Kisah Mama Tima Menyulam Hidup di Gubuk Reyot

“Kalau hujan dan angin kencang datang, Saya takut rumah ini roboh”

Diterbitkan 17 Juni 2026, 06:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Roda pembangunan melaju cepat di berbagai penjuru negeri. Impian memiliki tempat tinggal yang layak dan aman terasa begitu sederhana bagi sebagian orang. Salah satunya Maria Fatima atau yang akrab disapa Mama Tima.

Kenyataan pahit masih membekas di sebuah sudut sunyi Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sanalah Mama Tima harus menjalani masa tuanya. Hari-harinya dihabiskan di balik dinding bambu yang sudah lapuk dimakan waktu.

Selama puluhan tahun, bangunan itu telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Usia rumah itu terasa semakin tua dan rapuh. Dinding dari anyaman bambu yang dulunya melindungi kini tampak bolong-bolong di sana-sini, tak lagi sanggup menahan hembusan angin kencang saat musim barat tiba.

Apalagi menahan derasnya air hujan yang dengan mudah masuk melalui sela-sela dinding bambu. Membasahi lantai dan perabotan sederhana miliknya. Tiang-tiang penyangga yang semula tegak kokoh, kini terlihat miring dan melengkung. Seolah ingin menyampaikan keluhan bahwa tenaganya sudah habis.

Bagi Mama Tima, tidur lelap hingga pagi adalah sebuah kemewahan yang jarang dirasakan. Setiap kali langit mulai gelap dan angin bertiup kencang, hati wanita lanjut usia itu selalu berdegup kencang. Perasaannya diliputi rasa cemas.

Dia terpaksa terjaga. Sambil mendengarkan suara gesekan dinding bambu dan derit tiang penyangga. Matanya yang sudah dimakan usia dipaksa waspada jika sewaktu-waktu bangunan itu rubuh menimpanya.

“Kalau hujan deras dan angin kencang datang, saya duduk saja tak berani tidur. Takut sekali rumah ini roboh menimpa saya sendirian,” ucapnya lirih.

Kerikil dalam Hidup Mama Tima

Hidup Mama Tima memang tidak mudah. Penuh kerikil tajam. Sejak ditinggal pergi sang suami belasan tahun silam, dia hidup sebatang kara hanya ditemani seorang cucunya. Keempat anaknya terpaksa merantau ke daerah lain demi mencari nafkah. Mengingat lapangan pekerjaan di daerah ini sangat terbatas. Sulit diandalkan untuk bisa menghidupi keluarga.

Tanpa memiliki penghasilan tetap, kebutuhan makan, minum, dan obat-obatan sehari-hari pun sangat bergantung pada kebaikan hati tetangga dan sanak saudara yang sesekali datang menjenguk.

Keprihatinan itu turut dirasakan oleh warga sekitar. Susana, tetangga yang paling sering meluangkan waktu untuk membawakan makanan atau sekadar mengobrol, mengaku hatinya selalu terasa berat memandang kondisi itu.

“Usianya sudah tua, sudah waktunya beristirahat dengan tenang dan aman. Tapi apa daya, ia masih harus tinggal di rumah yang nyaris tak layak huni. Kalau malam cuaca buruk, kami pun ikut gelisah memikirkannya, takut terjadi apa-apa,” ungkap Susana dengan nada prihatin.

Hingga saat ini, Mama Tima masih terus berjuang bertahan di dalam gubuk tuanya itu. Dia bukan orang yang banyak menuntut. Satu-satunya harapan yang selalu dipanjatkan dalam doa adalah sederhana. Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak dermawan yang berhati mulia, sehingga ia bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak, kokoh, dan aman. 

Sebuah rumah yang bisa dijadikan tempatnya merebahkan tubuh tuanya dengan tenang. Tanpa lagi dihantui rasa takut setiap kali awan gelap mulai berkumpul di langit.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa di tengah upaya membangun daerah, tidak boleh terlupakan mereka yang paling membutuhkan tempat pulang yang layak.