Pimpinan MPR soal Anggaran Pendidikan 2027: Harus Berdampak bagi Siswa

Setiap rupiah yang dialokasikan melalui APBN harus memberikan manfaat yang jelas bagi rakyat.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 05:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong pembahasan anggaran pendidikan dalam Rancangan APBN 2027 berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurut dia, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia sehingga keberhasilan anggaran pendidikan perlu diukur dari dampaknya terhadap peserta didik, guru, sekolah, serta pemerataan kesempatan pendidikan.

“Ukuran keberhasilan anggaran bukan hanya berapa banyak yang dibelanjakan, tetapi berapa banyak masa depan anak yang berhasil kita ubah,” kata Ibas seperti dilansir Antara, Kamis (20/8).

Dia mengatakan setiap rupiah yang dialokasikan melalui APBN harus memberikan manfaat yang jelas bagi rakyat. Dalam sektor pendidikan, ukuran keberhasilan anggaran tidak cukup hanya dilihat dari tingkat serapan anggaran.

“Pertanyaannya sederhana: apakah anak belajar lebih baik, apakah guru lebih kuat, apakah sekolah lebih aman, dan apakah anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama?” ucapnya.

Ibas mengapresiasi langkah pemerintah menjadikan pendidikan sebagai prioritas anggaran, termasuk lewat program revitalisasi sekolah. Namun, dia mengingatkan revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah.

Sekolah berkualitas, imbuh dia, juga membutuhkan guru dan kepala sekolah yang kompeten, kurikulum yang relevan, penguatan literasi dan numerasi, pemanfaatan teknologi, serta lingkungan belajar yang aman.

 

 

Revitalisasi Sekolah

Selain itu, dia mendorong agar revitalisasi sekolah dilakukan berbasis data sehingga intervensi pemerintah dapat diprioritaskan kepada daerah dan satuan pendidikan yang paling membutuhkan.

Dia pun menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan guru yang harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi. Menurut dia, guru harus menjadi investasi sekaligus penggerak utama peningkatan kualitas pembelajaran.

Di samping itu, Ibas mengatakan sistem pendidikan perlu mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial.

Dia menilai pendidikan tidak cukup mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga harus memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan etika agar Indonesia mampu mencetak inovator serta pencipta lapangan kerja.

“Kita tidak ingin generasi Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi. Kita ingin mereka menjadi pencipta teknologi. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan,” ucapnya.

APBN, Ibas menambahkan, harus dipandang sebagai alat perjuangan untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat. Karena itu, pembahasan Rancangan APBN 2027, khususnya pendidikan, harus memastikan setiap kebijakan dan anggaran memiliki dampak yang terukur.

“APBN bukan sekadar angka. APBN adalah alat perjuangan untuk melindungi rakyat, memperkuat bangsa, dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik,” katanya.