Liputan6.com, Jakarta - Empat kandang ternak milik Sakam di kawasan Sukamanah, Jonggol, Jawa Barat, tampak ramai siang itu. Dari balik pagar bambu, puluhan domba saling bersahutan mengeluarkan suara khasnya. Beberapa domba menjulurkan kepala ke sela-sela kandang, sementara yang lain bergerombol menunggu rumput segar datang.
Abah Sakam, begitu Sakam biasa disapa, membawa segenggam rumput dan dedaunan hijau ke sepanjang palungan. Begitu rumput ditebar, domba-domba itu berebut mendekat. Suara kunyahan berpadu dengan embikan yang terdengar dari berbagai sudut kandang.
Ukuran ternak di kandangnya pun beragam. Ada domba jantan bertubuh besar dengan dada bidang dan bulu tebal yang menjulang hampir setinggi pinggang orang dewasa. Ada pula domba-domba yang masih remaja tampak lebih lincah.
Advertisement
Abah Sakam merupakan generasi penerus keluarga yang telah lama berkecimpung di dunia ternak. Sejak 1981, keluarganya sudah memelihara dan memperdagangkan hewan ternak.
“Ini usaha turunan dari bapak,” cerita Abah Sakam yang kini berusia 50 tahun kepada Liputan6.com, 16 Juni 2026.
Domba dan sapi menjadi pilihan utama yang hingga kini dipertahankan. Bagi Abah Sakam, dunia peternakan sudah melekat dalam kesehariannya. Dia mengaku tidak pernah terpikir untuk beralih ke bidang usaha lain.
Puluhan tahun menjalankan usaha, pasang surut tentu pernah datang. Namun, Abah Sakam bersyukur usahanya tetap bertahan hingga sekarang. Menurutnya, perkembangan usaha memang tidak selalu berjalan cepat.
Saat musim kurban tiba, aktivitas di kandangnya meningkat tajam. Pada Iduladha tahun ini, sekitar 200 ekor hewan ternak berhasil terjual. Pembeli tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Jonggol, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Bekasi, Tambun, hingga Pondok Gede.
Menariknya, banyak pelanggan mengenal usaha Abah Sakam melalui media sosial. Setahun terakhir, anak-anaknya mulai memanfaatkan Facebook sebagai sarana promosi.
“Orang-orang yang jauh tahunya dari Facebook,” kata Abah Sakam.
Promosi digital membuat jangkauan pasarnya semakin luas. Sebelumnya penjualan lebih banyak mengandalkan pasar hewan atau pembeli yang datang langsung karena rekomendasi dari mulut ke mulut, kini calon pembeli dapat melihat ketersediaan ternak hanya melalui unggahan di media sosial.
Di kandangnya, domba-domba yang dipersiapkan untuk kebutuhan kurban umumnya berusia lebih dari satu tahun. Usia tersebut menjadi salah satu syarat agar hewan memenuhi ketentuan untuk dijadikan hewan kurban.
Untuk menjaga kualitas ternak, Abah Sakam memberi pakan berupa rumput segar dan ampas tempe. Rumput diperoleh dengan mencari langsung di area persawahan sekitar, sedangkan ampas tempe dibeli dari daerah Cisaat dan sekitarnya.
Menurutnya, ampas tempe menjadi pakan favorit ternak. Saat diberikan ampas tempe, nafsu makan hewan cenderung meningkat dibandingkan ketika hanya diberi rumput.
“Kalau dikasih ampas tempe makannya lebih banyak,” tuturnya.
Fluktuasi Harga Ternak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472925/original/021148100_1782380812-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_15.55.09.jpeg)
Masa pandemi Covid-19 justru menjadi periode yang cukup baik bagi usaha Abah Sakam. Saat banyak sektor usaha menghadapi tekanan, penjualan ternak di kandangnya tetap berjalan. Bahkan menjelang Iduladha, jumlah hewan yang terjual meningkat tajam.
“Kalau hari-hari biasa paling dibawa ke pasar. Kadang ada yang datang beli satu atau dua ekor,” ujarnya.
