Pramono Siapkan 3 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Jakarta

Langkah ini disiapkan menyusul produksi sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton setiap hari.

Diterbitkan 03 November 2026, 13:02 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana membangun dua hingga tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengatasi persoalan sampah di ibu kota. Langkah ini disiapkan menyusul produksi sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton setiap hari.

“Mudah-mudahan di Jakarta akan ada dua pembangkit listrik tenaga sampah atau tiga yang segera dibangun dalam waktu dekat ini,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Ia menyebut bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah akan mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 yang telah diterbitkan Presiden Prabowo Subianto.

“Karena kita ketahui bersama, Jakarta setiap hari memproduksi sampahnya 9.000 ton, tetapi kita segera akan membangun atas Perpres yang sudah dikeluarkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia 109,” ucap dia.

Menurut dia, PLTSa yang direncanakan memiliki kebutuhan kapasitas pengolahan sekitar 7.000 ton sampah. Keberadaan fasilitas itu diharapkan dapat membantu menyeimbangkan neraca sampah Jakarta.

Meski begitu, dia menegaskan pengolahan sampah Jakarta nantinya tidak akan hanya mengandalkan PLTSa. Pemprov DKI, kata Pramono juga masih mengoperasikan Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan dan menggencarkan sejumlah program pemilahan sampah.

Selain itu, pemerintah daerah turut mendorong penerapan TPR 3S sebagai bagian dari upaya mengurangi dan mengelola timbulan sampah di Jakarta.

“Kemudian kita masih ada RDF Rorotan dan beberapa kegiatan pilah sampah dan juga TPR 3S yang sedang kita galakkan dan mudah-mudahan ini persoalan sampah di Jakarta segera bisa diselesaikan,” katanya.

Kurangi Kiriman Sampah ke Bantargebang

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pengurangan volume sampah yang dikirim dari Jakarta ke Bantargebang. Ia berharap neraca sampah ibu kota dapat mencapai kondisi seimbang atau bahkan negatif pada 2028–2029.

Untuk mencapai target tersebut, Pramono menyebut Pemprov DKI Jakarta akan meningkatkan pengolahan sampah melalui tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R), fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, serta pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.

“Mudah-mudahan di tahun 2028-2029 paling akhir, neraca sampah di Jakarta sudah bisa imbanglah minimal, atau bahkan mungkin sudah mulai negatif,” kata Pramono di Jakarta, dikutip Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, saat ini sampah yang masuk ke TPST Bantargebang diperkirakan sekitar 4.000 ton per hari. Jumlah tersebut berkurang karena sebagian sampah Jakarta kini diolah melalui TPS 3R dan RDF Rorotan.

“Tetapi yang terutama adalah sekarang ini di Bantargebang sendiri mungkin sekitar 4.000-an yang kalau dulu kan semuanya bawa ke Bantargebang,” ucap Pramono.

Dia berujar bahwa sejak penerbitan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, jumlah fasilitas TPS 3R telah mencapai hampir 31 titik.

“Dulu kita tidak mengembangkan yang disebut dengan TPS 3R secara masif. Sekarang ini TPS 3R yang dulu produksinya katakanlah hanya 10 ton, sekarang rata-rata bisa 50 ton dan sebagainya,” kata Pramono.