Kronologi Pendaki Wanita Tersesat dan Kesurupan di Gunung Nepo

Tim SAR gabungan pun terpaksa harus turun tangan mengevakuasi para pendaki yang tersesat.

OlehFauzan
Diterbitkan 01 Juni 2026, 20:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pare-Pare- Seorang pendaki wanita bernama Sofia (19) diduga mengalami kesurupan setelah tersesat bersama 19 rekan pendaki lainnya saat turun dari Gunung Nepo, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 18.54 Wita. Tim SAR gabungan pun terpaksa harus turun tangan mengevakuasi para pendaki tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Parepare, Rasdi Gery, mengungkapkan pihaknya menerima laporan bahwa rombongan tidak dapat menemukan jalur turun, dan salah satu anggotanya mengalami kondisi tak wajar.

"Kami terima informasi dari salah satu pendaki gunung bahwa mereka tidak bisa tembus turun ke bawah gara-gara salah jalur. Salah satu teman mereka bernama Sofia terkena halusinasi. Istilah kami perhalus sebagai kesurupan," ujar Rasdi kepada wartawan, Senin (1/6/2026).

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, SAR Brimob, unit penyelamatan Damkar, dan PSJ kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pencarian.

"Kami bergerak naik ke atas pukul 21.05 Wita, dan pukul 21.45 Wita kita berhasil menemukan kondisi pendaki yang mengalami halu dan tidak tahu jalur turun," katanya.

Lebih jauh, Rusdi menjelaskan bahwa kondisi rombongan pendaki itu saat ditemukan cukup memprihatinkan. Mereka kelelahan akibat kehabisan bekal, terutama air minum.

"Kondisinya lemas. Ya, ini dipengaruhi oleh mereka kehabisan bekal mungkin, utamanya air. Jadi sempat mereka dehidrasi. Saat ditemukan itu, kami langsung bantu berikan asupan air," jelas Rasdi.

Ditandu hingga ke Posko Awal

Sofia yang mengalami kondisi paling parah hingga harus ditandu hingga ke posko awal.

"(Saat Sofia ditemukan) Posisinya baring, lemas, pucat, dan tidak bisa bicara. Makanya kita tandu turun sampai ke posko awal," tuturnya.

Sementara 19 pendaki lainnya berjalan mengiringi di belakang. Rombongan itu diketahui merupakan gabungan dari tiga kelompok berbeda.

"Ada tiga kelompok sebetulnya, kelompok dari Pinrang, kelompok dari Lappa Anging, dan kelompok gabungan siswa-siswi dari berbagai sekolah. Jumlahnya total 20 orang pendaki," paparnya.

Setibanya di posko awal, lanjut Rusdi, BPBD tidak langsung mengizinkan Sofia pulang dan memilih menunggu kedatangan orang tuanya untuk menjemput remaja 19 tahun itu.

"Saya tidak lepas untuk pulang, saya tunggu kedatangan orang tuanya. Nanti orang tuanya datang baru disarankan untuk tindakan lebih lanjut, entah dirawat di rumah sakit atau bagaimana kita serahkan kepada pihak keluarga," imbuhnya.

Mendaki Tanpa Logistik Cukup

Rasdi juga menyayangkan kondisi para pendaki yang naik tanpa persiapan matang hingga kehabisan logistik. Tim SAR sempat memerintahkan rombongan untuk menunggu di satu titik hingga personel tiba.

"Mereka sudah proses turun lalu tersesat. Di atas itu kan ada beberapa jalur untuk turun. Jadi, agar mereka tidak tersesat lebih jauh, kemarin mereka kita perintahkan untuk menunggu di titik itu (hingga tim SAR datang)," pungkasnya.

Atas insiden ini, Rasdi mengimbau para pendaki agar selalu melapor ke posko sebelum melakukan pendakian.

"Kami imbau, khususnya pada para pendaki yang ingin naik, seharusnya melaporkan diri dulu di posko ini agar bisa kami pantau. Kapan berangkatnya, jumlahnya berapa orang, bagaimana perbekalannya. Itu mereka sudah harus siap sebetulnya," tegasnya.