Pola musiman itu juga memengaruhi harga ternak. Saat mendekati Hari Raya Kurban, harga domba dan kambing cenderung melonjak karena tingginya permintaan. Sebaliknya, setelah musim kurban berlalu, harga kembali menurun.
Abah Sakam mencontohkan seekor domba berukuran besar yang saat musim kurban bisa ditawar hingga Rp 5,5 juta. Namun setelah Iduladha, harga ternak dengan ukuran serupa biasanya hanya berada di kisaran Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam bisnis peternakan. Hewan kurban memang memiliki nilai jual tertinggi pada momen tertentu yang datang setahun sekali.
“Kalau selain Iduladha memang begitu. Harga yang bagus cuma pas musim kurban,” katanya.
Meski menghadapi fluktuasi harga, Abah Sakam mengaku tidak memiliki kendala berarti dalam menjalankan usahanya. Menjaga kualitas dan kesehatan ternak jauh lebih penting agar pembeli tetap percaya.
Perawatan hewan dilakukan secara rutin. Setiap dua bulan sekali, petugas kesehatan hewan datang ke kandangnya untuk memeriksa sekaligus memberikan suntikan kepada ternak. Langkah itu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit dan menjaga kondisi hewan tetap prima.
Biaya pemeriksaan pun relatif terjangkau. Untuk satu ekor ternak, biaya suntik sekitar Rp 25 ribu. Dalam sekali kunjungan, jumlah hewan yang mendapat perawatan tidak selalu banyak. Biasanya hanya sekitar 20 hingga 30 ekor yang membutuhkan penanganan.
Advertisement
Kembangkan Usaha dengan KUR BRI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472926/original/035872600_1782380812-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_15.55.09__1_.jpeg)
Menjelang Iduladha tahun ini, Abah Sakam mengambil langkah yang belum pernah dilakukannya selama puluhan tahun berusaha. Untuk pertama kalinya, dia mengajukan pinjaman modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
Keputusan itu diambil karena kebutuhan modal yang semakin besar saat permintaan hewan kurban meningkat. Setelah bertahun-tahun mengandalkan modal sendiri, Abah Sakam merasa perlu tambahan dana agar bisa membeli lebih banyak ternak untuk dijual kembali.
“Baru pertama kali saya ambil pinjaman karena kekurangan modal,” ujarnya.
Dari KUR BRI, Abah Sakam memperoleh pinjaman sebesar Rp 50 juta dengan tenor dua tahun. Seluruh dana tersebut digunakan untuk menambah stok ternak, terutama kambing dan domba yang menjadi komoditas utama usahanya.
Hewan-hewan itu dibeli dari berbagai daerah di sekitar Jawa Barat. Selain dari Jonggol, dia juga kerap mendatangkan ternak dari Cianjur maupun wilayah pedesaan lain yang memiliki pasokan hewan berkualitas. Tidak jarang para peternak atau pedagang datang langsung menawarkan ternak kepadanya.
Berbeda dengan peternak yang membesarkan hewan dalam jangka panjang, sebagian usaha Abah Sakam bergerak pada perdagangan ternak. Hewan yang dibeli kemudian dibawa ke pasar untuk dijual kembali.
“Kalau sudah belanja, nanti dibawa ke pasar,” katanya.
Pasar hewan Jonggol menjadi tujuan utama. Dua kali dalam sepekan, setiap Senin dan Kamis, Abah Sakam membawa ternaknya ke sana. Dalam sekali perjalanan, jumlah hewan yang dibawa bisa mencapai sekitar 20 ekor. Namun, hasil penjualan tidak selalu sama.
“Kadang habis, kadang tidak. Namanya juga jualan,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Abah Sakam, ritme penjualan saat ini berbeda dengan periode menjelang Iduladha. Pada musim kurban, permintaan melonjak tajam sehingga dalam sehari dia bisa menjual 10 hingga 15 ekor ternak. Kondisi tersebut menjadi puncak penjualan yang paling dinantikan setiap tahun.
Setelah musim kurban berakhir, aktivitas kembali berjalan normal. Penjualan lebih banyak mengandalkan pasar hewan yang hanya buka pada hari-hari tertentu. Meski tidak seramai saat Iduladha, roda usaha tetap berputar dan transaksi terus berlangsung.
