Pentingnya Puskesmas Pembantu untuk RW Kumuh di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya keberadaan puskesmas pembantu di lingkungan RW kumuh.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 10:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya keberadaan puskesmas pembantu untuk mengatasi persoalan kesehatan di wilayah RW kumuh ibu kota.

“Puskesmas-puskesmas pembantu seperti inilah yang juga nanti akan berperan serta untuk lebih menurunkan lagi persoalan yang ada di RW kumuh di Jakarta, karena saya ingin Jakarta semakin baik, semakin bersih,” tutur Pramono di Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II, Senin (18/5/2026), seperti dilansir dari Antara.

Diketahui, terdapat 11 kriteria untuk menentukan status kumuh pada tingkat RT yang kemudian diagregasi di tingkat RW. Kriteria tersebut meliputi kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, konstruksi bangunan tempat tinggal, kondisi ventilasi dan pencahayaan rumah, hingga ketersediaan tempat buang air besar.

Selain itu, penilaian juga mencakup cara membuang sampah, frekuensi pengangkutan sampah, kondisi saluran air, keadaan jalan lingkungan, penerangan jalan umum, serta tata letak bangunan.

Dengan kondisi tersebut, keberadaan puskesmas pembantu dinilai dapat membantu menangani berbagai persoalan kesehatan yang kerap dialami warga di kawasan RW kumuh.

 

RW Kumuh Berkurang

Sebelumnya, Pramono mengungkapkan jumlah Rukun Warga (RW) kategori kumuh di Jakarta mengalami penurunan. Berdasarkan pendataan terbaru yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik, jumlah RW kumuh di Jakarta kini tercatat sebanyak 211 RW, turun dari 445 RW pada 2017.

Pramono pun menginstruksikan jajarannya untuk memperdalam hasil pendataan tersebut guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta.

"Walaupun nanti ada 1.900 yang sebelumnya dianggap sudah tidak kumuh, tetapi saya juga setuju untuk lebih diperdalam. Jadi, ada penurunan RW kumuh dari 445 di tahun 2017 menjadi 211 di tahun ini. Penurunannya kurang lebih 52,58 persen," kata Pramono.