Liputan6.com, Jakarta - Satuan Brimob Polda Metro Jaya menggerebek sebuah perkantoran di Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat (Jakbar). Perkantoran itu diduga menjadi lokasi aktivitas jaringan judi online (judol) internasional.
Tono (bukan nama sebenarnya), salah satu petugas keamanan tenant di gedung tersebut mengungkapkan, gedung Hayam Wuruk Plaza Tower memiliki total 21 lantai. Namun, aktivitas yang kini diduga terkait jaringan judol internasional itu berada di lantai 20 dan 21.
Advertisement
"Lantainya sampai 21. Tapi khusus untuk kasus ini, hanya di lantai 20 sampai 21 saja," ujar Tono saat ditemui di lokasi, Sabtu (9/5/2026).
Ia mengaku aktivitas di lantai 20 dan 21 gedung sudah lama membuat petugas keamanan curiga. Terlebih, kata Tono, dua lantai tersebut tidak tercantum identitas tenant-nya dalam daftar keterangan gedung alias kosong.
"Iya, kalau di keterangan mapping-nya ya, itu lantai 20 dan 21 enggak ada keterangan tenant (penyewa) apa, sedangkan di lantai-lantai lain itu ada keterangannya," cerita Tono.
Tono mengatakan, aktivitas para pekerja di gedung perkantoran berlangsung ramai hampir sepanjang hari dengan sistem kerja bergiliran atau shift. Menurut dia, seluruh pekerja yang beraktivitas di lantai tersebut merupakan warga negara asing (WNA).
"Kalau untuk aktivitas itu, mereka kan sistemnya per shift ya. Jadi kalau misalnya siang itu, untuk makan siang mereka turunnya bergerombolan. Terus kalau aktivitas malam juga sama, mereka per shift datang langsung bergerombolan, ramai sih ya," ungkap Tono.
Mayoritas Pekerja dari China dan Vietnam
Menurut Tono, mayoritas pekerja berasal dari China dan Vietnam. Namun, ia juga melihat ada sejumlah WNA dari negara lain yang turut bekerja di lokasi tersebut.
"Untuk semua karyawannya itu, semuanya WNA. Termasuk yang lebih spesifiknya itu dari China sama Vietnam yang kita tahu ya. Tapi ternyata ada beberapa juga dari negara lain," ucap Tono.
Menurut dia, aktivitas di perkantoran semakin ramai saat malam hari. Bahkan, akses parkir gedung dibuka selama 24 jam untuk mengakomodasi mobilitas para pekerja.
"Malam itu kalau paling ramai-ramainya kadang jam 10 itu sudah ramai datang per shift, tapi lebih ramai lagi jam 12 malam. Sampai-sampai kita itu akses untuk parkir dibuka 24 jam khusus untuk pekerja itu," terang Tono.
Akui Sudah Lama Curiga
Kendati sudah lama menaruh curiga terhadap aktivitas di lantai 20-21 gedung tersebut, Tono mengaku tidak pernah mendapat penjelasan pasti terkait kegiatan operasional tenant misterius itu.
"Sebenarnya sih kita juga sudah curiga sudah lama ya. Kita juga sudah tanya-tanya, kegiatannya apa sih di lantai itu? Tapi kita nggak pernah nemu jawaban juga. Makanya pas tahu kejadian seperti ini, kaget juga," ucap dia.
Ia juga menyebut sempat ada upaya pelaporan ke pihak kepolisian melalui layanan darurat 110 yang dilakukan rekannya karena merasa aktivitas di lokasi tersebut mencurigakan.
"Kalau untuk warga kita kurang tahu ya, tapi kemarin sempat ada teman saya yang iseng, ibaratnya iseng telepon ke 110 untuk mencoba pelaporan gitu kan. Tapi itu teman saya yang melakukan, saya juga baru tahu sekarang," jelas Tono.