2 Peneliti Indonesia Raih Indroyono Soesilo Award 2026 di Konferensi Penginderaan Jauh Asia

Dua peneliti dan praktisi penginderaan jauh asal Indonesia meraih Indroyono Soesilo Award 2026 di New Delhi, India.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 18:21 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prestasi membanggakan ditorehkan peneliti Indonesia di panggung internasional. Dua peneliti dan praktisi penginderaan jauh asal Indonesia meraih Indroyono Soesilo Award 2026 dalam penutupan The 47th Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) di New Delhi, India, Jumat (16/10/2026).

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi dan kontribusi di bidang penginderaan jauh atau remote sensing. Dari empat penerima penghargaan tahun ini, dua berasal dari Indonesia, sementara dua lainnya masing-masing berasal dari Jepang dan India.

Penghargaan utama diraih Yustinus Seno dari Auriga Nusantara Corp. melalui penelitian bertajuk MapBiomas Indonesia: Annual Wall-to-Wall Mapping of Forest Ecosystems in Indonesia (1990–2024). Penelitian ini memanfaatkan data satelit Landsat selama lebih dari tiga dekade, komputasi awan, serta teknologi pembelajaran mesin untuk memantau perubahan ekosistem hutan di Indonesia.

Sementara itu, Serliah Nur meraih penghargaan Honorable Mention melalui penelitian mengenai pemetaan vitalitas bahasa dan perencanaan revitalisasi bahasa di Tana Luwu, Sulawesi Selatan. Penelitiannya mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan analisis sosiolinguistik untuk mendukung pelestarian bahasa daerah.

Dua penghargaan lainnya diberikan kepada Serenee Osman dari Nakanihon Air Co Ltd, Jepang, yang meraih Technical Excellence atas pemanfaatan LiDAR udara, citra satelit, dan survei batimetri untuk menilai perubahan bentang alam akibat gempa Semenanjung Noto pada 2024. Adapun penghargaan Special Recognition diberikan kepada Ankitha Reddy dari National Remote Sensing Centre (NRSC), Indian Space Research Organisation (ISRO), India, atas platform Bhoonidhi yang memperluas akses terhadap data pengamatan Bumi.

Indroyono Soesilo Award diabadikan untuk menghormati Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, seorang ahli penginderaan jauh senior yang dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi tersebut di Indonesia sekaligus salah satu pendiri Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN). Saat ini, Indroyono menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat.

Konferensi ACRS 2026 berlangsung pada 12–16 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Remote Sensing for Future Earth: Innovation, Inclusion & Impact”. Forum internasional ini mempertemukan sekitar 800 peserta dari lebih dari 30 negara, yang terdiri atas ilmuwan, perwakilan lembaga antariksa, akademisi, universitas, hingga pelaku industri geospasial.

Penginderaan jauh kini berkembang jauh melampaui fungsi pemotretan permukaan Bumi melalui satelit. Teknologi ini menjadi instrumen penting untuk memantau kondisi hutan, lahan pertanian, banjir, kekeringan, gempa bumi, perubahan garis pantai, serta berbagai dinamika lingkungan lainnya.

Dalam konferensi tersebut, pembahasan mencakup delapan jalur utama, termasuk pertanian berkelanjutan, kecerdasan buatan geospasial (Geospatial Artificial Intelligence/GeoAI), sensor satelit dan drone, Global Navigation Satellite System (GNSS), mitigasi bencana, serta pemanfaatan data untuk mendukung kebijakan publik.

ACRS 2026 diselenggarakan bersama oleh Asian Association on Remote Sensing, Indian Society of Remote Sensing, dan Indian Society of Geomatics. Kegiatan ini turut didukung sejumlah lembaga, di antaranya ISRO dan NRSC dari India, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dari Jepang, serta Kementerian Kebumian India dan berbagai lembaga penelitian maupun perusahaan teknologi.

Bagi Indonesia, forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kerja sama riset, pertukaran data pengamatan Bumi, serta pengembangan inovasi teknologi geospasial. Dengan wilayah kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17.500 pulau, Indonesia membutuhkan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam, perlindungan hutan, pengawasan wilayah pesisir, perikanan, pertanian, hingga penanganan bencana.

Prestasi dua peneliti Indonesia dalam Indroyono Soesilo Award 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dapat memberikan kontribusi nyata, tidak hanya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, data yang diperoleh dari langit akan memiliki arti penting ketika diolah menjadi pengetahuan dan diterjemahkan menjadi kebijakan serta tindakan nyata untuk melindungi manusia dan Bumi.