Pekerjakan Kerabat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472927/original/050511600_1782380812-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_15.55.10__1_.jpeg)
Usaha peternakan yang dijalankan Abah Sakam membuka lapangan pekerjaan bagi kerabat di sekitarnya. Dalam menjalankan usaha ternak domba, kambing, dan sapi, dia dibantu oleh empat orang pekerja yang seluruhnya masih memiliki hubungan saudara.
Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Ada yang bertanggung jawab mencari rumput untuk pakan ternak, ada yang membantu proses jual beli hewan, hingga mengurus kebutuhan kandang sehari-hari.
Dari usaha tersebut, Abah Sakam mampu menyekolahkan keempat anaknya hingga membangun rumah untuk keluarga. Sedikit demi sedikit, hasil usaha juga digunakan untuk membeli tanah sebagai bentuk investasi jangka panjang.
“Alhamdulillah bisa menyekolahkan anak, bangun rumah, dan sedikit-sedikit beli tanah,” katanya.
Di balik aktivitas jual beli ternak yang berlangsung di kandang Abah Sakam, ada peran Heru Hairudin, rekan usaha sekaligus partnernya di pasar hewan Jonggol.
Heru bertugas membantu mencari dan membeli ternak dari berbagai daerah. Hewan-hewan tersebut diperoleh langsung dari peternak desa yang tersebar di wilayah Bogor dan sekitarnya, terutama kawasan Sukamakmur. Dari tangan para peternak itulah stok domba, kambing, hingga sapi kemudian dikumpulkan sebelum dipasarkan kembali.
“Kalau cari barang, kebanyakan dari petani atau peternak desa. Yang paling banyak dari daerah Bogor dan Sukamakmur,” ujar Heru.
Sebagian besar transaksi dilakukan di Pasar Hewan Jonggol. Namun seiring waktu, jaringan pelanggan yang dimiliki Abah Sakam dan Heru terus bertambah. Pembeli tidak hanya datang untuk kebutuhan kurban, tetapi juga untuk berbagai keperluan lain seperti akikah maupun pengembangan usaha peternakan.
Jangkauan pembelinya pun cukup luas. Selain wilayah Bogor dan Jonggol, pelanggan datang dari berbagai daerah di Jabodetabek, mulai dari Depok hingga Tangerang.
“Pokoknya hampir seluruh Jabodetabek,” kata Heru.
Advertisement
BRI Perkuat Dukungan untuk UMKM
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4368697/original/043488200_1679551242-IMG-20230323-WA0004.jpg)
BRI terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Sampai akhir triwulan I 2026, total kredit dan pembiayaan yang disalurkan perseroan mencapai Rp 1.562 triliun, meningkat 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa UMKM masih menjadi fokus utama dalam penyaluran pembiayaan perusahaan. Dari total kredit yang disalurkan, sebesar Rp 1.211 triliun mengalir ke segmen UMKM.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).
Dalam paparan kinerja keuangan triwulan I 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI pada 30 April 2026, Hery menegaskan bahwa pembiayaan kepada UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis perseroan.
BRI juga mempertahankan posisinya sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Tanah Air. Selama periode Januari hingga Maret 2026, perseroan telah menyalurkan KUR senilai Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu debitur.
Dari berbagai sektor usaha yang menerima pembiayaan, sektor pertanian menjadi penyerap KUR terbesar. Nilai penyalurannya mencapai Rp 19,86 triliun atau setara dengan 42,16 persen dari total KUR yang telah disalurkan.
Menurut Hery, capaian tersebut mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI sekaligus peran strategis perseroan dalam mendorong kegiatan ekonomi produktif di berbagai daerah. Penyaluran pembiayaan itu juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas usaha pelaku UMKM serta pembukaan lapangan kerja.
Tidak hanya menyediakan akses permodalan, BRI juga terus mengembangkan berbagai program pendampingan dan pemberdayaan. Upaya tersebut dilakukan agar pelaku UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan daya saing dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3226358/original/037478600_1599037074-20200901-BPS-Lakukan-Sensus-Penduduk-Secara-Tatap-Muka-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472924/original/006122200_1782380812-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_15.55.10.jpeg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458112/original/030524500_1782356891-000_B88U3NH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)