Operasi Udara dan Darat Demi Padamkan Kebakaran Hutan

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas lahan gambut terus dilakukan secara masif dan terpadu.

Diterbitkan 13 September 2026, 09:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan kombinasi operasi modifikasi cuaca (OMC), operasi darat, dan operasi udara menjadi strategi utama menghadapi kejadian karhutla pada puncak kemarau akibat El Nino.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas lahan gambut (Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan) terus dilakukan secara masif dan terpadu.

“Tahun 2026 ini prediksi BMKG El Nino kuat dan memang betul-betul terbukti. Luas lahan terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut meningkat,” ujarnya seperti dilansir Antara, Minggu (13/9).

Menurut Suharyanto, dengan mengukur efektivitas hasil, dari tiga metode pemadaman, OMC menempati peringkat pertama karena hujan mampu memadamkan area yang luas.

Operasi darat menempati peringkat kedua, terutama untuk lahan gambut yang api di bawah tanahnya sulit dipadamkan. Water bombing berada di urutan ketiga karena kapasitas angkut air terbatas, sekitar 4 ton per sorti.

“Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko,” ujarnya.

Ia pun menekankan, lahan gambut membutuhkan penanganan khusus. Api di permukaan, kata dia, bisa terlihat padam, tetapi bara di kedalaman gambut masih membara.

Karena itu, BNPB juga menggunakan alat suntik gambut untuk memasukkan air hingga kedalaman 1–2 meter.

“Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut,” kata Suharyanto.

Menurut dia, dari tiga provinsi di Kalimantan yang terdampak karhutla, Kalimantan Selatan relatif lebih ringan.

“Hari ini hanya memadamkan lahan kurang lebih 36 hektare. Tapi besok belum tentu segitu karena besok ada patroli lagi, siapa tahu ada titik api baru atau titik lama hidup lagi,” ujar Suharyanto.

 

Arahan Presiden dan Wapres

Kepala BNPB juga menegaskan arahan Presiden dan Wakil Presiden agar OMC dimaksimalkan, sekecil apa pun potensi awan hujan. Arahan itu termasuk di daerah yang tidak terjadi kebakaran di Kalimantan dan Sumatra.

Ia menyebutkan contohnya ialah Banjarmasin. Meski tidak ada kebakaran, BMKG menyebut ada potensi hujan, sehingga OMC dilakukan untuk mengamankan kota dari paparan asap kabupaten lain.

Secara nasional, berdasarkan data BNPB per 8 September 2026, total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare.

Hingga 6 September 2026, dari total 72.009,10 hektare lahan gambut yang terbakar, ia mengatakan sebanyak 939,45 hektare masih dalam proses pemadaman intensif.