berdasarkan hasil analisis, kata Nelly, mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Hingga saat ini sudah ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Intensitas tertinggi tercatat di Kabupaten Sigi dengan skala VII MMI.

"Pertama dengan skala intensitas VII MMI di Sigi. Kedua, skala intensitas VI MMI di Palu, Parigi Utara, dan Poso. Ketiga, skala intensitas V MMI di Parigi Moutong, Banawa Selatan. Kemudian keempat, skala intensitas IV MMI di Sindue, Balaisang, dan Masamba," katanya.

Diberitakan, gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026), tidak hanya dirasakan kuat di pusat gempa, tetapi juga menjalar hingga Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Gorontalo. Getaran sempat membuat warga di sejumlah daerah berhamburan keluar rumah.

BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 10.27.45 WIB dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Karakter gempa yang bersumber dari aktivitas sesar aktif membuat getarannya terasa luas hingga lintas wilayah, termasuk Mamuju, Pinrang, hingga Kota Gorontalo.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa tersebut termasuk kategori dangkal dengan mekanisme sesar normal. Kondisi itu membuat guncangan lebih terasa di permukaan.

"Gempa bumi yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault," ujar Wijayanto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya