Prabowo Hadiri Hari Kedua KTT BRICS, Kenakan Baju Khas Melayu

Prabowo tampak mengenakan baju khas Melayu berwarna abu-abu serta peci hitam.

Diterbitkan 13 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 hari kedua yang digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, Minggu (13/9/2026). Agenda KTT hari kedua yakni sesi terbuka dengan anggota BRICS, Partner Countries and Outreach Countries.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com dari YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo tampak hadir di lokasi KTT BRICS pada pukul 12.15 WIB. Prabowo tampak mengenakan baju khas Melayu berwarna abu-abu serta peci hitam.

Prabowo dan para pemimpin negara anggota BRICS lalu melakukan sesi foto bersama. Prabowo berdiri di barisan depan, tepatnya di antara Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev.

Prabowo tampak berbincang dengan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi selaku tuan rumah KTT BRICS 2026, usai sesi foto berakhir. Prabowo juga terlihat bersalaman dengan Presiden China Xi Jinping.

Selanjutnya, Prabowo dan para pemimpin negara anggota BRICS memasuki ruangan KTT untuk memulai pembahasan sesi terbuka. Adapun PM Modi menyampaikan pidato pembuka dalam KTT BRICS.

Dalam KTT BRICS ini, turut hadir Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, hingga Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.

 

Tantangan Global

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto membawa semangat persatuan bangsa-bangsa dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu, 12 September 2026.

Di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS, Prabowo mengangkat pepatah Indonesia untuk menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan global.

"Ada pepatah lama di Indonesia, ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’," kata Prabowo sebagaimana dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Minggu (13/9/2026).

Dia menyebut pepatah tersebut bukan sekadar ungkapan tentang persatuan. Pesan itu mencerminkan semangat yang sejak puluhan tahun lalu telah menyatukan negara-negara Asia dan Afrika dalam perjuangan untuk berdiri sejajar, menentukan masa depannya sendiri, serta memperjuangkan kepentingan bersama.

"Kearifan sederhana ini mencerminkan semangat yang menyatukan negara-negara Global Selatan, negara-negara dari Asia dan Afrika, beberapa dekade lalu di Bandung," ujarnya.

Menurut dia, Spirit Bandung tetap relevan di tengah tatanan dunia saat ini. Negara-negara Global South yang memiliki pengalaman sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan dari imperialisme dan kolonialisme kini hadir bersama sebagai bangsa-bangsa yang setara.

"Kami di Global South kini merasa suara kami didengar. Negara-negara yang baru saja meraih kemerdekaan, yang telah melawan imperialisme dan kolonialisme, kini bersatu sebagai negara yang setara," jelas Prabowo.

Prabowo menegaskan bahwa persatuan memberikan kekuatan lebih besar bagi negara-negara Global South untuk menyuarakan kepentingannya. Dengan berdiri bersama, suara mereka dapat menjangkau lebih jauh sekaligus memperkuat kemampuan untuk menjaga dan memperjuangkan kepentingan masing-masing negara.

"Kami memahami bahwa dengan bersatu, suara kita akan lebih terdengar. Kepentingan kita dapat lebih terlindungi dan dimajukan. Pelajaran ini tetap sangat penting," tutur Prabowo.

Â