Qodari Sebut 95% Ojol Tak Terdampak Kenaikan Pertamax

Dia menyebut, ojol yang menggunakan Pertamax hanya sekitar 5 persen.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 17:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) RI Muhammad Qodari mengajak masyarakat mendukung kebijakan penggunaan BBM yang lebih tepat sasaran. Menurut dia, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax tidak semestinya disamakan dengan BBM bersubsidi yang digunakan mayoritas masyarakat.

Qodari mencontohkan para pengemudi ojek online (ojol) yang selama ini mayoritas menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite. Karena itu, dia menilai sebagian besar pengemudi ojol tidak terdampak langsung oleh penyesuaian harga Pertamax.

"Dari data riset yang saya baca, ojol yang menggunakan Pertamax itu hanya sekitar 5 persen. Artinya, 95 persen lainnya seharusnya tidak terpengaruh karena memang menggunakan Pertalite," ujar Qodari, ditulis Kamis (18/6/2026).

Dia menjelaskan, penyesuaian harga Pertamax lebih banyak berdampak pada pengguna kendaraan yang masuk kategori masyarakat mampu. Menurutnya, BBM nonsubsidi memang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang memiliki daya beli lebih tinggi.

"Kalau kita bicara Pertamax, kan identik dengan mobil-mobil mewah, mobil-mobil bagus. Tapi kalau angkutan umum maupun mobil dengan kapasitas mesin rendah, umumnya menggunakan Pertalite yang disubsidi. Dan subsidi itu masih dipertahankan sampai sekarang, tidak ada kenaikan," katanya.

Arahkan BBM Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Qodari mengingatkan agar dukungan terhadap kelompok masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM dilakukan secara tepat sasaran. Menurut dia, perlu dibedakan antara pengguna BBM bersubsidi dan pengguna BBM nonsubsidi.

"Jangan sampai pembelaan atau dukungan ini salah sasaran. Jangan sampai mendukung yang punya mobil mewah," ujar Qodari.

Dia menegaskan, pemerintah selama ini membedakan kebijakan BBM berdasarkan kemampuan ekonomi masyarakat. BBM bersubsidi diberikan untuk membantu kelompok masyarakat kurang mampu dan sektor-sektor yang membutuhkan dukungan negara, sedangkan BBM nonsubsidi mengikuti harga keekonomian.

"Kita tahu BBM itu ada dua kategori. Ada yang disubsidi memang untuk kalangan yang tidak mampu atau kurang mampu. Tetapi Pertamax ini untuk kalangan yang mampu," lanjutnya.

Meski demikian, Qodari mengakui kenaikan harga Pertamax tetap memberikan dampak kepada para penggunanya. Namun, menurutnya, kelompok masyarakat yang menggunakan BBM nonsubsidi umumnya memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik sehingga memiliki ruang untuk menyesuaikan pengeluaran mereka.

"Memang pasti ada pengaruhnya. Tetapi karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik, mereka juga memiliki ruang untuk melakukan berbagai penyesuaian," ujar Qodari.