Ribuan Cangkir Kopi, Suguh Gupuh Lungguh yang Hangatkan Kemiren

Ribuan cangkir kopi disajikan gratis.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 08 November 2026, 09:58 WIB
Meriahnya festival Sepuluh Ewu kop di Desa adat Using Kemiren, Banyuwangi (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Suguh, gupuh, lungguh. Tiga kata ini menjadi filosofi masyarakat Suku Using dalam menyambut tamu. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun tersebut kembali dihidupkan melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Sabtu malam (7/11/2026).

Memasuki tahun ke-13 sejak pertama digelar pada 2014, festival ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti wisatawan. Ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama desa dan disambut hangat oleh warga di halaman setiap rumah.

Ribuan cangkir kopi disajikan gratis. Pengunjung juga bisa menikmati aneka kudapan tradisional Using, seperti kucur, tape ketan berbungkus daun kemiri, hingga pisang goreng. Keramahan warga Using Kemiren itu menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan asing.

Jay, wisatawan asal Kanada, mengaku senang dengan sambutan masyarakat Kemiren dan cita rasa kopi yang disajikan.

“Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak,” kata Jay.

Hal serupa dirasakan Sarah, wisatawan asal Spanyol, yang antusias karena bisa berinteraksi langsung dengan warga. Sementara Kazuki Yoshida, wisatawan asal Jepang, mengaku terkesan dengan beragam kuliner Banyuwangi yang dicicipinya.

"Saya senang sangat luar biasa," kata Kazuki Yoshida sembari menyeruput kopi khas suku Using.

Simbol Persaudaraan

Meriahnya festival Sepuluh Ewu kop di Desa adat Using Kemiren, Banyuwangi (Istimewa)

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, tradisi minum kopi masyarakat Using bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol persaudaraan. Hal itu tercermin dalam semboyan Sak Corot Dadi Sakduluran, yang berarti sekali seduh menjadi saudara.

“Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat iklas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan,” ujar Ipuk.

Ipuk mengapresiasi masyarakat Kemiren yang konsisten menjaga tradisi leluhur hingga desa tersebut dikenal luas sebagai desa adat wisata. Pemkab, lanjutnya, akan terus mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan Desa Kemiren.

Kepala Desa Kemiren Muhammad Arifin mengatakan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar menyajikan ribuan cangkir kopi, melainkan menggambarkan karakter masyarakat Osing yang menjunjung tinggi keramahan dalam menerima tamu.

“Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu,” ungkap Arifin.

Dia menjelaskan, suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman. Gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman.

“Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya